Review Serial Komedi Ted Lasso: Kritik Tradisi Sepakbola Eropa

Mahasiswa Sastra Indonesia Unpad
Konten dari Pengguna
30 Mei 2022 21:21
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Ananda Bintang tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Alih-alih menyajikan tontonan drama fiksi sepakbola yang hero-kolosal penuh motivasi seperti trilogi Goal atau Garuda Di Dadaku, Ted Lasso menyajikan sebuah drama sepakbola dengan fokus dan tema yang kerap luput dalam perbincangan sepakbola modern dengan gegap gempita industrinya: manusia dan kemanusiaan.

Ilustrasi Serial Komedi Ted Lasso (IMDb)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Serial Komedi Ted Lasso (IMDb)
ADVERTISEMENT
Dalam suatu space di twitter, Zen RS pernah mengatakan bahwa Eropa seakan-akan mendikte kita dalam bermain sepakbola. Sepakbola yang benar dan modern adalah sepakbola yang mewajibkan pemainnya untuk menggunakan sepatu, bermain di stadion resmi, menggunakan formasi yang ideal, dan seterusnya dan seterusnya.
ADVERTISEMENT
Series Ted Lasso berhasil mengolok-ngolok dan mendobrak kemapanan itu. Series tahun 2020 yang digarap Bill Lawrence dan Joe Kelly ini menceritakan seorang pelatih American Football yang ditunjuk menjadi pelatih klub sepakbola di Inggris bernama AFC Richmond yang sedang berada di kasta tertinggi sepakbola inggris, Premier League. Bayangkan, dari sinopsis kasarnya saja sebenarnya series ini sudah mendobrak kemapanan sepakbola modern zaman kiwari. Bagaimana ceritanya seorang pelatih American Football dipercaya oleh seorang pemilik klub menjadi pelatih sepakbola? Konyol betul.
Hal itu tentu saja merupakan pelecehan bagi klub yang dicintai fans-fansnya sejak lama. Seorang pelatih baru yang tidak kredibel saja bahkan sering tidak diterima, ini malah pelatih dengan jenis olahraga yang benar-benar berbeda malah ditunjuk menjadi pelatih sepakbola. Benar-benar murtad.
ADVERTISEMENT
Tak pelak, Ted Lasso menjadi bulan-bulanan dan cemoohan bagi para fans AFC Richmond. Usut punya usut, sang pemilik klub, Rebecca (Hannah Waddingham) memilih Ted Lasso (Jason Sudekis) menjadi pelatih baru AFC Richmond hanya sebatas untuk ajang balas dendam terhadap mantan suaminya yang sangat mencintai AFC Richmond. Rebecca berharap bisa membuat mantan suaminya sakit hati dan membalas segala perbuatan menyakitkan yang dialami Rebecca.
Namun, alih-alih merusak prestasi klub beserta mental bermain bola para pemain, Ted Lasso justru menawarkan suatu kehangatan dan metode baru dalam melatih. Olok-olok yang diterima Ted Lasso dari suporter pun hanya ia anggap sebagai angin lalu, bahkan suatu pujian dan justru membuat dirinya semakin termotivasi untuk melatih. Inilah yang membuat dirinya semakin konyol tetapi menjadi semakin menarik.
ADVERTISEMENT
Minimnya pengetahuan dalam melatih sepakbola membuat Ted dan asisten pelatihnya Beard (Brendan Hunt) harus beradaptasi dan bahkan dalam beberapa kesempatan, ia benar-benar menerapkan strategi American Football ketika bermain bola. Meskipun akhirnya dalam beberapa pertandingan bisa menang, dengan strategi yang “tidak modern” dan tidak sesuai gaya bermain klub ligga Inggris pada umumnya, membuat AFC Richmond terdegradasi ke divisi 2.
Dengan terdegradasinya AFC Richmond ke divisi 2, membuat series drama komedi sepakbola ini berbeda dari film tentang sepakbola yang pernah saya tonton. Sang sutradara mencoba untuk realistis, bahwa meskipun bola itu bundar, kalau kita tidak tahu cara menendangnya, bagaimana bola itu akan masuk ke gawang? Film-film seperti goal atau garuda di dadaku seperti yang sudah saya bilang di atas, seakan-akan menjual mimpi bahwa semua orang bisa bermain bola dan memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi pemain bola profesional, tapi apakah memang benar demikian? Apakah semudah itu? Apakah kerja keras memang benar-benar membuahkan hasil?
ADVERTISEMENT
Dalam series tersebut, Ted benar-benar berjuang untuk memahami sepakbola. Ia kebingungan dengan kultur sepakbola Inggris dan cara bermain yang dianggap serba modern. Ted akhirnya mencari cara, berusaha keras, namun tentu saja usaha yang ia lakukan gagal. Ia tidak sepenuhnya paham dengan cara sepakbola modern, alhasil yang ia terus usahakan justru membuat klubnya terdegradasi.
Meskipun dengan terdegradasinya AFC Richmond membuat Rebecca cukup senang karena berhasil membuat mantan suaminya sakit hati, hal ini justru malah juga berimbas pada pemain dan segelintir orang-orang di dalam klub yang juga turut murung. Balas dendam yang tidak menyehatkan ini akhirnya membuat Rebecca sadar dan berambisi lagi untuk membuat AFC Richmond promosi kembali ke Premier Leageu. Kesadaran ini juga didukung oleh ketulusan Ted Lasso dalam melatih dan suatu kisah cinta yang kayaknya bakal spoiler kalau saya ceritakan di sini, hehe.
ADVERTISEMENT
Selain cerita yang dikemas dengan menarik, komedi-komedi yang disajikan dalam series ini tidak slapstick dan komikal macam Shaolin Soccer misalnya, tapi lebih pada komedi satir agak mengarah ke dark joke dengan referensi-referensi budaya populer yang pas nonton “haha, loh bukannya ini dari dialog film (sebut judul film populer)” dan seterusnya.
Ted lasso bagi saya adalah sinetron Madun yang lebih upgrade, yang tidak melulu menyelesaikan persoalan dengan ranah agama atau hal-hal moral sebagai jalan terakhir untuk memecahkan solusi. Bill Lawrence dan Joe Kelly memecahkan masalah melalui hal-hal yang lebih masuk akal dan lebih bisa diterima.
Ted misalnya yang ternyata selama ini menutupi masalah keluarga hingga tekanan dari luar ketika melatih AFC Richmond membuatnya terserang panic attack yang diketahui oleh psikolog klub. Dialog-dialog antara psikolog dan Ted pun kadang membuat mata saya berbinar sedih. Tak heran, series yang dikeluarkan Apple+ ini menyabet serial komedi terbaik dalam pagelaran Emmy Awards ke-73. Series ini sudah memasuki musim kedua dan sedang melakukan proses syuting pada beberapa bulan ini.
ADVERTISEMENT
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020