• 1

Merajut Topi Santa dengan Cengkerama Hangat

Merajut Topi Santa dengan Cengkerama Hangat



Topi Santa Claus

Salah satu penjual topi Santa Claus di Jakarta menjelang Natal. (Foto: Mustaqim Amna)
Perca hijau dan merah berserak di lantai satu rumah di Kota Bekasi, Jawa Barat. Potongan-potongan kain itu merupakan bahan dasar untuk membuat kostum Santa Claus atau Sinterklas, si kakek gempal baik hati yang kerap membagi-bagikan kado kepada anak-anak di seluruh dunia saat malam Natal.
Sinterklas bukan tokoh nyata. Ia fantasi manis untuk membahagiakan para bocah. Sebab apalah yang lebih penting ketimbang melihat binar-binar di mata polos mereka.
“Santa Claus hanya tokoh fiksi. Tidak ada sangkut pautnya dengan tokoh keagamaan,” kata Siska, pemilik rumah di Bekasi yang dipenuhi tebaran perca merah hijau itu, saat ditemui kumparan di kediamannya, Selasa (20/12).
Siska, 38 tahun, ialah pemilik konfeksi rumahan yang memproduksi kostum Santa saat Natal mulai dekat. Tentu saja, pernak-pernik Sinterklas laris dijual menjelang Natal.
“Topi Santa hanya pelengkap untuk memeriahkan Natal, seperti bando Natal. Bukan atribut keagamaan. Sama halnya dengan dengan ketupat sebagai atribut lebaran. Tradisi saja,” ujar Yanti, salah satu pegawai Siska.
Yanti seorang muslim, seperti juga mayoritas pegawai di konfeksi kecil tersebut. Tak sekalipun para karyawan itu membicarakan soal perbedaan keyakinan mereka.

Pembuatan Topi Santa Claus di Bekasi

Seorang pengrajin sedang membuat topi santa claus di daerah Bekasi, Jawa Barat (Foto: Mustaqim Amna)
Suasana akrab menyelimuti rumah itu. Sembari menjahit topi Santa, para pegawainya bercengkerama hangat bak keluarga sendiri. Santai dan cair.
Raut wajah ceria terlihat meski mereka harus menyelesaikan banyak kostum Santa. Para karyawan tak berjarak dengan pemilik konfeksi.
Toleransi terjaga baik. Persahabatan melampaui sekat keimanan.

Pembuatan Topi Santa Claus di daerah Bekasi

Seorang pengrajin sedang menjahit topi santa claus (Foto: Mustaqim Amna)
Konfeksi milik Siska berdiri pada 2005, dan berbisnis dengan konsep online shop mulai 2006. Di luar kostum Natal, mereka memproduksi boneka, tas, gantungan kunci, dan aneka ragam pernak-pernik lainnya.
Saat disinggung soal Topi Santa yang belakangan ramai diperbincangkan di media sosial, termasuk tentang ormas tertentu yang menggelar “razia” ke toko-toko dan mal untuk melihat apakah ada “pemaksaan” pemakaian Topi Santa kepada para pegawainya, Siska dan karyawannya tersenyum simpul.
Mereka enggan berkomentar banyak, menganggap topi Santa sama sekali tak berbahaya.
“Semoga kebahagiaan Natal menjadi milik kita semua,” ujar Siska.


Natal 2016NatalSanta KlausKado Natal

500

Baca Lainnya