• 2

Bukan Sekadar Wisata Biasa

Bukan Sekadar Wisata Biasa



Wanderlust

Para wisatawan dengan murid SD. (Foto: Dok. Pribadi Wanderlust)
Melancong kini menjadi ritual wajib yang dilakukan hampir setiap orang. Rutinitas dan segala kesibukan membuat orang-orang terutama kaum urban ingin mengambil jeda, menjauh dari segala hiruk pikuk kota dengan menikmati alam atau hamparan pasir putih di pantai-pantai cantik di Indonesia.
Tapi, bagaimana kalau kegiatan traveling itu dilakukan dengan cara yang berbeda dan tak hanya sekadar berwisata? Misalnya, traveling sambil melakukan kegiatan sosial untuk warga lokal di daerah tempat wisata yang dikunjungi alias menjadi turis sekaligus relawan (voluntourism). Selain menikmati keindahan, berwisata dengan cara itu juga membuat traveler ikut andil dalam kegiatan sosial.
Adalah Wanderlust, sebuah komunitas sosial bisnis yang memadukan antara wisata dengan kegiatan sosial. Komunitas yang dibentuk pada 2013 oleh Syahira Marina, Dini Hajarrahma, dan Fany Ayuningtias, ini menginginkan agar orang berwisata tak hanya menikmati keindahan daerah tujuan, tapi juga mengenal lingkungan sekitar dan memberikan kontribusi bagi penduduk.
Salah seorang Co-Founder Wanderlust, Syahira Marina, mengatakan komunitas ini memiliki tujuan sederhana: mengambil pelajaran dari setiap proses perjalanan berwisata dan berkontribusi untuk perubahan sosial. “Kami ingin ada volunteering dan sosial activity,” kata Syahira saat ditemui kumparan, Kamis lalu.
Dia menuturkan, konsep wisata ini muncul karena kegelisahan yang sama diantara mereka. Tiga wanita lulusan Universitas Dipenogoro ini galau karena banyak orang yang mengaku sebagai traveler, tapi tak peduli ketika melihat adanya ketimpangan sosial dan ekonomi di daerah yang dikunjungi. “Padahal, kebanyakan dari mereka yang melakukan traveling berpendidikan,” katanya.

Wanderlust

Wanderur menikmati gula aren. (Foto: Dok. Pribadi Wanderlust)
Dari sana, Syahira dan dua temannya pun membuat proyek open trip perdana dengan membuka perjalanan ke Pulau Sebesi, pulau berpenduduk yang berada di dekat Anak Gunung Krakatau pada 2014. Melalui media sosial, promosi perjalanan wisata pun dilakukan. Responnya ternyata cukup bagus, ada 18 orang Wanderer, sebutan bagi peserta tur Wanderlust yang ikut.
Sambil menikmati pantai dan pemandangan Gunung Anak Krakatau, para anak muda yang punya kegelisahan yang sama ini pun berdiskusi dengan penduduk sekitar untuk untuk membicarakan program apa yang bisa dilakukan di sana. Akhirnya, hasil donasi dan keuntungan biaya akomodasi yang diperoleh Wanderlust dimanfaatkan untuk pengadaan perpustakaan dan pemberdayaan pemuda melalui pelatihan menjadi ranger atau pemandu wisata.
Tak hanya itu, agar perjalanan wisata bisa memberikan manfaat ekonomi penduduk sekitar, mereka pun menyewa rumah warga sebagai tempat menginap dan memberdayakan ibu-ibu untuk menyediakan masakan selama wisata. “Dengan begitu kami tahu masalah mereka, pendidikan dan pendapatan ekonomi. Padahal banyak turis yang datang ke sana, tapi sepertinya tidak ada dampak positif,” kata Syahira.

Wanderlust

Wisatawan Wanderlust yang mengikuti perjalanan. (Foto: Dok. Pribadi Wanderlust)
Program wisata sambil melakukan aksi sosial pun dilanjutkan ke beberapa daerah lain seperti Ujung Kulon, Kabupaten Pandeglang, Gunung Padang Kabupaten Cianjur, Taman Komodo (Labuan Bajo), Desa Depok (Garut), Tanjung Putting (Kalimantan), Pulau Pari (Pulau Seribu), dan Baluran Ijen. Setiap tur, respon dari wandering cukup menggembirakan. mereka antusias memberikan donasi berupa buku, memberikan pelatihan pemandu wisata, mengajar bahasa Inggris, dan berbagi apapun kemampuan yang dimiliki agar bisa bermanfaat bagi warga sekitar.
Saat ini, Ranger, sebutan tim relawan Wanderlust, sudah tersebar tidak hanya di Jakarta, tetapi juga di berbagai daerah seperti Bali, Lombok, dan Ujung Kulon. Mereka siap menemani para Wanderer baru yang ingin berwisata sambil berbakti sosial.
Biasanya, program open trip akan dipublikasikan melalui media sosial. Jika ingin ikut, harus reservasi terlebih dahulu dengan membayar uang muka atau melunasi untuk mengamankan kursi. Tarifnya memang cukup premium. Tapi, selain ada anggaran untuk donasi, 60 persen dari hasil keuntungannya juga disumbangkan ke tempat wisata.
Anda tertarik bergabung menjadi Wanderer? jelajahi: idwanderlust.com

WanderlustPariwisataTravelingWisatawanKomunitas

500

Baca Lainnya




}