• 9

Berziarah ke Makam Tan Malaka

Berziarah ke Makam Tan Malaka



COVER Makam Tan Malaka

Makam Tan Malaka di Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri. (Foto: Istimewa)
Di lereng Gunung Wilis, Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, jasad Ibrahim Datuk Tan Malaka terbaring. Tan dicatat sejarah sebagai “Pejuang sayap kiri kemerdekaan Indonesia.”
Pada Maret 1963, atau 14 tahun setelah kematiannya, Tan Malaka ditetapkan Presiden Sukarno sebagai Pahlawan Nasional. Namun gelar itu tak serta-merta membuatnya bersanding dengan kebanyakan pejuang kemerdekaan di Taman Makam Pahlawan.
Makam Tan di lereng Gunung Wilis bak di ujung dunia. Terpencil, hening. Tan sungguh-sungguh beristirahat dalam dekapan alam, jauh dari ingar-bingar mayapada.

Tan Malaka

Tan Malaka, pejuang kemerdekaan sayap kiri Indonesia. (Foto: KITLV)
Berziarah ke makam Tan bukan perkara mudah. Hingga kini, tak ada satupun petunjuk yang dipasang di Desa Selopanggung untuk menjelaskan keberadaan makam Tan Malaka.
Yang ada di kelokan jalan menuju makam Tan justru papan besar berisi petunjuk menuju wisata batu sungai –objek wisata batu besar di pinggir sungai yang, menurut beberapa warga, menjadi asal-usul nama Desa Selopanggung yang secara harfiah berarti “batu panggung” atau “batu tinggi.”
Marabahaya juga mengintai jika kita tak hati-hati dalam perjalanan menuju kubur Tan. Jalan selebar tiga meter menuju ke sana amat rawan. Jalan itu tak beraspal, dilengkapi sejumlah kelokan tajam disertai turunan dan tanjakan.
Deretan batu yang dijajar sebagai alas jalan, turut mempersulit kendali roda kendaraan di musim hujan. Bisa dibilang, ini etape maut. Dua mobil dari arah berlawanan tak mungkin melalui jalur ini tanpa bergantian.
Usai melewati jalan berkelok itu, rute berikutnya bahkan lebih ekstrem. Peziarah akan bertemu jalan setapak diapit lereng gunung dan lembah sungai yang cukup dalam.
Dalam kondisi hujan, jalanan itu lebih pantas disebut jalur kubangan. Jebakan genangan menanti, menjadi tantangan bagi roda kendaraan untuk tetap melaju.
Tak heran dengan kondisi semacam ini, jalan tersebut tak banyak dilintasi warga selain pencari kayu bakar dan rumput.
Setelah 300 meter, rute berat berakhir di sebuah kelokan. Tikungan itu menjadi penanda bahwa peziarah makin dekat dengan makam Tan.

Makam Tan Malaka (bukan untuk cover)

Anak tangga menuju makam Tan Malaka. (Foto: Istimewa)
Kuburan Tan Malaka tak berdiri di pinggir jalan atau sewajarnya lokasi pemakaman umum, meski berlokasi di kompleks pemakaman Desa Selopanggung. Makam itu berada di bawah lembah.
Tak sedikit peziarah yang terpeleset saat menuruni jalan setapak menuju makam, sebab jalan itu memiliki sudut elevasi curam.
Peziarah juga harus meniti jembatan bambu melintasi aliran sungai irigasi.
Sekitar dua pekan lalu, setelah makam Tan kian ramai diberitakan menjadi rebutan antara Pemerintah Kabupaten Kediri dan Pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota Sumatera Barat, jalan setapak menuju makam Tan diperbaiki oleh pemerintah Desa Selopanggung.
Bronjong batu sebagai anak tangga dipasang di jalan setapak itu. “Belum sebulan dibangun,” kata Erpiah, warga desa setempat, Sabtu (24/12).
Erpiah bercerita, tak banyak warga Selopanggung hilir mudik ke kompleks pemakaman yang tak terlalu luas itu untuk merawat kuburan kerabat mereka. Lokasi yang sulit dijangkau jadi alasan utama. Kompleks makam itu jauh dari permukiman penduduk.
Itu sebabnya pula, kompleks pemakaman Desa Selopanggung sampai sekarang tak punya juru kunci.
Tak ada biaya khusus untuk merawat kuburan-kuburan di sana. Sebagai pengganti biaya perawatan, sebuah kotak amal dari kayu dipasang di pintu masuk makam.

