News
·
21 Juli 2021 6:22
·
waktu baca 2 menit

Belajar dari (Ber)Kurban

Konten ini diproduksi oleh Asep Totoh
Belajar dari (Ber)Kurban (361999)
searchPerbesar
com-Ilustrasi sapi sebagai hewan kurban. Foto: Shutterstock
Memaknai sejarah Kurban, Idul Adha bisa dimaknai sebagai pengorbanan dan keikhlasan. Berawal dari ketaatan Nabi Ibrahim yang rela mengorbankan anak yang sangat dicintainya, Nabi Ismail. Namun ketika Nabi Ibrahim hendak menyembelih Ismail, Allah SWT menggantinya dengan seekor domba. Hal ini sebagai imbalan dari Allah atas ketaatan iman dan keikhlasan Nabi Ibrahim dan Ismail atas perintah Allah SWT.
ADVERTISEMENT
Allah SWT pun memberikan ujian keikhlasan yang sama juga kepada umat Islam lewat Idul Adha (hari raya kurban). Allah berfirman, Sesungguhnya Kami telah memberimu nikmat yang melimpah. Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu, dan berkorbanlah (QS Al Kautsar: 1-2).
Di tengah guncangan dan carut marut perekonomian karena terdampak pandemi COVID-19, tentunya masih ada kelompok masyarakat berkemampuan secara ekonomi. Bisakah kita berkurban ketika kita memiliki kelebihan harta atau kita mampu menyisihkan sebagian harta kita untuk berkurban.
Tentunya semua bergantung niat dan tekad yang kuat untuk mampu berkurban dan kitapun menyakini balasannya karena Allah akan membuka pintu rezeki lain bagi yang menunaikan kurban dengan penuh ketaatan dan keikhlasan.
Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba’: 39).
Senyatanya syariat dari ibadah kurban adalah ujian Allah swt terhadap keikhlasan dari hamba-hamba-Nya dalam menjalankan perintahNya. Mampukah kita melawan hawa nafsu kekikiran dan ketamakan dalam diri kita? Dan, mampukah kita mendidik diri kita dan keluarga untuk selalu mensyukuri karunia rezeki yang telah diterimanya?
ADVERTISEMENT
Dengan kondisi pandemi COVID-19 yang memberikan dampak buruk dalam perekonomian dan kesehatan, sejatinya berkurban adalah cara menjadi bentuk nyata rasa syukur atas nikmat yang Allah berikan. Ketika banyak saudara kita yang terkena PHK, banyak usaha yang gulung tikar, para petani peternak yang merintih dalam kedukaan, maka kurban kita dapat menjadi bukti rasa syukur tersebut.
Belajar dari (Ber)Kurban (362000)
searchPerbesar
Ilustrasi sapi kurban. Foto: Muhammad Iqbal/kumparan
Ikhlas adalah qurban, berbuat baik kepada orang tua, semua saudara, tetangga, teman atau siapa pun di lingkungan masyarakat atau pekerjaan dan tanpa perlu menunggu langsung berbalas kebaikan karena kebaikan akan tumbuh berlipat ganda dari mana pun dan sampai kapanpun. Karena sesungguhnya semua itu adalah cahaya takwa, dan ketakwaan itulah yang dapat membawa seorang hamba kepada keridaan Allah SWT.Sebagaimana firman Allah swt :
ADVERTISEMENT
Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu (Qs.Al Hajj:37)
** Asep Totoh - Dosen Ma’soem University, Kepala HRD Yayasan Bakti Nusantara 666 Cileunyi.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020