Pencarian populer

Murakami dan Pelukan Sahabat

“Baik-baik, ya. Kamu selalu bisa,” kata seorang sahabat memeluk saya sebelum kami berpisah malam itu.

Saya tersenyum tipis dan menyahut singkat, “Kita lihat nanti, kita lihat…”

Sepanjang perjalanan pulang berkereta, saya duduk tenang membaca Colorless Tsukuru Tazaki and His Years of Pilgrimage versi Bahasa Indonesia. Novel Haruki Murakami itu saya ambil spontan dari rak di toko buku kala hati berkecamuk.

Saya sebetulnya sudah membaca edisi Bahasa Inggris buku itu via e-book. Tapi entahlah, saya mengambil begitu saja terjemahannya--mungkin karena saya lupa separuh isi ceritanya.

Hal lain ialah karena deretan kata pada halaman pertamanya terasa begitu kelam, kuat mengisap bak medan magnet lubang hitam. Sungguh godaan buat saya yang tengah dilanda kalut. Dan mungkin karena itu kami (saya dan buku itu) berjodoh.

Salut pada sang penerjemah, Ibu Ribeka Ota, yang amat piawai dalam memilih kata. Sungguh, tak semua buku bagus diterjemahkan bagus.

Sekadar mengalihbahasakan bak mesin Google Translate, tanpa punya rasa atas alur dan nyawa cerita, akan berakhir bencana bagi pembaca. Kalau sudah begitu, buku yang ditulis pemenang Nobel Kesusastraan sekalipun akan percuma.

Kembali ke Colorless Tsukuru Tazaki (atau Tsukuru Tazaki Tanpa Warna dalam Bahasa Indonesia), saya tersentak saat membuka lembar-lembar penghabisan. Buku itu memang bicara pada saya.

Tidak, dia tidak berkepala dingin dan tenang, juga tidak selalu hidup dengan caranya sendiri. Itu sekadar persoalan keseimbangan. Dia hanya terbiasa menyeimbangkan beban yang dipikul di sebelah kanan dan di sebelah kiri titik pikul dengan baik.

Barangkali terlihat enteng di mata orang lain. Tetapi sebenarnya sama sekali bukan pekerjaan mudah. Lebih merepotkan daripada yang terlihat dari luar. Lagi pula, walaupun beban-beban itu dapat diseimbangkan dengan baik, tidak berarti seluruh berat yang membebani titik pikul berkurang walau sedikit.

Karena itulah sahabat saya menghadiahi pelukan itu. Dia tahu saya membutuhkannya. Dia sudah memprediksi itu dari jauh-jauh hari, melampaui apa yang bisa saya lihat di awal.

Bukan berarti dia sendiri tak punya beban. Selalu ada beban di pundak setiap orang, dengan kadar yang--seperti kata Murakami--tak selamanya terlihat dari luar. Tapi sahabat saya itu diberkahi ketenangan dan kekuatan luar biasa besar.

Kekuatan itu pula yang kerap ia lihat pada saya, dan karenanya dia gusar waktu dulu saya meninggalkannya berpisah jalan.

Kala itu, kami tiang-tiang layar kokoh terpancang. Satu di antaranya--saya--lalu mematahkan diri, membuat seisi kapal keras terguncang. Memicu amuk topan dan tornado panjang. Dan dia bertahan di tengah badai dan berhasil melalui petang, sambil meniup pergi amarahnya kencang-kencang.

Pada akhirnya, saat kami--air dan api--duduk berhadap-hadapan, kami sungguh paham jalur hidup perkara pilihan. Dan segalanya tak lebih penting dari persahabatan.

Tapi di dunia ini, ada banyak persoalan yang tidak dapat diatasi hanya dengan perasaan sayang. Hidup itu panjang, kejam kadang. Adakala butuh korban. Seseorang harus memerankannya. Dan tubuh manusia itu rapuh.

Itu kata Murakami lagi. Tentu hidup ini bukan novel. Tapi fiksi dan imajinasi tak muncul begitu saja dari ruang hampa. Ia ada karena realita, alam pikir penulis yang berpijak pada dunia nyata. Lintasan-lintasan gagasan dari rangkaian peristiwa empiris yang menjelma.

Video

Sahabat saya melepas pelukan. “Sampai nanti lagi, ya.”

Saya kembali tersenyum, teringat selarik kalimat yang dulu biasa ia cantumkan di status WhatsApp-nya: this too shall pass.

Hampir tengah malam ketika kami meninggalkan kedai kopi.

Tidak semua hilang dalam arus waktu.

Kita dulu pernah sungguh-sungguh meyakini sesuatu...

Gelap dalam menelan. Saya memejamkan mata seperti Tsukuru.

The Devil whispered in my ear, “You’re not strong enough to withstand the storm.” Then I whispered in the Devil’s ear, “I am the storm.”

- -

Sumber gambar: kouzou.org, Pexels

Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.59