Kumparan Logo
Ilustrasi Aparatur Sipil Negara (ASN)- PNS
Ilustrasi Aparatur Sipil Negara (ASN).

ASN Juga Manusia

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Aparatur Sipil Negara (ASN). Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Aparatur Sipil Negara (ASN). Foto: Shutter Stock

Masih mengenakan seragam batik Korpri, saya duduk di samping gerobak tukang gorengan di pinggir jalan. Rasa lapar yang melanda selepas kegiatan upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila memaksa saya melipir sejenak ke luar kantor.

Sarapan ala kadarnya dengan bakwan, tahu isi, dan pisang molen rasanya cukup mengganjal perut kosong yang dari tadi berbunyi. Maklum, setiap ada kegiatan upacara seperti ini, saya harus berangkat ke kantor lebih pagi dari biasa. Sarapan? Nanti saja di kantor.

Awalnya saya merasa biasa saja. Duduk di samping gerobak tukang gorengan di pinggir jalan, mengunyah bakwan, sambil berbincang dengan rekan kerja yang sama-sama membeli gorengan. Namun lama-kelamaan, saya mulai merasa tidak nyaman. Tatapan beberapa orang yang lalu-lalang di sekitaran gerobak gorengan itu seakan-akan berbicara seperti ini: “Oh, jadi begini ya kelakuan ASN itu? Digaji pakai uang rakyat, malah asyik nongkrong di luar kantor saat jam kerja," saya terhenyak.

Tiba-tiba saya membayangkan, ada yang merekam kami –yang saat itu sedang asyik “nongkrong” di pinggir jalan, mengenakan seragam batik Korpri, di jam kerja– melalui ponselnya lalu mengunggahnya di media sosial. Tidak lupa dengan menuliskan “Kelakuan ASN di jam kerja seperti ini, guys.” lalu konten itu viral dan banyak komentar negatif dari para netizen yang maha benar itu. Saya bergidik ketakutan. Jujur saja, saya tidak siap menjadi bahan gunjingan di dunia maya. Tidak menunggu lama, saya segera beranjak dan mengajak rekan-rekan lainnya untuk kembali ke kantor.

Ironis memang. Hanya untuk sekadar membeli sarapan saja, seorang ASN harus mencuri-curi waktu dan sembunyi-sembunyi supaya tidak terlihat oleh masyarakat. Padahal, yang saya lakukan tidak salah dan sangat manusiawi.

Persepsi Publik terhadap ASN

Selang satu hari kemudian, saya menemukan unggahan di platform Threads yang membuat pengalaman sederhana tersebut terasa semakin nyata. Sebuah akun mengunggah foto sejumlah ASN yang sedang berada di sebuah kafe. Mereka masih mengenakan seragam batik Korpri. Waktu menunjukkan pagi hari. Unggahan itu diberi pertanyaan bernada sindiran, “PNS sekarang kantornya pindah ke coffee shop, ya? Padahal baru jam 9 pagi".

Unggahan tersebut kemudian ramai diperbincangkan. Ratusan orang memberikan tanda suka, komentar, hingga membagikannya. Namun ada satu hal yang menarik perhatian saya: komentar yang muncul tidak seluruhnya menghakimi para ASN dalam foto tersebut. Justru cukup banyak netizen yang mencoba melihat persoalan ini dari sisi lain.

Mereka mengingatkan bahwa seorang ASN yang terlihat berada di ruang publik pada jam kerja belum tentu sedang mangkir. Foto yang diambil dari satu momen tidak serta-merta menjelaskan apa yang terjadi sebelum dan sesudahnya. Bisa saja seseorang sedang menjalankan tugas di luar kantor, menghadiri pertemuan, menunggu jadwal pekerjaan, melakukan koordinasi, atau sekadar mengambil waktu istirahat.

Di sisi lain, ada pula perdebatan lain mengenai tindakan mendokumentasikan seseorang di ruang publik dan kemudian menyebarkannya di media sosial tanpa persetujuan. Perdebatan ini tentu memiliki konteks hukum dan etika yang lebih luas. Namun satu hal menjadi jelas bahwa sebuah foto hanya menangkap satu detik dari kehidupan seseorang. Foto tidak selalu mampu menceritakan keseluruhan cerita yang sebenarnya terjadi.

Kita sering kali menilai pekerjaan seseorang berdasarkan apa yang terlihat oleh mata. Mereka yang duduk di depan komputer dianggap sedang bekerja. Mereka yang berada di ruang rapat dianggap sedang bekerja. Tetapi ketika seorang ASN terlihat duduk di kedai kopi, berada di pasar, atau berjalan di pusat perbelanjaan pada jam kerja, dianggap sebaliknya.

