Brain Fog: Gangguan Kognitif Pasca-infeksi COVID-19

Berprofesi sebagai dokter umum. Menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana pada tahun 2015 - 2021.
Konten dari Pengguna
12 Agustus 2022 13:24
·
waktu baca 3 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari I Gusti Agung Ayu Andra Yusari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Oleh: dr. I Gusti Agung Ayu Andra Yusari
Ilustrasi "brain fog" sebagai otak berkabut yang menyebabkan memori dan kognitif terganggu. Sumber gambar: Shuttershock.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi "brain fog" sebagai otak berkabut yang menyebabkan memori dan kognitif terganggu. Sumber gambar: Shuttershock.
Pandemi COVID-19 telah berlangsung selama lebih dari 2 tahun dan menginfeksi jutaan orang di Indonesia. Jika anda pernah terinfeksi COVID-19, apakah anda pernah merasakan lebih sering lupa atau lebih sulit untuk fokus dibandingkan sebelum terinfeksi COVID-19 dahulu? Jika iya, maka kemungkinan anda mengalami brain fog.
ADVERTISEMENT
Brain fog, atau dalam Bahasa Indonesia kabut otak, adalah istilah yang sering digunakan untuk mendeskripsikan kondisi lambat dalam berpikir, bingung, atau linglung. Hal ini terkait dengan masalah kognitif dengan gejala berupa penurunan konsentrasi, kesulitan merangkai kata, gangguan memori, atau disorientasi. Brain fog biasanya diasosiasikan dengan faktor risiko seperti stres, kekurangan asupan nutrisi, gangguan tidur, serta adanya penyakit fisik atau psikis yang menyertai.
COVID-19 merupakan salah satu kondisi yang dapat menyebabkan terjadinya brain fog setelah fase penyembuhan. Gejala kognitif ini banyak dikeluhkan oleh penyintas COVID-19, lama setelah sembuh dari infeksi COVID-19. Brain fog merupakan salah satu dari tiga keluhan teratas pasca-infeksi COVID-19. Brain fog pasca-infeksi COVID-19 dapat terjadi di segala usia.
ADVERTISEMENT
Gangguan kognitif pasca-COVID-19 diakibatkan oleh adanya radang pada jaringan sel saraf di otak yang mengganggu aliran informasi. Maka dari itu, timbullah keluhan sulit mengingat hal yang baru hingga perlu repetisi informasi berulang kali. Tetapi, dikatakan bahwa brain fog pasca-COVID-19 dapat sembuh dalam 6 sampai 9 bulan.
Bagaimana mengatasi gangguan kognitif pasca-infeksi COVID-19?
Masalah pada fungsi kognitif, walaupun ringan seperti brain fog ini, dapat menyebabkan masalah dalam kualitas hidup dan menurunnya produktivitas pada beberapa orang. Oleh karena itu penting untuk mengetahui upaya pencegahan dan penanganan untuk memperbaiki fungsi kognitif pasca-infeksi COVID-19.
  • Mengurangi merokok dan konsumsi alkohol – Berdasarkan penelitian, kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol semasa muda secara signifikan dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami gangguan kognitif di masa tua nya.
ADVERTISEMENT
  • Perbaikan nutrisi – Makanan cepat saji, makanan olahan, dan minuman manis memperparah kondisi peradangan dan menunda penyembuhan. Konsumsi suplemen vitamin D 1000 atau 2000 IU untuk melindungi fungsi otak dan saraf.
  • Aktivitas fisik – Latihan fisik dinilai dapat membantu meningkatkan atensi dan memori, serta mood. Aktivitas yang disarankan dapat dimulai dari aktivitas ringan seperti berjalan, yoga, peregangan, dan dapat ditingkatkan intensitasnya sesuai kemampuan.
  • Melatih pikiran dan memori – Dapat dilatih seperti melatih fisik dengan melakukan teka-teki silang atau mainkan permainan kartu dan rajin membaca buku, surat kabar, atau panduan teknis.
Selain itu, sebagai upaya pencegahan sebelum terjadinya brain fog, disarankan untuk tetap melanjutkan aktivitas seperti biasa setelah fase pemulihan COVID-19. Sehingga otak tetap aktif dan mengurangi risiko menjadi “berkabut” dan menimbulkan gangguan kognitif yang cukup berat. Pemulihan otak dan sistem saraf memerlukan waktu, sehingga diperlukan kesabaran dan konsistensi untuk terus berlatih dan melanjutkan pola hidup sehat.
ADVERTISEMENT
Jika gejala kognitif ini sangat mengganggu aktivitas sehari-hari pasien hingga tidak dapat melakukan pekerjaan, atau jika gejala bertahan hingga lebih dari 6 bulan pasca-infeksi COVID-19, sangat disarankan untuk melakukan pemeriksaan di fasilitas kesehatan untuk pemberian penanganan lebih lanjut dan efektif.
Referensi:
  1. Asadi-Pooya, A. A., Akbari, A., Emami, A., Lotfi, M., Rostamihosseinkhani, M., Nemati, H., Barzegar, Z., Kabiri, M., Zeraatpisheh, Z., Farjoud-Kouhanjani, M., Jafari, A., Sasannia, S., Ashrafi, S., Nazeri, M., Nasiri, S., & Shahisavandi, M. (2022). Long COVID syndrome-associated brain fog. Journal of medical virology, 94(3), 979–984. https://doi.org/10.1002/jmv.27404
  2. Douglas, PW. (2022). What is Post-COVID Brain Fog and How Can You Recover? Available at: https://www.lifespan.org/lifespan-living/what-post-covid-brain-fog-and-how-can-you-recover (Accessed: 7 August 2022)
  3. Jennings, G., Monaghan, A., Xue, F., Duggan, E., & Romero-Ortuño, R. (2022). Comprehensive Clinical Characterisation of Brain Fog in Adults Reporting Long COVID Symptoms. Journal of clinical medicine, 11(12), 3440. https://doi.org/10.3390/jcm11123440
  4. Krishnan, K., Lin, Y., Prewitt, KR.M. et al. Multidisciplinary Approach to Brain Fog and Related Persisting Symptoms Post COVID-19. J Health Serv Psychol 48, 31–38 (2022). https://doi.org/10.1007/s42843-022-00056-7
ADVERTISEMENT
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020