• 0

Wisata Sosial Tiga Wanita

Wisata Sosial Tiga Wanita



Wanderlust

Para pendiri Wanderlust. (Foto: Dok. Pribadi Wanderlust)
Bagi tiga wanita ini, Syahira Marina, Dini Hajarrahmah, dan Fanny Ayuningtyas, perjalanan wisata adalah sesuatu yang sakral untuk memaknai pelajaran hidup. Melancong, tak hanya sekadar menikmati keindahan semata, tapi juga bagaimana bisa bersentuhan dengan sendi kehidupan masyarakat di sekitarnya.
Sepanjang traveling yang mereka lalui, ada kegelisahan tentang masalah sosial ekonomi yang berkelindan terjadi di masyakarat yang tinggal di daerah wisata. Mereka menilai tak semua masyarakat lokal menikmati keuntungan dari bisnis pariwisata yang cukup menggiurkan.
Hingga akhirnya ketiganya membentuk satu komunitas bisnis bernama Wanderlust. Konsepnya, traveling sambil melakukan aksi sosial untuk warga lokal di daerah tempat wisata yang dikunjungi. "Konsep ini terbentuk berawal dari yang traveler banget. Fanny itu thinker. Sedangkan saya lebih ke sosial dan suka berkegiatan volunteering. Ya jadilah Wanderlust ini," ujar Syahira saat ditemui kumparan Kamis lalu.
Menurut Syafira, saat ini banyak orang yang mengaku sebagai traveler, tapi tak peduli ketika melihat adanya ketimpangan sosial dan ekonomi di daerah yang mereka kunjungi. Tak hanya itu, bukannya membantu, pelancong pun malah tidak bertanggung jawab dengan mengabaikan kearifan lokal dan kebersihan tempat wisata. “Padahal kebanyakan mereka itu berpendidikan,” katanya

Wanderlust

Berdialog dengan Ketua adat Kampung Cimanggu (Foto: Dok. Pribadi Wanderlust)
Syafira menngatakan, banyak potensi lokal yang bisa dikembangkan dan para wisatawan harus dilibatkan dalam pengembangan kawasan wisata serta keterampilan masyarakat sekitar untuk bisa memanfaatkan potensi tersebut. Melihat itu, Syafira mengatakan Wanderlust mulai menawarkan trip wisata dengan program kegiatan sosial di dalamnya.
"Wanderlust ingin sebagai social business. Selain menawarkan trip, juga ikut membangun kesadaran para traveler untuk menjadi wisatawan yang bertanggung jawab," ujarnya.
Perjalanan wisata pertama yang dilakukan Wanderlust adalah ke Pulau Sebesi, pulau berpenduduk yang lokasinya dengan Anak Gunung Krakatau. Selanjutnya, perjalanan wisata dilakukan ke beberapa daerah lain seperti Ujung Kulon, Gunung Padang Cianjur, dan banyak kawasan wisata lainnya.

Wanderlust

Wanderer sedang beraksi. (Foto: Dok. Pribadi Wanderlust)
Dalam setiap perjalanan wisata itu, beragam kegiatan sosial dilakukan seperti memberikan pelatihan menjadi pemandu wisata, membuat perpustakaan, memberikan bantuan komputer, berdan mengajar bahasa Inggris untuk masyarakat lokal. “Itulah yang membedakan kami dengan travel agent. Kami ingin mengajak para traveler melakukan movement. Jadi, muncullah campaign ini," kata Syahira.
Tak hanya itu, Syahira juga mengatakan, 60 persen dari pendapatan Wanderlust dari perjalanan wisata juga selama ini sudah didonasikan untuk dua tempat wisata lokal tersebut. Ia berharap, untuk selanjutnya, rekanan tempat lokal wisata ini bisa makin bertambah, bahkan sampai ke seluruh Indonesia. "Fokus kami berkontribusi untuk local development. Semoga mereka mendapatkan manfaat dari itu semua," ujarnya.

WanderlustPariwisataTravelingWisatawanKomunitas

500

Baca Lainnya




}