kumparan
3 Oktober 2017 17:27

11 Persen Remaja di Seluruh Dunia Hamil di Luar Nikah Setiap Tahunnya

Hari Kontrasepsi Dunia yang ke-10
Hari Kontrasepsi Dunia yang ke-10 (Foto: Sephanie Elia/kumparan)
Kehamilan merupakan anugerah terindah yang diberikan Tuhan kepada umat manusia. Lewat rahim dan kandungan ibu yang sehat, akan lahir generasi penerus bangsa yang sehat dan berkualitas.
ADVERTISEMENT
Namun untuk bisa menjalani masa kehamilan yang lancar dan menyenangkan bukanlah perkara mudah. Ada banyak faktor internal dan eksternal yang perlu diperhatikan.
Dibutuhkan kesiapan mental, fisik, serta materi yang memadai. Bayangkan saja jika seorang remaja yang belum paham betul soal besarnya tanggung jawab dan ‘beban’ yang harus dipikul mendadak harus mengandung bayi yang kehadirannya tak terduga. Dunia tentunya terasa runtuh menimpa kepalanya.
Rasa kaget, takut, bingung, tidak siap, serta gugup semua bercampur jadi satu.
Mirisnya, 41 persen atau hampir setengah dari 208 juta kehamilan di seluruh dunia merupakan kehamilan yang tak direncanakan. Berdasarkan data yang dirilis WHO (World Health Organization), 11 persennya berasal dari remaja perempuan berusia 15-19 tahun.
ADVERTISEMENT
Itu artinya, dalam satu tahun terjadi 16 juta kehamilan pada remaja perempuan. Sungguh merupakan angka yang menakjubkan, bukan?
Inilah sebabnya, sangat penting mengedukasi anak muda untuk memahami betapa pentingnya menjaga kesehatan reproduksi dan menyadari perlunya menggunakan kontrasepsi.
Permasalahan ini jugalah yang coba diangkat pada Hari Kontrasepsi Dunia ke-10. "It's Your Life, It's Your Future" jadi tema kampanye yang dipilih.
Sejak 10 tahun lalu, Hari Kontrasepsi Sedunia telah ditetapkan jatuh setiap 26 September. Hari penting ini diciptakan khusus untuk meningkatkan kesadaran anak muda dan masyarakat terhadap kesehatan reproduksi dan pentingnya kontrasepsi.
Ilustrasi ibu hamil
Ilustrasi ibu hamil (Foto: Thinkstock)
Karena kasus tingginya angka kehamilan tak diinginkan pada remaja dipicu oleh minimnya edukasi yang memadai. Di Indonesia sendiri, masalah reproduksi seksual masih dianggap tabu untuk diperbincangkan.
ADVERTISEMENT
“Memang masalah edukasi seks ini merupakan masalah kontroversi,” ujar Prof. Dr. Biran Affandi, SpOG(K), FAMM, saat ditemui kumparan (kumparan.com) di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada Selasa (3/10).
“Kami di Universitas Indonesia melakukan pendidikan kepada guru-guru di sekolah SMA atau SMP. Kenapa guru? Karena kalau guru yang membicarakan masalah reproduksi dan kontrasepsi tak akan dimarahi oleh siapa siapa,” sambungnya lagi.
Karena di Indonesia masih banyak orang tua yang memiliki pola pikir ‘kolot’ dan tak senang ketika buah hatinya diberi edukasi lebih dalam soal hal ini. Mereka salah menilai dan merasa anaknya justru didorong untuk melakukan hubungan seks sebelum menikah. Padahal, hal ini jelas salah.
Justru edukasi reproduksi dilakukan sebagai langkah awal pencegahan terjadinya kehamilan di luar nikah. “Berdasarkan riset, 51 persen remaja perkotaan sudah pernah melakukan hubungan seks,” papar Biran.
ADVERTISEMENT
Jika sudah begini, langkah selanjutnya yang perlu dilakukan adalah mengedukasi sang anak soal risiko hubungan intim yang bisa mengakibatkan kehamilan. Pencanangan penggunaan alat kontrasepsi juga diperlukan.
“Kami memberi banyak buku yang mendidik soal bagaimana cara anak menolak jika pacarnya mengajak melakukan yang tidak-tidak,” tuturnya lagi.
Jika semua anak muda sudah teredukasi untuk merencanakan kehamilan dengan matang, maka kualitas manusia atau keturunan yang dihasilkan juga akan meningkat.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan