Pencarian populer
8 Oktober 2017 14:39 WIB
0
0
Dwi Hartanto dan Cerita Bohong soal Jet Tempur Siluman Eropa
Dwi Hartanto (Foto: PPI Delft)
Dwi Hartanto memberikan informasi palsu. Demikian lima lembar surat klarifikasi yang saya baca pagi ini, lengkap dengan tanda tangan Dwi di atas meterai. Kabar mengejutkan di Minggu pagi yang mestinya tenang.
Padahal, baru beberapa hari lalu saya berkorespondensi dengan Dwi via surat elektronik. Itu surel kesekian setelah sejak awal Agustus lalu kami saling berbalas email. Dwi memang hangat dan ramah--serta tak segan membagi informasi yang terkesan sensitif.
Tentang siapa Dwi, untuk tak berlama-lama, dapat disimak pada artikel berikut: Skandal Dwi Hartanto: Ilmuwan Indonesia di Belanda
Intinya, Dwi Hartanto ialah ilmuwan Indonesia yang tengah menempuh studi doktoral di Technische Universiteit Delft, Belanda. Ia mestinya menempuh ujian disertasi pada 13 September, namun ditunda karena harus menjalani sidang pelanggaran kode etik yang digelar TU Delft.
Berikut petikan surat klarifikasi Dwi yang disebarluaskan ke berbagai pihak sebagai permohonan maaf resminya:
… beberapa waktu terakhir ini telah beredar informasi berkaitan dengan diri saya yang tidak benar, baik melalui media massa maupun media sosial. Khususnya perihal kompetensi dan latar belakang saya terkait bidang teknologi kedirgantaraan (Aerospace Engineering) seperti teknologi roket, satelit, dan pesawat tempur.
Melalui dokumen ini, saya bermaksud memberikan klarifikasi dan memohon maaf atas informasi-informasi yang tidak benar tersebut. Saya mengakui bahwa kesalahan ini terjadi karena kekhilafan saya dalam memberikan informasi yang tidak benar (tidak akurat, cenderung melebih-lebihkan), serta tidak melakukan koreksi, verifikasi, dan klarifikasi secara segera setelah informasi yang tidak benar tersebut meluas.
Ketidakakuratan informasi yang saya sebutkan sebelumnya belakangan ini terkuak selebar-Iebainya, dan menimbulkan kegelisahan di masyarakat Indonesia, khususnya di antara alumni almamater saya, TU Delft.
Pencabutan Penghargaan Dwi Hartanto (Foto: http://ina.indonesia.nl)
Selanjutnya pada Bagian V surat klarifikasi tersebut, Dwi secara spesifik menyinggung soal kompetisi antarlembaga luar angkasa yang menurutnya pernah ia ikuti.
Terkait dengan informasi mengenai kemenangan saya di lomba riset teknologi antar-space agency dunia di Jerman 2017…
• Saya mengakui bahwa ini adalah kebohongan semata.
• Saya tidak pernah memenangkan lomba riset teknologi antar-space agency dunia di Jerman pada tahun 2017
• Saya memanipulasi template cek hadiah yang kemudian saya isi dengan nama saya disertai nilai nominal EUR 15000, kemudian berfoto dengan cek tersebut. Foto tersebut saya publikasikan melalui akun media sosial saya dengan cerita klaim kemenangan saya.
• Teknologi “Lethal weapon in the sky” dan klaim paten beberapa teknologi adalah tidak benar dan tidak pernah ada.
• Informasi mengenai saya bersama tim sedang mengembangkan teknologi pesawat tempur generasi ke-6 adalah tidak benar.
• Informasi bahwa saya (bersama tim) diminta untuk mengembangkan pesawat tempur EuroTyphoon di Airbus Space and Defence menjadi EuroTyphoon NG adalah tidak benar.
• Lokasi pengambilan foto yang sebenarnya adalah di gedung Space Business Innovation Centre di Noordwijk, Belanda, saat saya mengikuti lomba hackathon Space Apps Challenge. Perlombaan ini terbuka untuk pelajar dan profesional. Saat itu saya bergabung dalam suatu tim mahasiswa dan kami tidak menang. Topik tim kami dalam lomba ini adalah “Monitoring groundwater changes through satellite technology”.
Pengakuan Dwi tersebut jelas mengejutkan. Sebab perkara teknologi tingkat tinggi semacam itu amat berbahaya untuk dijadikan lelucon.
Pertengahan Agustus lalu, Dwi dalam emailnya bercerita terlibat perancangan jet tempur generasi ke-6, setelah timnya di Airbus sukses mengembangkan pesawat tempur generasi ke-5, Eurofighter Typhoon NG yang kini memasuki tahap akhir pengujian.
Dwi ketika itu mengaku menjabat sebagai Technical Director di produsen pesawat raksasa Airbus Defence and Space, dan Technology Lead di Spacecraft Research and Technology Centre Badan Antariksa Eropa (ESA), sementara pada saat bersamaan ia menjadi kandidat full Professor permanent di TU Delft Belanda--salah satu universitas teknik bergengsi dan tertua di Belanda.
