• 0

1001 Cara Memindahkan Jasad Tan Malaka

1001 Cara Memindahkan Jasad Tan Malaka



Makam Tan Malaka

Makam pahlawan nasional aliran kiri Indonesia, Tan Malaka, di Kediri. (Foto: Istimewa)
Tidur Tan Malaka belakangan terusik. Jasadnya yang dikubur di lereng Gung Wilis, Desa Selopanggung, Kapupaten Kediri, Jawa Timur, hendak dipindahkan ke Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat.
Kediri dan Limapuluh Kota ribut berebut.
Kediri ialah lokasi tewasnya Tan Malaka, saat ia ditembak prajurit Divisi Brawijaya pada Februari 1949. Sementara Limapuluh Kota adalah tanah kelahiran Tan –tokoh yang pada akhir hidupnya dianggap sebagai oposisi berbahaya namun setelah mati dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.
Pemindahan makam Tan bagi Pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota ialah harga mati. Para kerabat Tan di sana ingin memakamkan Tan Malaka secara layak sebagai ketua adat tertinggi.

Tan Malaka

Tan Malaka, pejuang kemerdekaan sayap kiri Indonesia. (Foto: KITLV)
Tan Malaka yang lahir di Nagari Pandam Gadang, Suliki, Limapuluh Kota, adalah keturunan bangsawan dari garis ibu. Nama lengkapnya Sutan Ibrahim Gelar Datuk Sutan Malaka. Ia pemegang gelar Datuk Tan Malaka IV.
“Semua makam datuk telah bersanding di Limapuluh Kota. Tinggal Datuk Ibrahim (Tan Malaka) saja yang terpisah di Kediri,” kata Ibarsyah, salah satu keponakan Tan Malaka, Sabtu (24/12).
Wakil Bupati Limapuluh Kota, Ferizal Ridwan, menyatakan Tan harus dimakamkan kembali di daerahnya sesuai adat Minangkabau, disertai proses pemindahan gelar.
Kepulangan Tan Malaka juga diperlukan untuk melengkapi prosesi pengukuhan Hengky Nouvaron Arsil sebagai Datuk Tan Malaka VII.
“Prosesi ini tak akan bisa dilakukan jika jasad Ibrahim Datuk Tan Malaka belum dipulangkan ke tanah kelahirannya,” kata Ferizal.
Pemulangan Tan Malaka pun merupakan salah satu janji kampanye Ferizal saat pemilihan kepala daerah. Ia, setelah dilantik, langsung mencantumkan program itu ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Limapuluhkota.
Ferizal menargetkan jasad Tan Malaka diangkat dari Kediri pada 21 Februari 2017, bertepatan dengan hari lahir sang pejuang sayap kiri itu.
“Kami sudah siapkan panitia penyambutan jenazah dan lokasi pemakaman di Limapuluh Kota,” kata Ferizal.

Makam Tan Malaka

Makam Tan Malaka di Desa Selopanggung, Kediri. (Foto: Prasetia Fauzani)
Untuk memuluskan niat memindahkan jasad Tan, Ferizal telah melobi Kementerian Sosial dan anggota DPR sejak enam bulan lalu. Upaya tersebut, menurut pria yang akrab disapa Buya Feri itu, didukung seluruh kerabat Tan Malaka.
Selain lobi, Ferizal bersama para kerabat Tan dan pegiat Tan Malaka Institute menyambangi langsung lokasi makam Tan di Desa Selopanggung, Kediri. Sudah dua kali mereka ke sana.
Kedatangan pertama pada bulan lalu, November, untuk melihat kondisi makam. Saat itu mereka menilai tak ada perhatian dari pemerintah Kediri terhadap kuburan Tan.
Kedatangan kedua pada pekan lalu, 21 Desember, untuk menjajaki lebih dalam rencana pemindahan makam Tan. Ketika itu mereka juga menyempatkan hadir pada diskusi publik tentang Tan Malaka yang digelar di kampus Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Kediri.
Diskusi itu, di luar dugaan, dihadiri jajaran pejabat pemerintah Kediri seperti Kepala Dinas Kabupaten Kediri Eko Setiyono, perwakilan Dinas Pariwisata Kediri, Camat, dan Kepala Desa Selopanggung.
Para pejabat Kediri menolak pemindahan makam Tan Malaka.
“Biarkan makam itu berada di Kediri, seperti pahlawan nasional lain yang tidak dikuburkan di tanah kelahirannya,” kata Eko Setiyono dalam diskusi di STAIN Kediri itu.
Pemerintah Kediri berjanji akan merawat makam Tan dan memperlakukannya sebagai salah satu objek wisata sejarah.
Sebagai bukti janji itu serius, pemerintah Desa Selopanggung bergegas membangun akses jalan menuju makam, hanya selang beberapa hari usai kunjungan pertama rombongan Ferizal November lalu.

Makam Tan Malaka (jangan jadi cover)

Anak tangga menuju makam Tan Malaka di Desa Selopanggung, Kabupaten Kediri. (Foto: Istimewa)
Pada jalan setapak curam menuju makam Tan Malaka di lembah, sekarang telah terpasang bronjong batu sebagai anak tangga.
“Kami akan merawat makam itu sebagai leluhur desa,” kata Kepala Desa Selopanggung, Waji.
Kediri maupun Limapuluh Kota sama-sama keras kepala menginginkan Tan Malaka.
Kedua pemerintah daerah di pulau berbeda itu lantas membentuk tim negosiasi. Perundingan pertama digelar di Kantor Bupati Kediri, satu hari usai diskusi publik di STAIN Kediri.
Negosiasi melibatkan Wakil Bupati Limapuluh Kota Ferizal Ridwan, Wakil Bupati Kediri Masykuri Iksan, dan kerabat Tan Malaka. Namun perbincangan pada forum perdana itu belum menyentuh substansi.
“Kami masih menerima permintaan mereka (Pemkab Limapuluh Kota) secara formal,” kata Kepala Bagian Humas Pemkab Kediri Haris Setiawan.
Pertemuan tersebut juga membahas legalitas prosedur pemindahan makam pahlawan. Perundingan lanjutan akan berlangsung Januari 2017.
Ferizal menjamin, pemindahan makam Tan tak akan menghapus jejak Kediri dalam sejarah hidup Tan Malaka.
“Bisa saja di Kediri dibangun petilasan untuk menjaga keterkaitan dengan makam Tan Malaka (yang baru) di Sumatera Barat,” kata dia.

Keriuhan soal makam Tan saat ini seakan menggaungkan kembali ucapan yang ia lontarkan kepada polisi rahasia Belanda ketika ia tertangkap aparat Inggris di Hong Kong sekitar tahun 1927.
Saat itu Tan berkata, “Ingatlah! Bahwa dari dalam kubur, suara saya akan lebih keras daripada dari atas bumi.”
Tan Malaka, 67 tahun setelah ia wafat, kembali membuktikan ucapannya.

NewsNasionalPahlawanKediriPemakaman

500

Baca Lainnya