kumparan
4 Apr 2018 13:30 WIB

Menyebar Ilmu, Meraup Untung Lewat Bros dan Rajutan

Berdagang tak melulu menyoal untung-rugi, terjalinnya hubungan sosial juga kudu diperhatikan.
Foto: Feni Farhaeni (kerudung putih, kiring paling bawah) bersama ibu-ibu pelatihan bros
ADVERTISEMENT
Hampir setiap pagi, Feni Parhaeni terbangun saat azan subuh berkumandang dari mesjid dekat rumahnya. Menyiapkan makanan untuk anak, mencuci baju, lalu mengantar si bungsu sekolah, ihwal semacam itu sudah biasa bagi ibu rumah tangga.
Belum lama dia duduk usai mengantar anaknya, bergegas membuka wadah pernak-pernik. "Dulu, awalnya cuma iseng-iseng bikin beginian. Di-posting di Facebook, eh banyak yang suka juga pesen pengen beli," kenangnya, menceritakan awal pembuatan dan penjualan bros.
Ibu dua anak yang tinggal di Jatiasih, Bekasi, tak cuma handal memproduksi bros, dia juga sering menerima pesanan tas dan rompi rajutan. Harga satu bros berkisar antara Rp 5.000-20.000, tas rajut Rp 50.000-100.000, sementara rompi rajut Rp 150.000-180.000. Di antara semua kreasinya, tentu bros yang paling laku dan rutin dijual.
Foto: Tas rajut buatan tangan
ADVERTISEMENT
"Satu bulan, biasanya dapetlah dua sampai tiga juga (dari penjualan bros serta tas dan rompi rajut)," tambah Feni. Pendapatan tersebut, belum termasuk gajinya sebagai guru di salah satu Madrasah Tsanawiyah.
Feni bukanlah tipe pengusaha rumahan yang gemar berdiam diri dalam ruangan seharian. Dia aktif dalam ragam kegiatan sosial, bahkan sering mengadakan pelatihan dasar pembuatan bros bagi ibu-ibu kompleks di Jatiasih.
"Per orang biasanya bayar Rp 15.000 setiap pelatihan. Mereka dikasih satu bros dan dikasih ilmu oleh saya, he-he-he." Sekali pelatihan biasanya dihadiri 10-20 orang; Feni pun tak khawatir keterampilan yang dibagikan bakal jadi bumerang yang menyalip usahanya. "Kreativitas tiap orang kan beda, seninya beda, jadi gak usah takut rezeki disalip orang."
Foto: Dimulai dengan promosi iseng di media sosial, kreasi bros bisa jadi ladang uang
ADVERTISEMENT
Memang, sebetulnya tak ada yang perlu dicemaskan, pelatihan keterampilan rutin justru merupakan cara terbaik Feni dalam merekrut pelanggan tetap dan rekan bisnis. Berkatnya, wirausaha milik perempuan 36 tahun itu makin dikenal luas dan pesanan produksi pun terus meningkat.
Saat ini, sudah ada tiga ibu yang bekerja paruh waktu pada usaha bros Feni, rutin membantunya memenuhi pesanan. "Inginnya sih nanti buka toko, jual sendiri bahan-bahannya. Sebulan harusnya minimal dapet (profit) lima juta lah," harapnya tersenyum, menuturkan rencana ekspansi bisnisnya dalam waktu dekat.
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan