• 3

Klakson Telolet, Cerita Lama yang Kini "Meledak"

Klakson Telolet, Cerita Lama yang Kini "Meledak"



Sopir Telolet

Klakson telolet dibunyikan sopir bus (Foto: Aria/kumparan)
Fenomena klakson telolet mendadak dirayakan oleh netizen di seluruh dunia. Ini gara-gara musisi DJ Snake yang memposting komentar "Om Telolet Om" pada akun Instagram Donald Trump, presiden terpilih Amerika Serikat.
"Om Telolet Om" berasal dari aksi masyarakat di sejumlah daerah di Jawa yang kemudian ramai diunggah ke YouTube. Warga berdiri di pinggir jalan dan meneriakkan “Om Telolet Om!” untuk meminta sopir bus membunyikan klakson khas "telolet" mereka.
Rian Mahendra, Direktur Operasional PO Haryanto, mengatakan semakin banyak masyarakat, terutama anak-anak, yang ikut dalam tren ini.
“Banyak sekali yang mencegat dari pinggir jalan, hingga datang ke garasi kami,” kata Rian kepada kumparan, Rabu (21/12).

Ilustrasi Telolet

'Om telolet om' dari Indonesia jadi trending topic dunia. (Foto: Bagus Permadi)
Klakson telolet, ujar Rian, adalah cerita lama yang sangat khas dari angkutan bus.
“Sebenarnya sudah ada sejak 2003. Awalnya untuk menghibur anak-anak di Terminal Poris, Tanah Tinggi, Tangerang. Enggak nyangka juga akhirnya seramai ini,” kata dia.
Menurut Rian, ramainya fenomena telolet menjadi dilema sendiri bagi perusahaan bus. Di satu sisi, bunyi keras telolet begitu dinikmati sebagian masyarakat, bahkan menjadi hiburan tersendiri.
Di sisi lain, suara memekakkan telolet membuat pekak telinga dan dianggap sebagian orang amat mengganggu. "Saya akui bunyinya keras sekali," kata Rian. "Tapi karena yang minta banyak sekali, saya tetap meminta untuk dipasang saja."
Selain itu, ada dugaan pelanggaran lalu lintas akibat telolet tersebut. Sejumlah anak muda berebutan mengejar bus, bahkan lompat ke depan bus, demi mendengar klakson telolet sehingga membahayakan diri mereka sendiri.
00:00:00/00:00:00

Om Telolet Om
Klakson telolet yang hingga kini tetap dipasang bus-bus milik PO Bus Haryanto, semata-mata digunakan untuk atraksi hiburan.
"Kami biasa menggunakan klakson tersebut untuk masuk terminal, di jalan, dan saat nongkrong. Klakson standar tetap menjadi peralatan utama untuk di jalan,” kata Rian.
Pengadaan klakson telolet, ujarnya, bergantung pada kemauan sopir. Tidak ada pengadaan resmi dari perusahaan.
“Rata-rata sopir bus membeli sendiri klakson tersebut dengan harga barang berkisar Rp 800 ribu hingga Rp 4,6 juta,” kata Rian.
Namun pembelian itu kadang memakai uang sopir sepenuhnya. "Terkadang mereka juga mengeluh, jadi saya ikut bantu atau bayarin semuanya,” ujar Rian.

7 Fun Facts Klakson Bus Telolet

7 Fun Facts Klakson Bus Telolet (Foto: Bagus/kumparan)


NewsTeloletTransportasiLalu Lintas

500

Baca Lainnya