• 0

ASEAN Harus Mampu Sikapi Kebijakan China dan AS

ASEAN Harus Mampu Sikapi Kebijakan China dan AS


Seminar 50 tahun ASEAN di Madrid

Seminar 50 tahun ASEAN di Madrid (Foto: Dok. KBRI Madrid)
Dulu Asia Tenggara dianggap the Balkan of Asia, kini ASEAN telah menujukkan diri menjadi kekuatan regional yang stabil. Namun, keberhasilan tersebut bukan tanpa catatan-catatan.
Hal itu disampaikan Dr N Hassan Wirajuda, Menlu RI periode 2001-2009, melalui siaran pers KBRI Madrid yang diterima kumparan Den Haag (kumparan.com), Rabu (1/11).
“ASEAN harus mampu menyikapi kebangkitan China vis a vis perubahan kebijakan luar negeri AS terhadap kawasan Asia dan Pasifik,” ujar Wirajuda.
Wirajuda mengingatkan perlunya ASEAN melakukan reformasi kelembagaan yang berkelanjutan, membangun tatanan di kawasan Asia Timur dan Pasifik sebagai sesuatu yang strategis.
Sebelumnya pandangan yang sama telah disampaikan Wirajuda selaku pembicara pada seminar memperingati 50 Tahun ASEAN di Auditorium Fakultas Literatur Universidad Complutense de Madrid (UCM), Madrid, Spanyol.
Wirajuda menjelaskan ASEAN dalam perspektif lebih luas, dimulai dari keraguan dunia internasional yang menganggap bahwa bangsa-bangsa Asia Tenggara merupakan the Balkans of Asia.
Namun dalam perkembangannya, mulai dari berdirinya ASEAN pada tahun 1967 dengan 5 anggota hingga seluruh negara di kawasan Asia Tenggara bergabung, ASEAN telah membuktikan dirinya sebagai kekuatan regional yang stabil.
“Walaupun negara-negara ASEAN memiliki permasalahan masing-masing, namun dengan mengedepankan keterbukaan dan tradisi dialog permasalahan tersebut tidak meluas,” tegas Wirajuda.

Seminar 50 tahun ASEAN di Madrid

Seminar 50 tahun ASEAN di Madrid (Foto: Dok. KBRI Madrid)
Lebih lanjut Wirajuda mengatakan bahwa secara ekonomi ASEAN juga telah tumbuh menjadi kekuatan ekonomi ke-7 di dunia dan akan segera meningkat menjadi ke-6.
Menggunakan laporan Price Waterhouse Coopers (PwC) yang pada tahun 2050 proyeksi GDP Indonesia saja menduduki peringkat ke-4 di bawah China, India dan Amerika Serikat, maka ASEAN dapat diperhitungkan.
“Melalui skema arus bebas barang, jasa, modal dan pekerja, semakin meningkatkan nilai perdagangan baik Intra-ASEAN maupun Extra-ASEAN,” imbuh Wirajuda.
Duta Besar Yuli Mumpuni Widarso pada kesempatan itu menegaskan pentingnya promosi ASEAN di kalangan generasi muda Spanyol, selai kalangan pejabat pemerintah maupun kalangan bisnis.
“Harapannya, agar generasi muda Spanyol dapat lebih mengenal ASEAN untuk lebih meningkatkan people to people diplomacy,” demikian Dubes.
Seminar hasil kerja sama KBRI Madrid, ASEAN Committee in Madrid (ACM), dan Universidad Complutense de Madrid (UCM) ditutup dengan penampilan kesenian dari masing-masing negara ASEAN yakni Tari Greget Persi (Indonesia), Tari Zapin (Malaysia), Gitar Flamenco (Filipina), alat musik tradisional (Thailand) serta resital suling (Vietnam).
Selain itu juga digelar pameran foto ASEAN mulai foto bersejarah penandatanganan Deklarasi Bangkok 1967 hingga foto-foto terkini kegiatan ASEAN.
Laporan: Eddi Santosa kumparan Den Haag

InternasionalASEANSpanyolNews

500

Baca Lainnya