Resensi Buku Sandiwara Langit: Perjuangan di Ambang Perceraian

Mahasiswi Sastra Arab Universitas Gadjah Mada.
Tulisan dari Annisa Istiqomah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Judul Buku: Sandiwara Langit
Penulis: Abu Umar Basyier
Penerbit: Shafa Publika
Tahun Terbit: 2012 (Cetakan ke-12)
Jumlah Halaman: XX+212 halaman
ISBN: 97917922-0-2
Hello, Friends! Kamu penggemar novel islami? Pastinya tidak asing dong dengan nama Abu Umar Basyier. Beliau merupakan salah satu penulis novel religi yang ulung. Tulisan beliau selalu menempati daftar novel islami best seller. Kisah-kisah yang beliau tulis banyak diangkatdari kisah nyata dengan beliau tambahkan sedikit bumbu-bumbu dramatisasi. Akan tetapi, pesan yang beliau yang beliau bawakan dalam cerita ini tetap tersampaikan. Beliau piawai membalutnya dengan nilai-nilai dalam Al-Qur’an dan as-Sunnah hingga orang yang membaca akan mendapatkan banyak faedah. Ini sejalan dengan latar belakang beliau yang merupakan seorang lulusan Pondok Pesantren TMI (Tarbiyatul Mu’allimin al-Islamiyyah), Magelang Jawa Tengah. Tak hanya itu, beliau juga pernah menuntut ilmu di Ma’had Syaikh Muhammad Shalih al-Utsaimin, Unaizah, Qasim, Saudi Arabia selama enam bulan.
Salah satu buah karya Abu Umar Basyier yang fenomenal adalah novel Sandiwara Langit. Novel ini terbit pada tahun 2012. Namun, eksistensinya masih digandrungi hingga kini. Hal ini juga dibuktikan dengan adanya seri kedua novel tersebut yang berjudul Sandiwara Langit 2: Meniti di Atas Kabut. Novel kedua juga mendulang kesuksesan seperti novel pertamanya lho, Friends.
Sedikit yang menyadari bahwa godaan dunia dengan segala kegemerlapannya itu jauh lebih berat, bahkan dari siksa kemiskinan yang paling mencekik leher sekalipun.
Novel Sandiwara Langit mengisahkan tentang seorang remaja bernama Rizqan. Ia memang masih berumur belasan, tetapi pola pikirnya tidak sama seperti remaja seusianya. Remaja sepantarannya biasanya lebih senang bermain dan bersenang-senang, sedangkan ia lebih suka menelaah kitab dan mengisi kekosongan untuk kegiatan bermanfaat lainnya.Walaupun bersekolah di sekolah umum, Rizqan tidak lupa untuk menimba ilmu agama. Ia berjalan dari majelis satu ke majelis lainnya. Rasa hausnya akan ilmu membuatnya semangat belajar. Ilmu yang mengakar kuat dalam hati dan pikirannya ini membimbing jalan hidupnya. Tidak ayal, ilmu agama memunculkan rasa takut di dalam hatinya. Ia sadar, setiap gerak-gerik kehidupannya selalu diawasi oleh Zat Yang Maha Melihat. Hal ini membuatnya selalu hati-hati dalam bertindak agar tidak melanggar batasan syariat. Ia mengambil keputusan yang mengubah kehidupannya 180 derajat. Rizqan di umur 18 tahunnya memilih untuk menikah!
Rizqan ingin menikahi seorang wanita bernama Halimah. Umur mereka sama-sama masih belasan. Rizqan harus berjuang mendapatkan restu dari keluarga Halimah yang berasal dari keluarga kalangan atas. Rizqan selalu berkonsultasi kepada ustadznya. Ia selalu mendapat saran dan nasihat dari ustadz tersebut. Rizqan diizinkan menikahi Halimah, tetapi ia diberi syarat oleh calon mertuanya untuk menjadi sukses dan membuat anak mereka hidup berkecukupan dalam 10 tahun. Jika gagal, Rizqan dan Halimah harus bercerai. Awalnya Rizqan ragu, tetapi setelah melalui berbagai macam pertimbangan, ia akhirnya mengambil keputusan untuk menerima persyaratan tersebut dan mencoba mengarungi bahtera rumah tangganya dengan Halimah.
Kehidupan pernikahannya dengan Halimah sangatlah harmonis. Ia dan Halimah berada dalam satu visi sehingga berbagai macam kesulitan bisa mereka lalui. Rizqan memilih menjadi penjaja roti. Ia berkeliling dengan gerobaknya untuk menawarkan roti dari satu komplek ke komplek lainnya. Rizqan mulai mendapat pelanggan tetap hingga ia berani membuka pabrik rotinya sendiri. Dengan pertolongan Allah, jerih payah Rizqan membuahkan hasil. Ia kini memiliki pabrik roti sendiri. Rizqan dan Halimah bersama putra mereka pindah ke rumah baru mereka yang jauh lebih besar dari sebelumnya. Rumah mereka berada di satu kawasan dengan pabrik roti yang Rizqan dirikan. Rizqan juga memiliki banyak karyawan dan gerobak. Usahanya terus berkembang dengan terus mendapat kepercayaan dari pelanggan. Walaupun menjalaninya dengan pasang-surut, Rizqan dan Halimah berhasil membuktikan kebulatan tekad mereka kepada orang tua Halimah. Mereka hidup dalam keadaan lebih dari cukup.
