• 5

Gunung Agung: Poros Gaib Hindu Bali

Gunung Agung: Poros Gaib Hindu Bali



Gunung Agung adalah hal gaib bagi umat Hindu. Pedanda setiap hari meweda (berdoa) supaya alam baik dengan segala isinya--bukan hanya kepada individu, tapi keseluruhan.

- Ida Pedanda Gede Buruan Diler Peling

Gunung Agung tak pernah lepas dari puja dan puji masyarakat Hindu Bali. Dalam tiap persembahyangan, sembah diarahkan ke Gunung Agung--poros mandala (area sakral) Gunung Caturlokapala (empat gunung suci) dalam kosmologi Bali.

Lokasi Parahyangan dari Teks Usana Bali

Gunung Caturlokapala dalam Kosmologi Bali. (Foto: Makalah Letusan Gunung Agung dalam Catatan Lontar Bali oleh Sugi Lanus)
“Hampir semua pura keluarga memiliki tempat untuk menyembahyangi Gunung Agung. Ada yang namanya (benda suci) pralingga Gunung Agung di desa-desa. Saya hampir tidak menemukan desa di Bali yang tidak menyembah itu,” kata Jero Mangku Pasek, Pemangku (penjaga pura) Pura Puseh, ketika dijumpai kumparan di Desa Sibetan, Karangasem, Bali, Sabtu (30/9).
Bagaimana tak disembah bila umat Hindu Bali meyakini dewa-dewa mereka tinggal di gunung itu. Inilah poros kebatinan Hindu Bali--yang berasal dari potongan puncak Mahameru di India yang dipakukan ke Bali agar Pulau Dewata kokoh stabil, tak terombang-ambing tak tentu arah di lautan luas.
Tautan antara Mahameru dan Gunung Agung saja sudah menandakan nilai sakral gunung setinggi 3.031 meter di atas permukaan laut itu (mdpl). Mahameru tak benar-benar “ada”--tepatnya tak kasatmata. Ini gunung mitologis dalam Hinduisme dan Buddhisme yang dianggap sebagai axis mundi atau pusat jagat--titik temu dunia, surga, dan neraka.
Potongan puncak gunung suci Mahameru itulah yang mewujud Gunung Agung (dan Gunung Batur) di Bali--yang tentunya juga menjelma gunung suci.
“Ikang pucak ing giri (Mahameru) ginawa dening tangan tengen dadi gunung Agung Bali, maka-astanan ida Bhatara Mahadewa. Ikang pucuk ing ginawa dening tangan kiwa dadi gunung Batur, pangastanan Ida Bhatara Bhatari Danuh. Yeka maka pangulun ing bhumi Bali.” --Usana Bali
“Puncaknya gunung itu dibawa dengan tangan kanan menjadi Gunung Agung Bali, menjadi peristirahatan Bhatara Mahadewa. Pucuk yang dipegang dengan tangan kiri menjadi Gunung Batur, peristirahatan Bhatara Bhatari Danuh Ikang. Mereka menjadi hulu bumi Bali.”

Ritual Meayu-ayu Gunung Agung

Ritual Meayu-ayu Gunung Agung (Foto: ANTARA/Nyoman Budhiana)
Bisa jadi, hanya masyarakat Hindu Bali yang tahu dan bisa merasakan arti besar Gunung Agung. Jero Mangku Pasek misalnya, sepanjang jalan hidupnya sebagai pemangku, paham betul bahwa bersembahyang di Gunung Agung adalah salah satu laku spiritiual penting Hindu Bali.
“Setiap waktu, ada upacara Desa Adat Sibetan mencapai puncak. Ada persembahan untuk Sang Hyang Pasupati yang ada di puncak Gunung Agung,” kata Pasek.
Sang Hyang Pasupati ialah Sang Maha Suci yang menurunkan dewa-dewi dalam kepercayaan Hindu Bali.
“Kami terus memohon keselamatan pada Tuhan Yang Maha Kuasa. Gunung Agung adalah gaib. Kalau di tempat lain, mungkin sudah meletus,” ujar Ida Pedanda Gede Buruan Diler Peling.
Entah kebetulan atau tidak, namun sejumlah data menunjukkan bahwa ucapan Pedanda Gede Buruan tak berlebihan. Jika melihat statistik letusan gunung api di Indonesia, Merapi meletus 26 Oktober 2010, sehari sesudah status bahayanya ditetapkan pada level tertinggi, Awas, 25 Oktober 2010; Sinabung meletus 29 Agustus 2010, dua hari setelah berstatus Awas, 27 Agustus 2010; dan Kelud meletus 14 Januari 2014, sehari sesudah berstatus awas, 13 Januari 2014.
Gunung Agung ditetapkan Awas pada 22 September 2017, dan hingga kini--20 hari sesudahnya, 12 Oktober 2017, belum meletus.
Meski demikian, hal tersebut secara ilmiah memang tak berarti apapun karena karakter gunung berbeda antara satu sama lain.
“Merapi pada 2010, jumlah gempa vulkanik sampai di atas 200-300-an, kemudian meletus. Pola akselerasi dengan jumlah gempa vulkanik lebih dari 300 memang rentan terjadi letusan. Tapi Gunung Agung saat ini, dengan jumlah gempa vulkanik sampai di atas 600, belum meletus,” kata Devi Kamil Syahbana, Kepala Subbidang Pemantauan Gunung Api Wilayah Timur Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVBMG), Kamis (12/10).
Devi yang sedang berada di Pos Pemantauan Gunung Agung, Karangasem, menegaskan, “Artinya karakter gunung ini berbeda. Sejarah instrumental Gunung Agung baru dimulai saat ini. Tidak ada orang atau ahli manapun di dunia yang tahu polanya.”

Doa untuk Gunung Agung

Letusan vulkanik Gunung Agung 1963 (Foto: www.volcano.si.edu)
PVMBG mencatat Gunung Agung pernah meletus pada tahun 1808, 1821, 1843, dan 1963. Sementara naskah lontar kuno Bali mencatat lebih jauh sebelum itu.
Sugi Lanus, pembaca lontar Bali, menelaah setidaknya ada 15 peristiwa letusan Gunung Agung sejak tahun 1005. Kelima belas letusan itu--antara lain tahun 1002, 1615, 1665, 1683, 1695, 1705, 1711, dan 1820--tercatat dalam lontar Babad Bumi, Kalawasan, dan Babad Tusan.
Letusan tahun 1711 disebut cukup mengerikan. Dalam salah satu lontar tertulis, banjir air panas (lahar) dari Gunung Agung menewaskan penduduk desa yang tengah beribadah di Pura Besakih.
Letusan Gunung Agung juga kerap disandingkan dengan isu sosial. Yang terekam jelas adalah tahun 1963. Itu kali terakhir Gunung Agung meletus dan menewaskan lebih dari 1.500 orang, sebelum kembali bergemuruh tahun 2017 ini.
Dalam lontar Puja Panambutan yang ditulis oleh Ida Pedanda Made Sidemen, sastrawan dan budayawan Bali, Gunung Agung yang pada 1963 meletus dan bergolak setahun penuh sesudahnya hingga 1964, diikuti tragedi pembantaian puluhan ribu orang di Bali tahun berikutnya, 1965. Itulah massa PKI dan gerakan kiri ditumpas Soeharto.
Kini, magma Gunung Agung kembali menggelegak, dan hal itu dianggap masyarakat Hindu Bali sebagai pengingat betapa manusia selama ini abai dengan pemberian Tuhan.

Fluktuasi aktivitas Gunung Agung

Aktivitas Gunung Agung hingga 2 Oktober. (Foto: www.bnpb.go.id)
Sejak ditetapkan Awas pada 22 September hingga saat ini, aktivitas vulkanik Gunung Agung masih fluktuatif, dengan rata-rata gempa mencapai 600 kali per hari serta kepulan asap setinggi 200 meter.
“Gunung Agung tidak dapat diprediksikan kapan akan meletus, seperti Gunung Sinabung tak dapat diprediksi kapan akan berhenti meletus. Kegempaannya masih intensif dan fluktuatif. Tak ada tanda-tanda aktivitas itu menurun,” kata Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Ia menambahkan, meski pada kawah Gunung Agung sudah terbentuk rekahan dan keluar asap putih dengan tekanan lemah meski, secara visual belum terlihat tanda-tanda Gunung Agung meletus dan tidak dapat dipastikan kapan akan meletus.
“Setiap gunung api memiliki karakter berbeda. Corak sosial dan budaya masyarakat yang terbentuk di tiap gunung pun berbeda. Ada kekhasan budaya dalam memaknai gunung di sekitarnya,” ujar Sutopo.

Sembahyang untuk Gunung Agung

Sembahyang untuk Gunung Agung (Foto: Cornelius Bintang/kumparan)
Lebih dari 100 orang bersimpuh di pelataran Pura Puseh, Desa Sibetan. Mangku Pasek menarik mikrofon di depannya dan mulai mendaraskan doa, diikuti ratusan pasang tangan mengaturkan sembah puyung, doa pembuka.
Semua memanjatkan harapan agar “geram” Gunung Agung mereda.
Menghadapi ancaman bencana, umat Hindu Bali tekun bersembahyang memohon ampunan dan meminta maaf kepada Tuhan.
“Kalau memang situasi tidak memungkinkan (gunung betul nanti meletus), maka masyarakat mohon agar jangan sampai korban terlalu banyak,” ucap Pasek.
Sugi Lanus mengatakan, ini merupakan momen bagi Bali untuk kembali suci tanpa melihat ambang bencana sebagai ancaman. Penghormatan terhadap Gunung Agung, menurutnya, tetap menjadi kekuatan utama Bali dalam menghadapi semua ujian.
“Bali mampu melampaui itu,” ujar Sugi, yakin.

Bersimpuh di kaki Gunung Agung

Bersimpuh di kaki Gunung Agung (Foto: Cornelius Bintang/kumparan)
Om dewa suksma parama cintya ya namah swaha Om santih, santih, santih, om
Ya Tuhan, hamba memuja Engkau Dewata yang tak terpikirkan, maha tinggi, dan maha gaib Ya Tuhan, anugerahkan kepada hamba kedamaian, damai, damai, ya Tuhan

LipsusNewsGunung AgungBaliBudaya

500

Baca Lainnya