Pencarian populer

Antara Ruh dan Jantung yang Tersisa di Tubuh Mumi

Lukisan di tembok bangunan kuno Mesir. (Foto: Wikimedia Commons)
Fisik yang terawat serta rongga perut yang hanya menyisakan organ jantung di dalam tubuh mumi adalah bentuk penghormatan peradaban Mesir kuno terhadap ruh yang masih membutuhkan jasad. Ritual kematian ini berkebalikan dengan peradaban lainnya yang tidak ambil pusing dengan kondisi jasad orang meninggal melalui ritual pemakaman atau kremasi.
ADVERTISEMENT
Meski menjadi sesuatu yang pasti terjadi dalam setiap fase hidup umat manusia, kematian memiliki pemaknaan berbeda dalam masing-masing budaya. Kerumitan proses mumifikasi Mesir kuno mewakili konsep kematian yang tidak sederhana. Professor Sahar Saleem, peneliti radiologi asal Mesir menyebutkan bahwa kondisi jasad tetap dibuat bukan tanpa alasan.
“Kematian bukan sebuah akhir. Mereka percaya akan adanya kebangkitan dan ruh mereka masih berada di muka bumi. Kehidupan setelah mati yang sempurna mensyaratkan ruh mereka mengenali jasadnya,” ungkap Saleem dalam acara ‘Scanning the Pharaohs’ yang diadakan oleh Departemen Arkeologi Universitas Indonesia pada Rabu (18/10).
Mesir kuno mendedikasikan keilmuannya untuk membuat teknologi mumi yang mampu mengawetkan jasad manusia. Simbol kematian Mesir kuno begitu khas jika dibandingkan peradaban lain yang membiarkan jasad manusia dikubur di dalam tanah atau dibakar.
ADVERTISEMENT
“Oleh karena itu mereka menciptakan mumifikasi untuk mengawetkan penampilan fisik,” ucap Saleem.
Perempuan asal Mesir ini telah melakukan pemindaian mesin X-Ray terhadap mumi-mumi penguasa Mesir kuno. Dari keunikan yang dimiliki masing-masing mumi, Saleem menemukan bagaimana terdapat satu kemiripan yang serupa; tidak adanya organ tubuh di tubuh mumi kecuali jantung.
“Mereka mengeluarkan seluruh organ di perut kecuali jantung. Jantung adalah tempat bersemayamnya ruh. Organ lain tidak dianggap penting maka dari itu harus dikeluarkan,” ujar Saleem.
Presentasi Professor Sahar Saleem di UI (Foto: Ardhana Pragota/kumparan)
Falsafah yang disebutkan Saleem di atas merujuk pada ajaran yang tertulis dalam kitab kematian Mesir kuno bernama The Book of Dead. Buku ini ditulis dan dipindia pada abad 16 SM ini berisi tuntunan proses peribadatan kematian serta mantra-mantra agar manusia bisa mencapai kehidupan setelah mati yang indah.
ADVERTISEMENT
Buku ini menunjukkan bahwa manusia harus memiliki bekal yang cukup untuk menghadapi kehidupan setelah mati yang kekal. “Tidak boleh ada yang bisa meracuni tubuhku. Ini adalah peleburan menuju keabadiaan.” Kalimat ini dikutip Saleem dari The Book of Dead menunjukkan bahwa jasad manusia dan apa yang melekat dalam tubuh akan menentukan bagaimana kehidupan selanjutnya.
Oleh karenanya, peroses mumifikasi membutuhkan ritual panjang yang berisi ritual pembekalan ruh. Pemakaman mumi disebut dengan ritual The Opening of the Mouth. Di dalam Book of the Dead mencatat ritual sebelum memakamkan jasad Hunefer, sastrawan penting di Mesir kuno pada abad 19 SM.
Prosesi diawali dengan pengusapan topeng mumi. Usai dibalut kain dan ditutup oleh peti emas, pendeta kemudian mengusap mata, mulut, telinga, dan lubang hidung sebagai tanda bahwa jasad telah kembali ke asalnya, yaitu Tuhan.
ADVERTISEMENT
Peti emas mumi Mesir kuno wajib menempatkan gambar Dewa Anubis demi keselematan hidup setelah mati. Gambar lainnya adalah lukisan Dewa Osiris sebagai dewa kematian Mesir yang diharapkan melindungi ruh di kehidupan selanjutnya.
Mesir kuno percaya bahwa kehidupan setelah mati akan dimulai dengan tahap ‘menimbang hati manusia’. Penimbangan diawasi oleh Anubis, dewa kematian dalam mitologi Mesir, yang hadir untuk menguji seberapa banyak kebaikan yang dihasilkan oleh manusia tersebut. Jika dapat melalui tes, maka jalan ke depan akan lapang.
Jika gagal, maka jiwa yang malang itu akan berhadapan dengan Ammit, makhluk astral yang fisiknya adalah gabungan dari singa, kuda Nil, dan buaya. Hati yang kotor akan dimakan oleh buaya Ammit dan disucikan. Namun fase ini amat ditakuti dalam kepercayaan Mesir kuno.
Peti artistik tempat menaruh mumi. (Foto: Wikimedia Commons)
Perjalanan setelah kematian lainnya yang cenderung lebih enak untuk dibayangkan adalah Senet. Senet sebuah alegori dari sebuah petualangan menuju surga. Senet mengharuskan manusia menyusuri bidang datar yang serupa papan catur. Namun, lancar tidaknya perjalanan ini akan sangat ditentukan oleh proses mumifikasi yang dilakukan sebelum dimakamkan.
ADVERTISEMENT
Jika jiwa tersebut masih gagal untuk menembus surga, terdapat sebuah mantra yang diucapkan oleh pemuka agama untuk menyembunyikan semua dosa. Prosesi ini biasanya telah dilakukan oleh keluarga masing-masing ketika proses mumifikasi yang berfungsi sebagai doa pengiring ruh menuju surga.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan dan Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.80