Menjelang usia 10 tahun pernikahan Halimah dan Rizqan, mereka sangat bahagia. Akhirnya, mereka akan terlepas dari bayang-bayang takutnya perpisahan karena terikat perjanjian pernikahan mereka dulu. Kebahagiaan keluarga kecil mereka akan sempurna. Akan tetapi, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Satu hari sebelum usia 10 tahun pernikahan mereka, mereka harus menelan pil pahit untuk kesekian kalinya. Bahkan, rasanya jauh lebih pahit dari sebelumnya. Pabrik roti Rizqan ludes terbakar habis akibat lahapan jago merah. Naasnya, rumah mereka juga tersambar api tersebut karena jarak keduanya berdekatan. Rizqan dan keluarganya yang sedang terlelap tidur karena keletihan sepulang tamasya kaget. Rizqan panik. Ia berusaha menyelamatkan Halimah dan anaknya. Mereka berhasil keluar rumah. Mereka menatap bangunan yang tadinya menjadi tempat yang nyaman untuk beristirahat kini sudah seperti api unggun raksasa. Semua jerih payahnya telah musnah. Api dengan ganas melahapnya. Tunggu, Rizqan teringat sesuatu. Ah, ia lupa orang tuanya masih di dalam!
Rizqan menangis tersedu-sedu. Ayahnya kini sudah tinggal nama. Ayahnya ditemukan telah hangus terbakar, sedangkan ibunya tidak jauh berbeda. Namun, Rizqan tetap bersyukur ibunya masih bisa diselamatkan. Setelah Rizqan melakukan pemakaman untuk ayahnya, ia bergegas menemani ibunya di rumah sakit. Di sana juga sudah ada Halimah. Mereka berbagi kesedihan bersama.
Rizqan melihat mertuanya menghampirinya di rumah sakit. Ia baru teringat, hari ini adalah hari-H di mana perjanjian itu akan usai. Hatinya mencelos, rasa sesak kini menyelimuti dadanya karena mengingat keadaannya sekarang. Benar saja, di hari yang penuh kedukaan bagi Rizqan itu, mertuanya tetap menagih janji kepada Rizqan. Halimah menangis, ibu Halimah seakan ikut merasakan perasaan putrinya itu juga tidak berhenti menangis. Ayah Halimah tetap pada pendiriannya; Rizqan harus menepati janjinya.
Cerita kehidupan Rizqan ini sangat menyiratkan akan pesan di dalamnya. Tiap langkah yang Rizqan ambil selalu penuh akan pelajaran dan faedah yang bisa kita ambil sebagai pembaca. Seluruh sikap bahkan sikap Rizqan selanjutnya dalam menyikapi perjanjian pernikahan yang sudah jatuh tenggat dan ia yang mulai berusaha bangkit tanpa keluarga kecilnya di sisinya mencontohkan bagaimana seorang muslim dalam bersikap, seyogyanya penuh akan pertimbangan yang berlandaskan Al-Qur’an dan as-Sunnah. Ia menerima segalanya dengan ikhlas. Ia yakin, Allah akan membimbingnya dan menunjukkan kepadanya jalan yang benar. Ia beriman kepada Allah baik dalam keadaan suka maupun duka. Akhir cerita buku ini akan mengisahkan bagaimana buah dari keikhlasan Rizqan dan Halimah dalam menghadapi segala ujian kehidupan pernikahan mereka. Friends yang membacanya akan tenggelam dalam rasa haru, terbawa akan kisah Rizqan dan Halimah ini. Emosi pembaca akan terkuras dengan air mata yang tanpa sadar jatuh karena ketulusan cinta mereka berdua ini.
Novel Sandiwara Langit menggambarkan secara nyata kehidupan dunia yang penuh akan sandiwara. Penulis piawai dalam memilih diksi dan menggambar kisah nyata ini dalam narasi yang indah. Friends sebagai pembaca akan merasa terbawa secara langsung dalam drama kehidupan Rizqan sebagai tokoh.. Selain membaca untuk menghibur di kala penat, Friends juga akan mendapatkan banyak ilmu dan faedah dari buku ini. Terlebih, penulis tidak lupa untuk mencantumkan banyak dalil dari Al-Qur’an dan as-Sunnah dalam memperkuat tindakan yang diambil oleh tokoh-tokoh dalam cerita. Ibarat sekali kayuh, dua tiga pulau terlampaui. Selain itu, novel ini juga dilengkapi beberapa komentar pembaca yang meyakinkan. Novel ini cocok untuk dibaca semua kalangan yang sudah berusia 15 tahun ke atas.
Namun, tiada gading yang tak retak, novel ini tidak didukung dengan cover utama yang menggambarkan keseluruhan isi cerita. Lalu, cover tiap bab nampaknya kurang sesuai dalam mengilustrasikan isi seluruh bab. Sebaiknya, tim illustrator bisa menampilkan gambar yang lebih sesuai sehingga efek dramatis dari tiap bab lebih terasa. Kemudian, ada beberapa kata yang bukan istilah asing dan bermakna konotasi, tetapi ditulis dengan miring. Contohnya adalah nikah bersyarat. Penggunaan kata dalam percakapan juga terasa sangat baku sehingga bagi beberapa kalangan pembaca akan terasa membosankan. Akan tetapi, inilah yang menambah cerita tersebut menjadi dramatis.
Bagaimana, Friends? Tertarik membaca karya fenomenal ini?
