Pencarian populer

Dua Remaja asal Indonesia Teriakkan Laut Bebas Sampah di PBB

Sampah di pesisir Pulau Henderson (Foto: AP/Jennifer Lavers)

Tantangan manusia untuk menjaga lautnya semakin kompleks.

Sampah yang makin menyesaki lautan, praktik industri perikanan yang merusak lingkungan, hingga limbah pabrik, menjadi tantangan terbesar bagi upaya pelestarian laut. Hal itulah yang menjadi nafas peringatan World Ocean Day tahun 2017 bertajuk “Our Ocean, Our Future”.

Berpusat di Sekretariat PBB New York, AS, rangkaian acara yang terdiri dari konferensi dan Sidang Umum PBB diselenggarakan guna membahas solusi penyelamatan laut. Untuk mengurai benang kusut permasalahan konservasi laut yang begitu multidimensi, PBB mengundang berbagai pihak mulai dari Badan Energi dan Atom dunia (IAEA), Badan Pekerja Internasional (ILO), hingga tokoh industri seperti pemilik maskapai Virgin Air Richard Branson.

Namun pesan paling terngiang datang dari Melati dan Isabel Wijsen, dua remaja asal Indonesia buah pernikahan Eko Wisjen dan Elvira Wijsen.

Di usianya yang masih belia, 16 dan 14 tahun, Melati dan Isabel Wijsen menghadiri Sidang Umum PBB pada Kamis (8/6)

Dalam kesempatan itu, mereka berani menggertak perwakilan negara-negara anggota PBB yang memegang nasib banyak orang di seluruh dunia -- dan seringkali melempem dalam menelurkan kebijakan.

“Kami membutuhkan Anda semua untuk menjadi penentu yang dapat membalikkan nasib turunnya kondisi lautan kita,” tegas Isabel sebagaimana dikutip kumparan (kumparan.com) dari laman streaming milik PBB. “Namun, jika Anda semua tidak melakukan apapun selama konferensi ini, kita semua akan menerima konsekuensi lebih besar. Ini akan menjadi ujian terberat jika kita semua gagal melaluinya,” tegas Isabel di hadapan perwakilan diplomatik negara-negara anggota PBB.

Melati dan Isabel Wijsen di PBB (Foto: Instagram: @byebyeplasticbag)

Melati menimpali ucapan adiknya dengan ketegasan yang sama. “Jadi, ketika Anda meninggalkan ruangan ini jadilah pembawa perubahan. Keluar dari ruangan ini dengan penuh tanggung jawab. Rasakan bahwa Anda memiliki tanggung jawab dan sekarang Anda perlu menciptakan perubahan.”

Dua remaja putri ini bukan anak sembarangan yang meracau tanpa bukti.

Mereka sengaja diundang karena inisiatif suksesnya mengkampanyekan agar Bali bebas kantung plastik dalam kampanyenya yang berjudul Bye Bye Plastic Bag (BBPB). Kampanye dan advokasinya telah membuahkan hasil: Moratorium Pemerintah Provinsi Bali bebas dari kantung plastik 2018.

[Baca Juga: Giri Marhara, Hidup Berkubang Sampah]

Capaian itu dilalui lewat jalan berliku. Ketika memenuhi undangan berbicara di TED Talk London pada September 2015, Melati dan Isabel mengisahkan perjuangan mereka yang bermula dari angan-angan yang muncul di sekolah hingga akhirnya menjadi gerakan global.

Pada tahun 2013, mereka mendapat pelajaran tentang tokoh dunia.

Kisah hidup inspiratif Nelson Mandela dan Mahatma Gandhi yang mereka dapati di sekolah, Green School Bali, Ubud, terngiang hinggga ke rumah. “Kenapa kamu harus menunggu dewasa untuk menjadi orang yang berarti. Kami ingin memulainya sekarang juga,” tegas Isabel.

Profil Bye Bye Plastic Bag (Foto: Dok. byebyeplasticbag.org)

Melati dan Isabel ingin menjadi berarti dengan melakukan sesuatu. Mereka mencari permasalahan yang sedang dihadapi di lingkungannya. Hingga akhirnya ia mendapat satu hal yang sederhana namun pelik, yakni sampah plastik.

Keindahan Bali mulai terusik oleh kehadiran sampah yang menggunung. “Di Bali kami memproduksi 630 meter kubik sampah plastik setiap harinya,” ujar Isabel.

Sampah plastik tersebut kemudian merembet menjadi sumber pencemaran. “Kami mengetahui bahwa sampah plastik berakhir di pembuangan, lalu di sungai, kemudian di laut.”

Mereka berdua tak ingin indahnya Pulau Dewata berganti menjadi Pulau Penuh Sampah.

Sejak saat itu, dua kakak beradik ini meluncurkan gerakan Bye Bye Plastic Bag. Gerakan ini benar-benar merupakan gerakan anak-anak. Melati memulainya di usia 11 tahun atau setara kelas lima SD. Mereka menggalang aksi sukarelawan mulai dari kegiatan umum yaitu membersihkan sampah hingga memperkenalkan alternatif dari kantung plastik.

[Baca Juga: Luhut: Sampah Plastik Bisa Jadi Campuran Aspal Sampai Sumber Listrik]

Bye Bye Plastic Bag memulai langkahnya untuk menggandeng pemerintah Bali. Upaya pertama gagal di meja birokrasi. Tapi kedua dara campuran Indonesia - Belanda ini tidak patah semangat. “Kami berpikir, jika kami dapat mengumpulkan satu juta petisi, mereka tidak bisa mengacuhkan kami kan?” kenang Melati.

