Bola & Sports
31 Mei 2020 15:52

Ivan de la Pena: Alumnus Barcelona, 'Musuh' Pelatih asal Belanda

Ivan De La Pena saat berseragam Barcelona. Foto: Tobias Heyer/Bongarts/Getty Images

Karier Ivan de la Pena di Barcelona tak semengkilat kepala plontosnya. Digadang-gadang bakal menjadi tandem sejati Pep Guardiola di lini tengah, dia malah terpental dari skuat Blaugrana.

Musim 1995/96 adalah musim perdana si alumnus La Masia membela tim utama klub kebanggaan Camp Nou. Tak tanggung-tanggung, dia memainkan 42 laga dan mencetak sembilan gol di lintas ajang pada musim itu.

Meski begitu, De la Pena sulit membuat Johan Cruyff terkesima. Andai pelatih legendaris asal Belanda itu masih bertahan semusim lagi di Barcelona, dia mungkin bakal lebih sering berada di bangku cadangan, alih-alih di lapangan.

Namun, karena Barcelona dilatih oleh Bryan Robson pada musim selanjutnya, maka ceritanya jelas berbeda. Pria kelahiran Santander itu tetap rutin mengisi line up skuat utama Barcelona. Dia tetap bermain sebanyak 42 laga di lintas ajang, dengan jumlah gol yang lebih sedikit, yakni cuma tiga gol.

Read more!

Well, bukan masalah besar, sih. Lha wong, tipikalnya lebih ke defensif. Buktinya, De la Pena kembali dipilih oleh El Pais--media Spanyol--sebagai pemain muda terbaik. Ya, dia terpilih selama dua tahun beruntun (1996 dan 1997).

Akan tetapi, prestasi itu tetap tak bisa membuatnya kian berbinar di mata pelatih lain. Suksesor Robson, Louis van Gaal enggan menjadikan De la Pena kepingan penting dalam taktiknya. Lagi-lagi, dia tak menarik di mata pelatih asal 'Negeri Kincir Angin'.

Louis Van Gaal melatih Barcelona selama 1997-2000 dan 2002-2003. Foto: Jordan Mansfield/Getty Images

Khusus di era Cruyff, berdasarkan cerita yang dipaparkan Edd Norval dalam kolomnya di These Football Times, ada desas-desus yang menyatakan bahwa Cruyff khawatir De la Pena bisa melengserkan putranya, Jordi, dari skuat, tetapi itu tampaknya tak sepenuhnya benar.

Well, cerita itu memang sulit dikonfirmasi kebenarannya. Terlebih faktanya, Jordi punya gaya main yang agak berbeda dengan De la Pena. Pemain yang membela Barcelona selama 1994-1996 itu lebih cocok di pos gelandang serang.

Johan Cruyff ketika menjadi pelatih Barcelona. Foto: La Liga

Terlepas dari benar atau tidaknya isu nepotisme itu, satu hal yang diyakini sebagai musabab Cruyff tak sreg padanya adalah karena gayanya dinilai tak cocok dengan prinsip Totaalvoetball. Memang, 'Little Buddha' bagus secara individu, tetapi kurang 'klik' dengan taktik racikan Cruyff.

"Cruyff menuntut pemain yang haus penguasaan bola dan terbuka terhadap instruksi agar cocok dengan revolusinya di Barcelona dan De la Pena terlalu lamban dan puas diri," tulis Norval.

Hal lain yang membikin Cruyff kesal padanya adalah keengganan De la Pena untuk bermain dengan kaki kirinya. Secara keseluruhan, dia dianggap menciptakan jurang pemisah antara dirinya dan keseluruhan tim.

Di sisi lain, Van Gaal memang bukan pelatih yang 'gila' penguasaan bola seperti Cruyff maupun Guardiola di era kiwari. Namun tetap saja, dia sebelumnya melatih Ajax Amsterdam, sehingga pastinya sedikit-banyak berkiblat pada metode Cruyff.

Johan Cruyff telah memberi warisan besar pada sepak bola. Foto: JOSEP LAGO / AFP

Alhasil, De la Pena kurang terpakai oleh Van Gaal. Pada musim 1997/98, yang akhirnya jadi musim terakhirnya, dia cuma bermain 21 kali dan mencetak 2 gol di lintas ajang.

Kontribusinya selama membela El Barca adalah satu trofi La Liga, dua trofi Copa del Rey, satu trofi Piala Super Spanyol, satu trofi Piala Winners, dan satu Piala Super UEFA. Kenangan yang cukup manis.

De la Pena lalu bermain untuk Lazio, Marseille, dan sempat mampir kembali ke Barcelona sebagai pinjaman pada musim 2000/01. Meski memenangi Piala Super Italia dan Piala Winners bersama Biancocelesti, De la Pena bukanlah aktor utama kesuksesan mereka.

Dia lebih sering menghangatkan bangku cadangan Lazio, begitu juga dengan di Marseille, maupun kesempatan keduanya di Barcelona. Pada akhirnya, De la Pena justru melegenda bersama Espanyol.

Ivan De La Pen saat berseragam Espanyol dan Barcelona. Foto: PIERRE-PHILIPPE MARCOU / AFP & Tobias Heyer/Bongarts/Getty Images

Walau hanya menjuarai sekali Copa del Rey, kontribusinya tampil dalam 210 laga lintas ajang cukup menjadikannya layak sebagai legenda klub 'Anak Tiri Kota Barcelona' itu. Boleh jadi, namanya sejajar dengan legenda Espanyol lain macam Raul Tamudo atau Daniel Jarque.

Editor: Katondio Bayumitra Wedya

---

Ayo, ikutan Home of Premier League dan menangi 1 unit SmartTV dan 2 Jersi Original klub Liga Inggris. Buruan daftar di sini.

Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan