• 7

Bersimpuh di Kaki Gunung Agung

Bersimpuh di Kaki Gunung Agung


Alkisah, Pulau Bali senantiasa bergerak dan berubah arah, terombang-ambing seperti daun mengambang di tengah lautan.
Untuk “mengikat” stabil Bali, Batara Guru sang dewa tiga dunia--Mayapada (dunia para dewa atau surga), Madyapada (dunia manusia atau bumi), dan Arcapada (dunia bawah atau neraka)--lantas memerintahkan dewa mencabut puncak Gunung Mahameru di India dan membawanya di Bali untuk dipakukan di pulau itu.
Potongan puncak Mahameru di Bali itu ialah Gunung Agung dan Gunung Batur. Keduanya menjadi pusat mandala (area sakral) di pulau itu.
Babad di atas berasal dari sejumlah naskah lontar Bali, termasuk Usana Bali. Ceritanya termuat dalam makalah berjudul Letusan Gunung Agung dalam Catatan Lontar Bali yang disusun oleh Sugi Lanus, pria pembaca lontar Bali.
Gunung Mahameru yang disebut dalam riwayat tersebut, tak bakal kita temukan di India meski memeloti atlas sekalipun. Mahameru, seperti dijelaskan Sugi dalam makalahnya, ialah gunung mitologis dalam Hinduisme dan Buddhisme. Gunung itu dianggap sebagai pusat jagat--titik pertemuan dunia dengan alam kematian.

Ritual Meayu-ayu Gunung Agung

Ritual Meayu-ayu Gunung Agung (Foto: ANTARA/Nyoman Budhiana)
Magma masih terus menggelegak sejak Gunung Agung dinaikkan statusnya ke level tertinggi, Awas, pada Jumat 22 September 2017. Gunung berapi itu dalam kondisi kritis dan dapat segera meletus.
Sejak akhir September hingga awal Oktober ini, aktivitas vulkanik Gunung Agung terus berfluktuasi. Asap belerang putih terlihat menyembur tipis dari atas kawah dengan ketinggian tak tentu--kadang 200 meter, pernah juga hingga 1.500 meter.
Sampai hari ini, Selasa (10/10), total sudah 18 hari Gunung Agung di Kabupaten Karangasem, Bali, berstatus Awas. Ini kali pertama gunung tersebut kembali mendidih sejak terakhir meletus tahun 1963 dan menewaskan 1.549 jiwa.
Ingatan tentang letusan 54 tahun lalu itu tak dimiliki oleh sebagian besar dari 141.498 orang penduduk yang kini mengungsi dari tempat tinggal mereka di lereng Gunung Agung.
Satu hal yang jelas: Gunung Agung bukan sekadar gunung dan bukan sembarang gunung bagi masyarakat Hindu Bali. Ini situs alam suci bagi mereka.
Di gunung itu, bertakhta Batara Siwa, satu dari tiga dewa utama (Trimurti) dalam agama Hindu. Gunung Agung menjadi poros sembahyang seantero pulau. Peradaban Bali bermula di kaki gunung tersebut.
Maka, letusan Gunung Agung bermakna lebih dari bencana alam bagi penghuni Pulau Dewata. Ini menjadi bentuk peringatan atas dosa-dosa yang diperbuat manusia.
Dan karenanya, alih-alih berdiam berteduh di tenda-tenda, para pengungsi justru ramai mendatangi pura-pura untuk bersimpuh, memohon ampun kepada Tuhan dan membaktikan cinta mereka kepada Gunung Agung.

Sembahyang untuk Gunung Agung

Sembahyang untuk Gunung Agung (Foto: Cornelius Bintang/kumparan)
Pekan lalu, kami mengunjungi Desa Sibetan di Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem, Bali. Desa berjarak 12 kilometer dari puncak gunung itu bersebelahan dengan Desa Jungutan yang masuk Kawasan Rawan Bencana III.
Desa Jungutan telah kosong. Semua penduduknya mengungsi ke Desa Sibetan untuk bersama-sama beribadah.
Kesedihan ialah keniscayaan. Dibayangi bencana di depan mata, warga desa silih berganti bersimpuh di kaki Gunung Agung. Doa didaraskan 24 jam tak putus demi meredam amarah jagat.
Nantikan liputan khususnya di kumparan, Kamis 12 Oktober.

Bersimpuh di kaki Gunung Agung

Bersimpuh di kaki Gunung Agung (Foto: Cornelius Bintang/kumparan)


LipsusNewsGunung AgungBaliBudaya

500

Baca Lainnya