Menyalurkan petisi ditempuh dengan jalan berliku. Mereka harus melalui rumitnya birokrasi ketika ingin berkampanye di Bandara Internasional Ngurah Rai. Petisi mereka berhasil ditandatangani 20 ribu orang dalam kurun satu bulan, termasuk orang-orang terkenal seperti peselancar Australia Mick Fanning. Petisi ini bahkan terjangkau radar PBB saat itu.

Melati dan Isabel Wijsen di TED London (Foto: Dok. byebyeplasticbag.org)

Tapi upaya tersebut belum membuat mereka menemui jalan menuju Gubernur Bali. Dua perempuan muda ini pun memiliki gagasan baru. Mereka akan mogok makan. Ya, tidak makan dari pagi hingga petang demi Bali tanpa sampah. Dan mereka benar-benar melakukannya. “Kami melakukannya setiap hari sampai Gubernur mau menemui kami untuk berbicara bagaimana menghentikan kantung plastik di Bali,” ungkap Melati.

Rangkaian kerja keras akhir keduanya membuahkan hasil. Sehari setelah menjalankan mogok makan, mereka dijemput lalu dibawa ke kantor Gubernur Bali I Made Mangku Pastika agar bisa berdialog langsung.

Kini gerakan BBPB telah menyebar di 15 negara. Semua inisiatif dilakukan oleh anak muda seusia Melati dan Isabel. BBPB tidak akan berhenti hanya karena Gubernur Bali telah berkomitmen untuk menghentikan kantung plastik pada 2018.

Langkah Melati dan Isabel tidak berhenti di situ.

Salah satu yang mendorong langkah mereka hadir di Sidang Umum PBB karena perjuangan menghentikan sampah plastik adalah bagian kecil dari agenda global untuk menjaga samudera.

Kegiatan Bye Bye Plastic Bag (Foto: Dok. byebyeplasticbag.org)

Di hadapan perwakilan negara anggota PBB, Isabella dan Melati berbicara soal urgensi penghentian penggunaan sampah plastik dan bahayanya bagi lingkungan terutama laut.

Melati dan Isabel sepaham bahwa lautan adalah penyangga penting bagi kehidupan. Ia mengambil dua pertiga bagian dari permukaan bumi. Ia bertanggung jawab menjaga keteraturan karbon dioksida dan ketersediaan oksigen. Ia menyediakan sumber pangan bagi 3,5 miliar manusia di bumi.

“Sebagai penopang 60 persen kehidupan di Bumi, kenapa kita memperlakukan hal yang demikian terhadap lautan?” ucap Isabel tanpa ragu ketika berhadapan dengan para perwakilan diplomatik yang lebih senior.

Kakaknya kemudian mendudukkan perkara bagaimana memberantas plastik bisa mengurangi dampak kerusakan laut. “Mungkin kita tidak memiliki alternatifnya. Mungkin kita tahu bahwa ini semua tidak mudah. Isu dan kebijakanya begitu kompleks. Namun ini sangat layak diperjuangkan. Katakan tidak pada kantung plastik adalah langkah awal, kemudian pengelolaan limbah, barulah kita bisa memperoleh lautan yang bersih,” ujar Melati.

Melati dan Isabel Wijsen di PBB (Foto: Instagram: @byebyeplasticbag)

Melati tidak berlebihan soal pentingnya mengakali sampah dalam upaya melestarikan laut.

Ulah manusia seringkali abai terhadap kontribusi lautan bagi kehidupannya. Dikutip dari National Geographic, sebuah penelitian yang keluar tahun 2015 menyebutkan bahwa ada 5,2 triliun potongan sampah plastik terkatung mengambang di lautan. Jumlah tersebut sama dengan 269 ribu ton yang membebani samudera. Belum lagi 4 miliar potongan kecil mikrofiber yang mencemari kehidupan laut.

Angka tersebut akan terus naik dan mencapai titik terburuk pada tahun 2021.

Sampah plastik adalah residu dari perilaku manusia yang selalu menginginkan kemudahan. Terbuai dengan kebiasaan makan dan minum di kemasan plastik, kemudahan ini justru akan berakhir menyulitkan. Lingkungan harus menanggung beban bagi sikap manusia. Data begitu banyaknya sampah di lautan di atas adalah salah satu bentuknya.

Lewat forum tersebut, Melati dan Isabel mewakili suara keresahan warga dunia agar pemerintah seluruh anggota PBB bergerak.

Cita-cita perjuangannya begitu sederhana. Dalam pidato mereka berdua ketika di TED Talk London, Melati dan Isabel hanya ingin satu hal terwujud. Ketika belasan juta orang mendarat di Bali, mereka ingin setiap pramugari mengucapkan: “Selamat Datang di Bali, apakah ada kantung plastik yang ingin dilaporkan?”

Cita-cita yang melambung tinggi itulah yang memberi energi kedua saudari ini terus getol berjuang selama hampir lima tahun hingga saat ini.

Kelak ada satu masa sampah plastik bisa sama-sama dipandang ngeri seperti narkoba sebagai barang haram yang dibawa masuk ke Bali.

Infografis sampah laut. (Foto: Bagus Permadi/kumparan)
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Sabtu,25/05/2019
Imsak04:26
Subuh04:36
Magrib17:47
Isya19:00
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.23