Inilah persepsi yang terbentuk di masyarakat, termasuk di dunia maya. Sampai-sampai Ketua Komisi II DPR RI, Muhammad Rifqinizamy Karsayuda, melontarkan kritik tajam terhadap ASN beberapa waktu yang lalu. Para ASN hanya “datang, ngabsen, ngopi, dan pulang”. Begitu katanya.

Tidak Semua ASN Bekerja di Balik Meja

Saya sendiri bekerja di Badan Pusat Statistik, sebuah lembaga pemerintah yang bertugas dalam mengumpulkan, mengolah, dan menyajikan data statistik. Dalam sebulan terakhir, sudah entah berapa kali saya harus meninggalkan kantor untuk melakukan supervisi pendataan, dokumentasi dan peliputan kegiatan kedinasan, hingga pendampingan kegiatan pimpinan. Saya mengunjungi rumah-rumah, perusahaan, pasar, hotel, pusat perbelanjaan, hingga pedagang-pedagang kecil.

Intinya, memang ada pekerjaan yang mengharuskan saya duduk berjam-jam di depan komputer, tetapi ada juga pekerjaan yang justru membuat saya lebih sering berada di luar kantor. Lalu, apakah ketika saya berada di pasar berarti saya sedang tidak bekerja? Tentu saja tidak. Saya justru sedang bekerja.

Bayangkan jika semua aktivitas tersebut saya lakukan dengan mengenakan seragam batik Korpri. Saya datang ke pasar, mewawancarai pedagang, mencatat informasi, kemudian berpindah ke lokasi lain. Sesekali berhenti untuk istirahat sambil makan atau minum. Lalu seseorang mengambil foto saya dari kejauhan saat sedang istirahat. Bisa saja foto tersebut diunggah di media sosial dengan “ASN keluyuran di pasar saat jam kerja.” Padahal saya sedang menjalankan tugas negara.

Flexible Working Arrangement

Hal lain yang mungkin belum banyak diketahui oleh masyarakat adalah bahwa seorang ASN –dengan syarat dan ketentuan tertentu– dapat menerapkan konsep flexible working arragement atau FWA. Secara sederhana, FWA memungkinkan pelaksanaan tugas kedinasan dilakukan dengan pengaturan kerja yang lebih fleksibel, baik dari sisi lokasi maupun waktu, sesuai karakteristik pekerjaan dan kebutuhan organisasi.

Penerapan FWA ini bukan berarti seorang ASN bisa bekerja semaunya dan seenaknya. Ada ketentuan, pengaturan, serta target kinerja yang tetap harus dipenuhi. Dengan kata lain, fleksibel bukan berarti bebas. Pekerjaan tetap harus selesai. Tanggung jawab tetap harus dijalankan. Pelayanan kepada masyarakat tetap harus berjalan. Yang berubah adalah cara dan tempat sebagian pekerjaan dilakukan.

Jadi, ketika melihat seorang ASN berada di sebuah kafe pada jam kerja, misalnya. Tidak perlu jadi bahan gunjingan atau unggahan konten di media sosial untuk diviralkan. Mungkin pertanyaan yang lebih tepat bukan “Mengapa dia tidak berada di kantor?”, tetapi “Apa yang sedang dia kerjakan di kafe ini?” Saya rasa, pertanyaan itu lebih fair dan objektif ketimbang menjustifikasi sesuatu yang kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.

ASN Juga Manusia

Di sini, saya tidak bermaksud untuk membela ASN secara membabi buta. ASN juga bukan manusia yang selalu benar. Kenyataannya, memang masih ada saja ASN yang mangkir, tidak disiplin, yang menggunakan waktu kerja untuk kepentingan pribadi, dan perilaku indispliner lainnya. Jika memang ditemukan pelanggaran, tentu harus ada mekanisme pengawasan dan penegakan disiplin. Namun, jangan sampai perilaku segelintir orang kemudian menjadi gambaran untuk seluruh ASN.

Saya sangat meyakini bahwa di balik seragam Korpri, ada orang-orang yang setiap hari bekerja pontang-panting, harus berpindah dari satu rapat ke rapat lainnya. Ada yang pagi berada di kantor, siang sudah harus turun ke lapangan, dan malam masih membuka laptop untuk menyelesaikan pekerjaan yang belum selesai. Ada juga mereka yang lembur, bekerja dari rumah setelah jam kantor, dan membalas pesan pekerjaan ketika keluarga sudah tidur. Bahkan, ada juga mereka yang mengerjakan tugas dengan menggunakan laptop, telepon seluler, kendaraan, bahkan koneksi internet pribadi. Semua itu mungkin tidak terlihat di media sosial.

Mungkin kita perlu sedikit lebih simpati kepada mereka yang berada di balik seragam Korpri. Bukan untuk memberikan perlakuan khusus, apalagi membenarkan kesalahan. Kita hanya perlu memberikan ruang untuk memahami bahwa mereka juga manusia.