kumparan
19 Okt 2017 9:37 WIB

Menguak Tabir Misteri Mumi Firaun

Peti artistik tempat menaruh mumi. (Foto: Wikimedia Commons)
Dunia mengenal mumi firaun hanya sebatas tubuh manusia berbalut kain serta topeng emas yang dimasukkan dalam peti. Seorang profesor dari Mesir menguak tabir misteri di dalamnya.
ADVERTISEMENT
Di balik narasi yang menyeramkan, terdapat banyak makna yang berada di dalam jasad mumi. Hal ini diungkapkan oleh Professor Sahar Saleem, Doktor Radiologi dari Cairo University, yang meniliti isi dalam mumi melalui teknologi X-Ray.
“Mumi Mesir memiliki teknik mumifikasi paling canggih hingga saat ini,” ujar Saleem di seminar Scanning the Pharaoh yang diselenggarakan oleh Departemen Arkeologi Universitas Indonesia pada Rabu (18/10). Keberadaan mumi yang masih dalam kondisi bagus adalah warisan berharga.
Professor Sahar Saleem meneliti beberapa mumi dari pemimpin besar Mesir kuno menggunakan teknologi X Ray guna memperoleh kondisi jasad secara menyeluruh. Tutankhamun, Amenhotep III, Tiye, Ramsses II, Ramsses III, adalah sekian contoh raja Mesir kuno yang muminya diteliti oleh Saleem. Teknologi X Ray memungkinkan arkeolog untuk mendapatkan gambaran utuh mumi tanpa perlu merusaknya dengan tetap memperoleh bukti fisik mendetail.
Presentasi Professor Sahar Saleem di UI (Foto: Ardhana Pragota/kumparan)
Kerja ilmiahnya dituliskan dalam buku "Scanning the Pharaoh" yang memperoleh penghargaan buku sains populer terbaik dalam Prose Award di Washington DC dan penghargaan akademisi terbaik tahun 2016 oleh American Library Association.
ADVERTISEMENT
Penelitian Paleo-Radiologi ternyata mampu melahirkan temuan baru. Dari pengalamannya, setiap mumi memiliki setiap ornamen yang mewakili makna yang berbeda antara satu dengan lainnya. Berikut kontribusi penting studi Paleo Radiologi yang dikerjakan Saleem dan koleganya.
Mumi mengosongkan semua organ tubuh kecuali jantung
Jasad yang dimumikan bukanlah jasad yang utuh. Hasil CT Scan menunjukkan bahwa rongga dada hanya menyisakan satu organ yaitu jantung. Selain perut, tempurung kepala mumi raja Mesir kuno yang diteliti Saleem kosong sama sekali.
Saleem mengungkap bahwa praktik ini jamak dilakukan karena kepercayaan mereka. “Mereka mengeluarkan seluruh organ kecuali bagian jantung. Jantung adalah tempat di mana ruh bersemayam,” tutur Saleem.
Peti tempat menaruh mumi Mesir kuno. (Foto: Wikimedia Commons)
Sedangkan organ lainnya seperti paru-paru, usus, lambung, dan ginjal dikeluarkan lewat pembedahan. Masing-masing organ kemudian diawetkan dalam satu tempat secara terpisah. Hal ini disebabkan bahwa organ lain dianggap tidak penting dalam proses kehidupan setelah mati.
ADVERTISEMENT
Mumi bahkan tidak memiliki otak di tempurung kepalanya. Saleem melihat fakta ini ketika meneliti mumi Thuya, istri dari panglima perang Mesir Kuno Yuya. Mesin X Ray tidak dapat menangkap benda di bagian tengkorak mumi Thuya.
“Mereka mengeluarkan otak melalui alat khusus,” ujar Saleem. Sehingga, jantung adalah satu-satunya organ yang penting dalam fase tersebut karena menjadi pusat kecerdasan dan perasaan bagi manusia.
Mumi ditanami jimat
Meski organ tubuh diambil dari jasad, mumi kemudian diisi oleh benda-benda yang memiliki makna magis. Barang yang biasa ditemukan di dalam mumi adalah jimat atau perhiasan.
Praktik menaruh jimat sangat jamak ditemukan di mumi bangsawan Mesir kuno.
“Mereka percaya bahwa jimat memiliki kekuatan di balik setiap bentuknya,” beber Saleem.
ADVERTISEMENT
Seperti contoh, Saleem menunjukkan temuan sebuah kepingan di jantung salah satu mumi. Melalui pemindaian X Ray, benda tersebut merupakan jimat berbentuk hati. Lambang ini menunjukkan bahwa jimat tersebut khusus dibuat dan ditanam untuk melindungi jantung sang mumi.
Jimat lainnya ada di tubuh Amenhotep dan jimat berbentuk sandal emas di mumi Thuya. Namun yang paling banyak ditemui adalah Mata Horus sebagai simbol penyelamat.
Saleem kemudian menceritakan temuannya di dalam tubuh Ramses III. Raja adikuasa di era New Kingdom ini dibunuh lewat skenario berencana. Ia ditusuk di bagian leher dan kaki.
Di setiap bagian tubuh yang menerima kekerasan, pemindaian mesin X Ray menemukan jimat-jimat Mata Horus. “Terdapat enam jimat sejenis dalam tubuh Ramses III,” beber Saleem.
ADVERTISEMENT
Temuan ini menunjukkan bahwa orang-orang saat itu berpikir bahwa perlu mengantarkan Ramses III yang tewas secara tidak wajar menuju kehidupan setelah mati yang lebih baik. Menempatkan mata horus di bagian yang terluka adalah cara mengantarkannya.
Mengawetkan bentuk wajah melalui benda
Meski telah berusia lebih dari 2000 tahun, bentuk wajah mumi terbilang awet. Mumi Mesir kuno cenderung terlihat utuh tanpa pembusukan di sana-sini seperti mumi-mumi di belahan dunia lainnya.
Bentuk yang indah adalah syarat penting mumifikasi. Saleem memaparkan prinsip dasar mumifikasi Mesir kuno adalah mengawetkan jasad seawet mungkin sehingga ruh yang masih ada dapat melihatnya.
“Ini adalah cara untuk memastikan bahwa mereka dapat bangkit. Mereka harus membuatnya secantik mungkin. Semuanya dilakukan dengan alasan,” katanya.
Mumi Mesir kuno (Foto: Wikimedia Commons)
Oleh karena itu, proses mumifikasi dilakukan lewat rekayasa bentuk tubuh. Saleem mempresentasikan ada berbagai bentuk tubuh mumi yang pernah ia temui. Beberapa mumi memiliki pipi yang utuh, sedangkan beberapa lainnya tampak tirus menempel tulang. Sementara ada mumi yang tulang mulai tengkorak, leher, dan pinggang masih tampak tegak.
ADVERTISEMENT
Salah satu Mumi yang diperlakukan hal serupa adalah Ramses. Hidung mumi Ramses begitu mancung dan masih terlihat padat. Dari hasil X Ray menunjukkan terdapat benda yang sengaja ditaruh di bagian hidung mumi Ramses.
“Mereka menaruh tulang hewan kecil untuk menjaga hidungnya tetap seperti itu. Tulang tersebut ditanam di batang hidung,” ujar Saleem.
Tentu masih banyak misteri yang dapat diungkap dari mumi. Tentu bukan menjadi hantu yang tiba-tiba bisa hidup yang bisa lari mengejar kita lalu mencekik. Satu mumi mewakili tumpukan sejarah dari salah satu peradaban paling kaya yang pernah ada di muka bumi.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan