kumparan
search-gray
News7 Juli 2017 6:57

Mayat Merancap dari Perut Bumi dan Kota yang Hilang

Konten Redaksi kumparan
Mayat Merancap dari Perut Bumi dan Kota yang Hilang (26858)
Mayat letusan Vesuvius di Pompeii. (Foto: Twitter/@PersianRose1)
Anda mungkin akan tertawa terpingkal-pingkal, atau sekadar menyeletuk “ada-ada saja” ketika melihat salah satu foto yang diunggah di akun Instagram Parco Archeologico di Pompei --lembaga pengawas khusus untuk memantau warisan arkeologi Naples dan Pompeii di Italia.
ADVERTISEMENT
Bagaimana tidak, gambar tersebut memperlihatkan jasad pria “termumikan” abu vulkanik dengan tangan seperti menggenggam penisnya. Melihat pose nyeleneh ini, seperti bisa diduga, jagat maya langsung riuh. Komentar bertebaran dari netizen di berbagai negara, dalam Bahasa Italia maupun Inggris.
“Ejaculation before evacuation.”
“I wonder if he and the volcano erupted together at the same time.”
Bukan main “nakal”-nya komentar-komentar itu, sementara jiwa dari raga yang sedang ditertawakan dunia itu terbang entah ke mana.
Mayat si lelaki dengan pose merancap atau bermasturbasi itu segera viral. Jadi bahan candaan global.
Jika saja dia tahu, mungkin ia akan berpikir, “Ah, andai aku tak pernah ditemukan.”
Dia adalah warga Pompeii --kota pada zaman Romawi kuno yang terkubur dan hancur oleh letusan Gunung Vesuvius pada tahun 79. Ya, 1938 tahun yang lalu.
ADVERTISEMENT
Mayat Merancap dari Perut Bumi dan Kota yang Hilang (26859)
Kota Pompeii di kaki Gunung Vesuvius. (Foto: Wikipedia)
Vesuvius di timur Napoli yang disebut sebagai salah satu gunung berapi paling berbahaya di dunia, tahun 79 itu mengamuk dahsyat, melontarkan amarah mengerikan hingga melumatkan Pompeii dan seisinya. Mengubur hidup-hidup seluruh warga dengan segala kegiatan yang sedang mereka lakukan di dalamnya.
Blaaarr!! Sekejap sore itu, 24 Agustus, Pompeii bak lenyap lesap ke perut bumi.
Pompeii menjadi kota yang hilang. Seperti Atlantis. Tepat pada hari perayaan Dewa Api.
Video
Pompeii yang berdiri abad ke-6 Sebelum Masehi, sesungguhnya telah terbiasa dengan bencana alam. Sekitar 17 tahun sebelum letusan mematikan Vesuvius datang, yakni tahun 62, gempa hebat memorak-porandakan Pompeii dan kota-kota sekitarnya di Campania, selatan Italia.
Luluh lantak tak meredupkan denyut Pompeii. Penghuninya berjibaku membangun kembali kota mereka --lebih megah, mewah, dan menawan.
ADVERTISEMENT
Apa yang hancur selalu dapat didirikan lagi.
Mayat Merancap dari Perut Bumi dan Kota yang Hilang (26860)
Pompeii. (Foto: Wikimedia Commons)
Penduduk Pompeii, yang hidup makmur berlimpah tanah subur di kaki Vesuvius, berhati baja dan tak kenal takut --atau mungkin setengah pongah. Getaran-getaran dan gempa kecil yang rutin mereka rasakan, sama sekali tak membuat ciut nyali.
Tapi justru, itu pula yang membuat mereka lengah. Tak mewaspadai getaran gempa ringan yang makin sering terjadi mulai 20 Agustus tahun 79.
Pertanda sesungguhnya telah muncul sejak awal bulan. Pekan pertama Agustus itu, sumur-sumur dan mata air di Pompeii mengering.
Proses pembangunan kembali Pompeii menjadi kota spektakuler belum berakhir ketika magma Vesuvius menggelegak naik ke mulut kawah dan meledakkan lahar yang menenggelamkan Pompeii ke perut bumi.
Mayat Merancap dari Perut Bumi dan Kota yang Hilang (26861)
Erupsi Gunung Vesuvius. (Foto: Pinterest/Simone Anderson)
Caius Plinius Caecilius Secundus, penulis sejarah yang lebih dikenal dengan sebutan Plinius Muda, sedang berada di rumah pamannya di Misenum, barat laut Teluk Napoli, 35 kilometer dari Vesuvius, ketika melihat awan gelap muncul dari mulut gunung.
ADVERTISEMENT
Awan itu kemudian meluncur turun ke lereng-lereng gunung dan menyapu segala yang dilewatinya. Bumi bergoncang, dan debu tebal menyelubungi udara lalu jatuh ke tanah. Laut ikut mengamuk, mengirim gelombang tsunami ke daratan.
Dunia sontak berubah wajah. Terang langit berganti kelam. Kehancuran melanda.
Awan hitam yang dilihat Plinius Muda ialah aliran piroklastik berisi kumpulan abu, bebatuan, dan gas panas mendidih yang bergerak dengan kecepatan ratusan mil per jam.
Panas awan maut itu, di atas mulut Vesuvius, mencapai 850 derajat Celcius, kemudian “mendingin” menjadi sekitar 340 derajat Celcius ketika sapuannya sampai di Pompeii.
Kali itu, Pompeii tak sekadar hancur, tapi musnah.
Mayat Merancap dari Perut Bumi dan Kota yang Hilang (26862)
Reruntuhan Pompeii. (Foto: Reuters/Ciro De Luca)
Pompeii terbenam, tapi ternyata tak selamanya raib.
Setelah 1.669 tahun, kota hilang itu ditemukan kembali dan digali dari kedalaman perut bumi. Di dalamnya, berserak jasad-jasad manusia yang tertimbun reruntuhan bangunan terawetkan oleh gelombang panas piroklastik.
ADVERTISEMENT
Ekskavasi serius atas Pompeii dimulai tahun 1748 untuk memunculkan kembali kota “hantu” itu ke peradaban manusia. Pompeii kemudian ditetapkan UNESCO menjadi salah satu situs warisan dunia karena nilai historisnya.
Mayat Merancap dari Perut Bumi dan Kota yang Hilang (26863)
Pompeii. (Foto: Instagram @pompeii_parco_archeologico)
Saat Pompeii digali tahun 1748, di dalamnya ditemukan berbagai benda dan karya seni erotis, semisal simbol lingga atau tiang seperti penis tegak yang banyak dilukis di rumah-rumah sampai ruang-ruang publik seperti jalanan dan pasar.
Namun, artefak erotis tersebut rupanya membuat tak nyaman sebagian pejabat. Salah seorang raja yang menghadiri pameran koleksi temuan Pompeii tahun 1819, begitu malu dan marah melihat ragam barang purbakala mesum dari kota itu, dan memerintahkan objek-objek tersebut dipindah ke museum lain yang hanya bisa diakses para ilmuwan, tapi tidak untuk khalayak.
ADVERTISEMENT
Tak bisa tidak, menggali Pompeii ialah menemukan bahwa kota itu begitu lekat dengan aura sensual. Rumah-rumah bordil muncul dari perut bumi. Bukan cuma satu-dua, tapi puluhan. Luar biasa.
Mayat Merancap dari Perut Bumi dan Kota yang Hilang (26864)
Rumah bordil di Pompeii. (Foto: Pinterest/Kio Aoyagi)
Seks dan hiburan adalah industri penting di kota Romawi abad pertama ini. Lupanare Grande, rumah bordil tertua di dunia, meyembul berdiri begitu tanah tersapu. Ia berlokasi tepat di pusat kota Pompeii, hanya dua blok dari alun-alun. Memberi kemudahan akses bagi siapapun yang hendak singgah melepas dahaga.
Betapapun seronoknya, Lupanare adalah “harta” peninggalan Pompeii, situs sejarah dengan nilai tinggi. Butuh waktu setahun penuh dan dana tak kecil untuk “mengangkatnya” dari perut bumi. Dengan biaya sekitar Rp 3,5 miliar, Lupanare direnovasi hingga kembali “bersih”.
ADVERTISEMENT
Dibanding Lupanare yang dindingnya dipenuhi lukisan erotis persetubuhan manusia, si mayat “merancap” bukanlah apa-apa.
Apapun, Parco Archeologico di Pompei tak terima objek peninggalan masa lalu milik mereka menjadi bahan lelucon kelas internasional, dan segera memberikan klarifikasi.
“Kami membantah semua rumor yang beredar mengenai gambar ini. Orang ini tewas oleh gelombang piroklastik saat letusan (Vesuvius) tahun 79, dan semua berita yang ditulis mengenainya (bahwa ia sedang bermasturbasi) adalah palsu,” demikian keterangan resmi Parco Archeologico di Pompei pada akun Instagram mereka.
Ahli vulkanologi Dr. Petrone, seperti dikutip dari BBC, sebelumnya mengatakan si lelaki nahas belum tentu sedang merancap seperti terlihat oleh mata awam. Ada jarak dua milenium yang memisahkan “penonton”-nya di masa kini, dengan dia di masa lalu. Dan jarak itu berpotensi memunculkan bias dari realitas.
ADVERTISEMENT
Petrone yang telah seperempat abad mempelajari kematian para korban letusan Gunung Vesuvius menjelaskan, pose aneh si lelaki, dengan kedua lengan dan kaki tertekuk, bisa jadi merupakan kondisi kaku otot atau kejang pada jenazah karena terkena kejutan termal akibat aliran piroklastik yang saat itu menyergap dan memanggang seisi kota.
Mayat Merancap dari Perut Bumi dan Kota yang Hilang (26865)
Pompeii. (Foto: Instagram @pompeii_parco_archeologico)
Pompeii, dengan segala misteri kuno yang melingkupinya, selamanya mungkin akan menjadi tanda tanya bagi umat manusia.
Mayat Merancap dari Perut Bumi dan Kota yang Hilang (26866)
Pompeii. (Foto: Instagram @pompeii_parco_archeologico)
Vesuvius opened its jaws – smoke poured out – the flames Opened up widely, as a battle flag. The Earth is worried – from shaken up columns The idols are falling!
--Alexander Pushkin
Dari berbagai sumber
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
sosmed-whatsapp-white
sosmed-facebook-white
sosmed-twitter-white
sosmed-line-white