Bola & Sports
28 Mei 2020 13:54

Jadi, Apakah Ambisi Premier League dan La Liga karena Mata Duitan Semata?

Deschamps saat mendampingi Timnas Prancis di sebuah laga. Foto: Reuters/Benoit Tissier

Pernyataan pedas yang dikeluarkan pelatih Tim Nasional Prancis, Didier Deschamps, dilandasi ketidaknyamanan dirinya terhadap adanya aktivitas sepak bola di tengah krisis kesehatan seperti saat ini.

Deschamps berucap bahwa langkah Premier League dan La Liga, yang berupaya menggulirkan kembali kompetisinya yang tertunda, semata-mata hanya berlatar belakang ekonomi.

"Kehidupan kembali dimulai dengan banyak batasan di semua bidang. Dalam sepak bola, dimulainya kembali liga-liga tertentu jelas sebagai respons pada masalah ekonomi," kata Deschamps kepada Le Parisien.

"Lihatlah keputusan yang dibuat di Inggris dan Spanyol. Mereka berencana melanjutkan dua liga tertingginya, Premier League dan La Liga. Namun, mereka tak melanjutkan Liga Sepak Bola Wanita yang memberi pendapatan lebih sedikit. Ini sudah jelas menggambarkan semuanya," dirinya menambahkan.

Deschamps juga mendukung penuh langkah Ligue 1 yang memberhentikan kompetisi dan memberikan mahkota juara kepada Paris Saint Germain. Meski sebenarnya, langkah tersebut tidak semata-mata diterima semua tim konsestan. Buktinya, ada tim yang menuntut ganti rugi atas keputusan tersebut.

Bundesliga kembali bergulir tanpa penonton. Foto: Martin Meissner/Pool via REUTERS

Sementara di Jerman, langkah Bundesliga juga sebetulnya tidak didukung semua pihak. Seperti diketahui, kompetisi sepakbola ter-elite di Jerman tersebut sudah bergulir kembali dengan sederet protokol kesehatan yang ketat.

Banyak pihak yang mempertanyakan seberapa efektif protokol tersebut mampu mencegah penularan. Malah, tak sedikit yang menganggap aneh aturan social distancing yang diterapkan di pinggir lapangan, sementara di dalam lapangan para pemain masih aktif melakukan kontak fisik.

Jadi, ya, apa pun keputusan yang diambil dalam menentukan nasib kompetisi, pasti akan menimbulkan pro dan kontra.

So, apakah benar, kalau Premier League dan La Liga hanya 'mata duitan' soal menggelar kembali kompetisi mereka? Atau, memang kerugian yang ditimbulkan sudah cukup parah, sehingga kompetisi harus segera dimainkan kembali?

Memangnya, kerugian seperti apa, sih, yang sudah ditimbulkan sampai-sampai dua kompetisi top Eropa tersebut ingin memulai kembali kompetisinya.

Skuad Liverpool kembali berlatih dengan menerapkan protokol kesehatan. Foto: Liverpool FC

Pertama, kerugian dari penjualan tiket.

Sudah menjadi pengetahuan umum kalau tim-tim sepak bola tentu mengandalkan hasil penjualan tiket dari setiap pertandingan untuk menghidupi klub-klub mereka. Lantas, jika tidak ada pertandingan yang dimainkan, maka pemasukan dari pos tersebut, ya, nihil.

Bahkan, menurut data Sky Sports, tingkat kehadiran penonton di Premier League musim lalu berhasil mencapai angka 96 persen. Torehan ini sekaligus menempatkan mereka di urutan pertama di atas liga-liga top Eropa lainnya.

Sementara, La Liga bertengger di peringkat keempat dengan rata-rata tingkat kehadiran penonton sebanyak 70 persen sepanjang bergulirnya kompetisi musim lalu.

So, dengan tingginya rata-rata tingkat kehadiran tersebut, bisa dikatakan pendapatan klub dari pos ini sangat mempengaruhi pendapatan operasional klub secara keseluruhan.

Oke, soal nominal, kita ambil contoh dua pemuncak klasemen dari masing-masing kompetisi tersebut. Liverpool dan Barcelona.

Dilansir situs Liverpool, harga tiket untuk satu kali pertandingan Premier League dibanderol dengan ragam kelas. Mulai dari 9 pounds (sekitar 162 ribu rupiah) hingga tertinggi senilai 59 pounds (sekitar 1 juta rupiah).

Sementara di Spanyol, dilansir situs Barcelona, harga terendah untuk sekali menyaksikan El Barca mentas adalah sebesar 69 euro (sekitar 1,1 juta rupiah) dan untuk tiket termahal dijual dengan harga 174 euro (sekitar 2,8 rupiah)

Lantas, dengan kapasitas Anfield yang mencapai sekitar 54 ribu penonton, dan Camp Nou yang bisa menampung hampir 100 ribu pentonton, bisa dibayangkan berapa kerugian yang ditelan dua klub besar tersebut jika kompetisi harus dihentikan.

Premier League (Ilustrasi) Foto: Reuters/Tony O'Brien

Kedua, soal kerugian dari hak siar. Sama halnya dengan nihilnya penjualan tiket, jika tidak ada pertandingan yang dimainkan, maka pendapatan dari hak siar pun ikut tertidur.

Menurut laporan BBC, klub-klub Premier League berpotensi untuk mengalami kerugian dari masalah hak siar sebesar 340 juta pounds atau sekitar 6,21 triliun rupiah. Hal ini juga dibenarkan CEO Premier League, Richard Masters, yang memastikan bahwa akan ada kerugian dari hak siar, meski dirinya tak menyebutkan nominal persisnya.

Sementara di Spanyol, dilansir Marca, jika La Liga tidak bisa bergulir kembali, total kerugian dari hak siar yang bermasalah adalah sebesar 700 juta euro atau sebesar 11,5 triliun rupiah. Fantastis.

Suasana Camp Nou. Foto: Pau Barrena / AFP

Ketiga, sengketa kontrak pemain.

Gini, bursa transfer musim panas, 'kan, akan segera hadir. Pada momen tersebut, banyak pemain-pemain yang kontraknya akan segera habis. Sementara, nasib kompetisi saat ini pun masih belum jelas.

Berhenti, tidak. Bergulir kembali pun belum. Jadi, serba gantung.

Lantas bagaimana dengan nasib pemain-pemain ini?

Anyway, bukan hanya pemain loh yang merugi, klub-klub yang sudah membayar pemain-pemain tersebut juga menelan kerugian karena tidak mendapatkan haknya secara utuh.

Contohnya, Odion Ighalo. Masa pinjamannya di Manchester United akan segera habis. Sementara, nasib kompetisi tak kunjung ditentukan. Di lain sisi, klub pemiliknya, Shanghai Shenhua, sudah meminta 'Iblis Merah' memulangkan pemainnya tepat waktu.

Selain itu, dilansir Transfermarkt, ada nama-nama seperti: Adam Lallana di Liverpool, David Silva di Manchester City, serta Willian dan Pedro di Chelsea, yang kontraknya akan habis di akhir Juni mendatang.

Di Spayol pun sama. Alvaro Morata dari Atletico Madrid, dan Mikel san Jose dari Atletic Bilbao, adalah sebagian kecil dari pemain-pemain La Liga yang kontraknya akan habis di bulan Juni nanti.

Tentunya permasalahan yang dihadapi Premier League dan La Liga tidak hanya sebatas tiga masalah tersebut. Sederet masalah finansial seperti pemangkasan gaji pemain, masalah kontrak dengan sponsor, hingga potensi gagal menghadirkan pemain bidikan, tentu akan menghampiri tim-tim kontestan.

Eits, jangan lupa, asas Fair Play juga harus dijunjung, loh, jika kompetisi benar-benar terpaksa dihentikan. Siapa yang juara, degradasi, promosi, dan jatah bermain di Eropa musim depan, harus diputuskan seadil-adilnya.

Lagi pula, kasihan, dong, Liverpool. Sudah menanti-nanti gelar juara Premier league pertama mereka, sekarang malah harus menerima kenyataan bahwa lawan mereka bertambah satu, pandemi corona.

Well, kalau dianggap Project Restart-nya Premier League dan La Liga, berlatar belakang ekonomi, pasti.

Ya, wajar lah, wong kerugiannya aja sudah bikin kepala pusing tujuh keliling.

Namun, di sini apakah faktor ekonomi lebih utama dari unsur kesehatan? Ya, belum tentu.

Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan