Buzz
·
8 Juni 2021 12:14
·
waktu baca 2 menit

Didesak Kernet: Risiko Orang Muda Naik Bus

Konten ini diproduksi oleh Andri Abdurrahim Sani
Didesak Kernet: Risiko Orang Muda Naik Bus (335977)
Foto oleh Sinitta Leunen dari Pexels
Naik angkutan umum itu berkesan bagi saya. Saya sangat senang bergelantungan (jangan ditiru, ya!) di pintu mobil angkutan kota (angkot). kegemaran ini hanya saya lakukan jika angkutan padat penumpang. Panasnya dalam mobil membuat saya gemar bergelantungan di luar mobil. Sejuk rasanya.
ADVERTISEMENT
Berbeda dengan angkutan umum yang berpendingin (AC) seperti bus Trans Semarang. Tidak perlu bergelantungan. Hawa di dalam angkutan sudah sejuk. Kesejukannya, membuat saya tidur seperti orang tak sadarkan diri.
Terus terang, hidup di kota Semarang yang super panas, membuat saya lebih memilih angkutan-bus Trans Semarang-yang berpendingin. Sejuknya udara, membuat saya bisa nyaman mengaso (bahkan tidur) sehabis beraktivitas di kampus.
Bagi saya, orang muda, tidak bisa mengaso lama-lama. Ada waktunya saya didesak kernet -saya suka menyebut kernet dibanding petugas - untuk berdiri. Ini terjadi bilamana penumpang khusus memakai bus trans yang padat penumpang. Tiada alasan bagi orang muda untuk membantah desakan kernet. Ini gara-gara orang muda selalu kelihatan: berparas cerah ceria, masih bugar, tidak cacat, tidak hamil (kecuali wanita), dan hanya membawa badan sendiri.
ADVERTISEMENT
Penumpang khusus memiliki otoritas untuk duduk walau bus padat penumpang. Fakta ini saya ketahui setelah memandang bagian jendela bus. Di situ ada stiker bergambar. Judul stikernya: kursi prioritas. Dalam stiker, diuraikan dengan jelas kriteria penumpang yang diutamakan untuk duduk walau semua kursi dipakai. Kriterianya: Penyandang cacat, orang usia lanjut, ibu hamil, dan ibu membawa anak. Penumpang yang tidak sinkron dengan kriteria kudu mematuhi tata tertib ini.
Saya amati, tata tertib ini suka melahirkan situasi sulit. Kernet mendesak saya untuk berdiri padahal saya sedang lelah. Kelelahan saya tak dihiraukannya. Padahal berdiri memerlukan stamina. Apalagi, rentang waktu perjalanan saya adalah tiga jam. Nah, ujung-ujungnya saya pun berdiri. Tak kuasa saya membantah kernet. Beginilah risiko orang muda naik bus trans.
ADVERTISEMENT
Makanya, saya dan pembaca (khusus orang muda) harus selalu menjaga kesehatan jasmaninya. Saya pernah berdiri, tidak duduk, dari awal keberangkatan sampai rumah. Kenyat-kenyit kaki saya.
Saya sempat kepingin memakai motor seperti dulu. Namun, tarifnya yang seribu rupiah (khusus pelajar) memikat hati saya sebagai mahasiswa (yang doyan berhemat).