Makam Tan Malaka

Makam pejuang kemerdekaan Indonesia, Tan Malaka, di Kediri. (Foto: Istimewa)
Uniknya, meski tergolong jarang dikunjungi orang, selalu saja ada peziarah individu atau rombongan yang mendatangi makam Tan Malaka.
Biasanya, kata Erpiah, para peziarah mendatangi makam Tan untuk berdoa, juga berfoto. Ada rombongan peziarah yang bahkan diam-diam memugar makam Tan yang sebelumnya bernisan batu menjadi bangunan semen dengan papan marmer sebagai keterangan identitas jenazah.
Rombongan peziarah itu di kemudian hari diketahui adalah para keponakan Tan yang datang dari Jakarta. Mereka memugar makam Tan melibatkan penduduk desa. Pemugaran berlangsung kilat, hanya satu hari.
“Kami tak melibatkan Pemerintah Kediri sama sekali,” kata Ibarsyah, keponakan Tan Malaka yang memimpin pemugaran makam pamannya itu.
Ibarsyah prihatin dengan kondisi makam Tan yang alakadarnya. Maka ia menggalang para kerabat Tan lainnya, termasuk Hengky Nouvaron Arsil, penerus gelar Datuk Tan Malaka VII yang juga pewaris ketua adat di Kabupaten Limapuluhkota, Sumatera Barat, untuk memugar makam Tan delapan bulan lalu, pada April 2016.
Pemugaran kuburan Tan disertai tahlil bersama di lokasi makam bersama penduduk setempat.

Makam Tan Malaka

Makam Tan Malaka di Desa Selopanggung, Kediri. (Foto: Prasetia Fauzani)
Pemerintah Kabupaten Kediri selama ini nyaris tak melirik keberadaan makam tersebut karena tak tahu benar tidaknya jasad yang terkubur di sana adalah Tan Malaka.
“Belum tentu itu makam Tan Malaka,” ujar Kepala Bagian Humas Pemerintah Kabupaten Kediri Haris Setiawan, ketika makam Tan belum ramai diperbincangkan.
Makam itu baru mulai mendapat sorotan ketika sejarawan Belanda Harry Poeze yang menelusuri jejak Tan Malaka selama 40 tahun, menyebutnya sebagai kuburan Tan Malaka.
Namun keyakinan Poeze itu tak lantas membuat pemerintah daerah memberi perhatian pada makam di lereng gunung tersebut. Pemkab Kediri semula ingin kepastian bahwa jasad yang terbaring di sana benar-benar Tan Malaka. Mereka meminta dilakukan pembuktian jenazah melalui uji DNA.
Uji DNA lantas digelar oleh tim medis RSCM Jakarta di bawah pimpinan Zulfikar Kamarudin, keponakan Tan Malaka, pada 2009.

Makam Tan Malaka

Makam pahlawan nasional aliran kiri Indonesia, Tan Malaka, di Kediri. (Foto: Istimewa)
Kerabat Tan Malaka kini bertekad memboyong jasad Tan ke Limapuluh Kota, Sumatera Barat. Mereka ingin memakamkan Tan secara layak sebagai ketua adat tertinggi bersama jasad para Datuk Tan Malaka lainnya.
Ibarsyah menegaskan, Tan Malaka adalah pemegang gelar Datuk Tan Malaka IV.
“Semua makam datuk telah bersanding di Limapuluh Kota. Tinggal Datuk Ibrahim (Tan Malaka) saja yang terpisah di Kediri,” kata Ibarsyah.
Namun kini, tampaknya hal itu tak mudah dilakukan. Pemerintah Kabupaten Kediri hendak mempertahankan makam Tan di wilayah pemerintahan mereka.
“Dengan rasa hormat, kami minta pada Pemkab Limapuluh Kota agar makam (Tan) tetap di Kediri,” kata Kepala Dinas Sosial Kabupaten Kediri Eko Setiyono seperti dilansir Antara, Rabu (21/12).
Bertahun-tahun dalam sejarah negeri ini, setelah Tan Malaka tewas, namanya disingkirkan dari buku-buku sejarah karena faktor perbedaan sikap politik.
Betapa miris dan ironis. Tan, yang pada akhir hidupnya dianggap pemerintah Republik Indonesia sebagai tokoh oposisi berbahaya dan ditembak mati oleh prajurit Divisi Brawijaya, kini diperebutkan jasadnya.
Semoga jiwa Tan Malaka beristirahat dengan tenang, dalam damai, di manapun raganya berada.

Lihat jejak Tan Malaka di sini

SejarahNasionalPahlawanKediriTan Malaka

500

Baca Lainnya