News
·
12 Juni 2021 4:24
·
waktu baca 2 menit

Kampus Era Digipreneur

Konten ini diproduksi oleh Asep Totoh
Kampus Era Digipreneur (301790)
searchPerbesar
Ilustrasi kampus Foto: Pixabay
Pihak Kemendibudristek akan mengarahkan startup digital menjadi mata kuliah wajib pada tahun 2022, dan kebijakan ini sebagai visi untuk mencapai target 100.000 mahasiswa yang terlibat dalam pengembangan startup pada 2022. Tidak bisa dinampikkan terlebih ketika pandemi COVID-19 mengguncang dunia di berbagai bidang, senyatanya tidak ada organisasi yang mampu mengingkari kekuatan teknologi di dunia modern.
ADVERTISEMENT
Sistem teknologi informasi saat ini dapat membantu suatu bisnis untuk menjadi lebih responsif, efisien, dan fleksibel dalam wujud perubahan yang cepat dan berkelanjutan. Dunia digital mengalami perubahan yang sangat cepat dalam beberapa tahun terakhir yang mendorong sebagian pelaku usaha untuk menerapkan strategi digital dalam menjalankan usaha mereka.
Selanjutnya, menurut data Bank Dunia menyebutkan bahwa Indonesia tengah mengalami digital talent gap (kesenjangan talenta digital) dan Indonesia Butuh 600.000 talenta digital untuk mengatasi digital talent gap tersebut. Artinya saat ini dibutuhkan peran penting kampus dalam pengembangan kewirausahaan yang harus bisa menggali kreativitas para mahasiswanya.
Kampus harus bisa membangun mental entrepreneur sebagai proses membentuk kebiasaan atau pola pikir yang dapat membawa perubahan, ide-ide dan inovasi-inovasi baru, yang mampu memberikan nilai tambah yang lebih besar. Karakter inilah yang menjadi fondasi bagi kecerdasan dan pengetahuan (brains and learning) seorang wirausaha.
ADVERTISEMENT
Masalah utama lainnya di era modern saat ini memang semua Perguruan Tinggi harus menyempurnakan kurikulum berbasis digital. Hal Ini harus diutamakan bila negara kita ingin memiliki banyak inovator yang dapat mendorong negara kita menjadi negara maju melalui penemuan-penemuan di bidang teknologi.
Negara Indonesia sangat berpotensi dalam menumbuhkan dan mengembangkan wirausahawan baru, berdasarkan data statistik bahwa pada tahun 2030, Indonesia diperkirakan memiliki penduduk berusia produktif sebanyak 60 persen, dengan 30 persennya merupakan penduduk muda dengan potensi menjadi seorang wirausaha. Gaya hidup digital yang berkembang dewasa ini sangat mendorong berkembangnya start up dan memberikan kemudahan untuk akses pasar produk Usaha Mikro, kecil dan Menengah (UMKM).
Fenomena yang muncul melalui perkembangan teknologi informasi dan komunikasi adalah munculnya wirausaha digital (digipreneur). Menariknya saat ini terdapat peluang pebisnis milenial di perguruan tinggi memiliki semua ciri-ciri sebagai wirausaha digital, dan mereka harus didorong untuk mengembangkan usaha digital secara inovatif baik secara produk, distribusi maupun tempat kerja yang berbasis internet untuk mencari pangsa tertentu dan peluang pasar.
ADVERTISEMENT
Menjadi digipreneur, bukan hanya saja berbicara masalah teknologi apa yang harus dipakai, platform apa yang harus digunakan, aplikasi mobile seperti apa yang harus dibuat, serta desain website dan landing page seperti apa yang menarik untuk dikunjungi. Hal krusial yang harus diperhatikan adalah aspek manusianya, karena hal ini menjadi modal utama yang sangat menentukan keberhasilan bisnisnya.
Era disruptif inovasi bisa jadi menakutkan bagi para entrepreneur yang masih menjalankan bisnis secara konvensional. Hal ini yang memacu para pelaku usaha untuk melakukan perubahan strategi bersaingnya agar tidak punah ditelan zaman. Tantangan nyata era disruptif inovasi akan berdampak pada penciptaan nilai atas usahanya terutama pada skala mikro, kecil, dan menengah.
Kondisi pandemi COVID-19 saat ini pun bukan hanya memberikan ancaman saja namun juga memberikan peluang munculnya para wirausaha 'digital startup' baru dengan era digital marketing-nya. Sederhananya ketika bermunculannya para wirausahawan baru ke permukaan tentunya akan membuka lapangan kerja baru dan tentu saja akan menyerap tenaga kerja baru.
ADVERTISEMENT
Peluang bisnis saat ini bisa menjangkau ribuan, jutaan, atau miliaran pelanggan potensial di mana saja di dunia, hampir setiap saat, dengan teknologi yang sangat murah. Kita bisa membuat produk dan layanan baru di perangkat pribadi, lalu mengirimkannya dengan jangkauan global secara cepat. Kita pun dapat memilih berbagai cara untuk menghasilkan pendapatan bagi bisnis dari iklan, langganan, penjualan, atau bahkan donasi dan crowdfunding.
Dunia digital menawarkan sumber daya baru yang sangat luas bagi para wirausahawan untuk memanfaatkan, mulai dari pengumpulan data terbuka, konten, kode, dan layanan yang tumbuh secara eksponensial hingga kontribusi online pengguna dan komunitas di seluruh dunia.
Digitalisasi menyediakan cara baru untuk menggabungkan semua sumber daya. Saat ini bisnis kecil pun dapat memanfaatkan jaringan periklanan besar, chatbot berbasis Artificial Intelligence, freelancer global, atau penerjemahan bahasa hanya dengan beberapa klik atau beberapa baris kode.
ADVERTISEMENT
Terdapat lima tipe dasar bisnis digital yakni: Content-Based Business, Community-Based Business, Online Store, Matchmaking Business, dan Promotion Business (Allen;2019). Jelaslah, tranformasi digital atau going digital diibaratkan bagai sebuah mantra bagi penyihir menjamin keberhasilan bisnis. Tuntutan nyata bagi para pengusaha, termasuk para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) harus berganti platform jika ingin usahanya sukses.
Kampus Era Digipreneur (301791)
searchPerbesar
Ilustrasi Wirausaha era Digital, foto: Pixabay
Data selama pandemi COVID-19 menunjukkan jika nilai penjualan UMKM digital meningkat lebih tinggi dibandingkan usaha manual. Kenaikan mengesankan ini dapat diartikan sebagai peningkatan keuntungan berujung pada keberhasilan usaha secara berkelanjutan.
Alhasil, menjawab era knowledge based economy tantangan dan tuntutan yang paling mengemuka adalah lembaga pendidikan harus Entrepreneur application dan Innovation driven agar keluar dari kondisi saat ini yang beraktivitas di zona aman (pure public dan budget driven).
ADVERTISEMENT
** Asep Totoh - Dosen Ma’soem University, Kepala HRD Yayasan Bakti Nusantara 666 Cileunyi.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020