Sungguh hebat, apalagi Airbus Defence and Space ialah perusahaan besar Eropa yang bergerak di bidang produksi dan jasa pertahanan serta kedirgantaraan.
Semula, kata Dwi, ia dan timnya diminta untuk meng-upgrade pesawat tempur generasi 4,5 Eurofighter Typhoon menjadi jet tempur generasi ke-5, Eurofighter Typohon NG (Next Generation).
Eurofighter Typohon NG sukses dirilis ke pasar, dan disebut Dwi punya kemampuan tempur setara, bahkan jauh lebih baik daripada jet-jet siluman generasi 5 keluaran Lockheed Martin AS seperti F-22 Raptor dan F-35 Lightning II; juga dibanding Su-57 buatan Sukhoi Rusia, dan Chengdu J-20 buatan China.
Eurofighter Typhoon (Foto: eurofighter.com)
“Keberhasilan dengan Eurofighter Typhoon NG itu membuat saya dan tim diminta meneruskan pengembangan teknologinya ke level berikutnya--kategori pesawat tempur generasi ke-6 yang jauh lebih kompleks dan canggih,” kata Dwi.
Untuk itu, ujarnya, ia melakukan riset yang hasilnya diberi judul Lethal Weapon in The Sky (Senjata Mematikan di Angkasa). Riset itu disebutnya mengantarkan ia dan timnya memenangi kompetisi riset teknologi dunia antar-Badan Antariksa di Köln, Jerman--yang kemudian dikatakan Dwi adalah bohong.
“Kompetisi itu memunculkan topik-topik riset teknologi tinggi. Tahap seleksinya tak mudah. Sebelum bertanding di Köln, para ilmuwan harus melewati seleksi internal di Badan Antariksa tempatnya bekerja masing-masing,” kata Dwi bulan lalu.
Lebih lanjut ia berujar, Lethal Weapon in The Sky berhasil menjuarai kategori riset Spacecraft Technology. Riset tersebut, kata Dwi, mencakup teknologi hybrid air-breathing rocket engine yang memungkinkan pesawat tempur generasi ke-6 melesat dalam jangkauan atmosfer Bumi--hingga ketinggian 300 kilometer--dan di luar atmosfer Bumi (near-space).
Jet tempur generasi sebelumnya, kata Dwi, tak dapat menjangkau near-space karena keterbatasan oksigen. Ini membuat pesawat tempur generasi ke-6 yang diaku dikembangkan Dwi dan timnya punya daya jelajah dan kemampuan manuver tinggi dan amat fleksibel.
Hybrid air-breathing rocket engine mampu beroperasi bergantian dari mode penerbangan level atmosfer ke mode penerbangan near-space, atau sebaliknya, dalam kecepatan hipersonik. Tentu saja ini mengalahkan performa mesin dan kecepatan pesawat tempur generasi ke-5 yang hanya mengandalkan teknologi afterburner konvensional,” kata Dwi.
Teknologi baru itu, ujar Dwi, akan mengubah strategi tempur jet-jet generasi ke-6 menjadi lebih “mematikan”.
“Dilengkapi radar (jamming) modern, dia mampu bermanuver meninggalkan atmosfer, melesat dengan kecepatan hipersonik di luar atmosfer, dan masuk ke wilayah jelajah baru. Amat gesit. Itulah kenapa kami menamai teknologi ini lethal weapon in the sky,” kata Dwi.
Pesawat generasi ke-6 itu, ujar Dwi, kini masuk tahap riset dan pengembangan. “Prototipe tersebut sedang dites di terowongan angin dan beberapa lab. Dalam waktu dekat akan dilakukan uji coba terbang rahasia.”
Terowongan angin (wind tunnel) yang dimaksud Dwi adalah peralatan untuk melakukan pengujian aerodinamik, guna mempelajari efek dari udara yang bergerak melewati benda padat yang menjadi model, umumnya pesawat.
Selain hybrid air-breathing rocket engine, jet tempur yang semula diklaim dikembangkan tim Dwi juga menggunakan teknologi tempur mode baru, yakni electromagnetic radar jamming yang mampu mengacaukan dan merusak sistem avionik pesawat musuh, serta sistem senjata misil berbasis komputer dengan daya jangkau 25 kilometer.
Electromagnetic radar jamming, berdasarkan uji coba yang dilakukan sejauh ini, ujar Dwi, mampu mengacaukan radar yang biasa dipasang pada jet tempur Sukhoi Su-35 Rusia, dan F-22 Raptor serta F-15 Eagle buatan AS. Padahal, radar-radar pesawat itu dikenal tangguh dan mampu mendeteksi objek dalam radius 200 km hingga 400 km.
Dengan teknologi tingkat tinggi semacam itu, Dwi mengaku diincar oleh perusahaan pesaing Airbus, Lockheed Martin.
Dwi Hartanto (Foto: Dok. Dwi Hartanto)
Masih menurut cerita Dwi--yang kini disebutnya bohong--di Köln, selepas mempresentasikan hasil risetnya, Lethal Weapon in The Sky, ia dihampiri sejumlah orang dengan raut serius. Mereka, menurutnya, perwakilan Badan Antariksa Amerika Serikat, NASA, dan pabrik pesawat tempur besar AS, Lockheed Martin.
“Mereka tertarik dengan teknologi yang sedang saya kembangkan bersama tim, dan menawarkan kerja sama strategis dengan masuk dalam program transfer teknologi untuk membantu mengembangkan proyek di tempat mereka,” kata Dwi.
Tapi, lanjutnya, “Tawaran itu mesti dipertimbangkan matang, sebab Airbus Defence and Space (yang disebut Dwi sebagai kantornya) jelas saingan Lockheed Martin,” ujar Dwi.
Itu kata Dwi bulan Agustus. Kemarin, Sabtu (7/10), dalam lima lembar surat klarifikasi, ia menyebut semua ceritanya itu tak benar.
Tidak benar bahwa saya merupakan Direktur Teknik ESA (Badan Antariksa Eropa)/ESTEC (The European Space Research and Technology Centre) seperti yang tertera dalam ID card pada foto postingan saya 15 Juni 2017.
Untuk menghindari semakin tersebarnya informasi-informasi yang tidak benar tersebut, maka saya telah melakukan deaktivasi akun Facebook saya per tanggal 10 September 2017. Untuk ke depannya, saya berjanji akan menggunakan media sosial secara bijak dan tidak lagi menyebarkan informasi-informasi yang salah maupun menyesatkan, yang dapat merugikan banyak pihak.
… Saya tidak pernah menempuh studi ataupun memiliki gelar akademik yang berkaitan dengan kedirgantaraan (Aerospace Engineering). Riset saya saat Master di TU Delft memang beriiisan dengan sebuah sistem satelit, tetapi lebih pada bagian telemetrinya.
Saya juga mengklarifikasi dengan tegas bahwa semua kekhilafan dan kebohongan yang terimplikasi pada berita-berita yang saya jelaskan sebelumnya tidaklah mempengaruhi integritas saya dalam melakukan penelitian program doktoral saya pada bidang interactive intelligence.
Dwi Hartanto (Foto: Dok. Dwi Hartanto)
Beberapa hari lalu, awal Oktober, Dwi Hartanto kembali membalas email saya. Saat itu saya bertanya tentang bahan wawancara mana yang sensitif, sekaligus mengulangi pertanyaan terkait Airbus yang belum terjawab.
Dalam email balasannya, Dwi mengatakan sedang “mendapatkan musibah dan cobaan”, dan karenanya meminta semua bahan wawancara dia dibatalkan.
Dan pagi ini, saya--juga banyak orang lain--menerima surat klarifikasi dari Dwi Hartanto.
Dimulai pada tanggal 25 September 2017, pihak TU Deflt melakukan serangkaian sidang kode etik terhadap saya, berkaitan dengan informasi-informasi yang telah sampai ke mereka... Hingga klarifikasi ini saya sampaikan, TU Delft masih berada dalam proses pengambilan sikap/keputusan.
Sebagai penutup, sekali lagi saya mengucapkan permohonan maaf sebesar-besarnya pada semua pihak yang telah dirugikan atas tersebarnya informasi-informasi tidak benar terkait pribadi, kompetensi, dan prestasi saya.
Saya mengakui dengan jujur kesalahan/kekhilafan dan ketidakdewasaan saya, yang berakibat pada terjadinya framing, distorsi informasi atau manipulasi fakta yang sesungguhnya secara luas melebih-lebihkan kompetensi dan prestasi saya. Saya sangat berharap bisa berkenan untuk dibukakan pintu maaf yang sebesar-besarnya.
Untuk itu saya berjanji:
1. Tidak akan mengulangi kesalahan/perbuatan tidak terpuji ini lagi,
2. Akan tetap berkarya dan berkiprah dalam bidang kompetensi saya yang sesungguhnya dalam sistem komputasi dengan integritas tinggi,
3. Akan menolak untuk memenuhi pemberitaan dan undangan berbicara resmi yang di luar kompetensi saya sendiri, utamanya apabila saya dianggap seorang ahli satellite technology and rocket development, dan otak di balik pesawat tempur generasi keenam.
Klarifikasi ini saya sampaikan dan tanda tangani atas kesadaran sepenuhnya dari diri saya tanpa paksaan maupun tekanan dari pihak manapun. Saya juga ucapkan terima kasih kepada sahabat-sahabat alumni dan mahasiswa TU Delft yang telah mengutamakan pendekatan persuasif dalam menyelesaikan permasalahan ini, dan telah berperan aktif membantu memfasilitasi saya dalam melakukan klarifikasi.
Perbuatan tidak terpuji/kekhilafan saya seperti yang tertulis di dokumen ini adalah murni perbuatan saya secara individu yang tidak menggambarkan perilaku pelajar maupun alumni Indonesia di TU Delft secara umum.
Dwi Hartanto (Foto: Dwi Hartanto)
Dwi kini jelas banjir cacian, meski tak sedikit pula yang mengapresiasi karena ia mau mengakui perbuatannya secara terbuka.
Pada akhirnya, selalu ada pelajaran yang dipetik dari tiap peristiwa. Semoga.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2018 © PT Dynamo Media Network
Version: web: