News
·
22 Januari 2021 11:33

Manajemen Stres Dengan "DUIT"

Konten ini diproduksi oleh Asep Totoh
PANDEMI Covid-19 yang belum memberikan tanda-tanda pemutusan penularan di berbagai belahan dunia, khususnya di Indonesia telah memberikan dampak stres yang sangat luar biasa pada masyarakat.
ADVERTISEMENT
Sumber stres pada masa pandemi bisa disebabkan mulai dari pemberitaan Covid-19, pembatasan sosial (PSBB atau PPKM) yang mengakibatkan masalah ekonomi, interaksi sosial terbatas, Work From Home (WFH) yang mungkin lebih menyita waktu, Belajar dari Rumah (BDR) atau PJJ, serta kecemasan berlebihan akan tertular dan ketidakpastian berakhirnya pandemi.
Lazarus dan Folkman (dalam Evanjeli, 2012) yang menjelaskan stres sebagai kondisi individu yang dipengaruhi oleh lingkungan. Kondisi stres terjadi karena ketidakseimbangan antara tekanan yang dihadapi individu dan kemampuan untuk menghadapi tekanan tersebut. Individu membutuhkan energi yang cukup untuk menghadapi situasi stres agar tidak mengganggu kesejahteraan mereka.
Disarikan dari pendapat para pakar kesehatan, stres merupakan reaksi tubuh baik secara psikis maupun fisik, karena adanya ancaman, tekanan, perubahan, ataupun ketegangan dari luar. Ciri stres antara lain, takut, khawatir, negative thinking, muncul kecemasan, gangguan tidur, gangguan nafsu makan, serta psikosomatis atau gangguan kejiwaan yang bermanifestasi pada gejala fisik seperti sakit kepala, sesak nafas, jantung berdebar-debar, serta mual.
ADVERTISEMENT
Bagaimana kita bisa mengenali stres, Martaniah dkk dalam Rumiani (2006 ) menyebutkan bahwa stres terjadi melalui tahapan :
  1. Tahap 1 : stres pada tahap ini justru dapat membuat seseorang lebih bersemangat, penglihatan lebih tajam, peningkatan energi, rasa puas dan senang, muncul rasa gugup tapi mudah diatasi.
  2. Tahap 2 : menunjukkan keletihan, otot tegang, gangguan pencernaan.
  3. Tahap 3 : menunjukkan gejala seperti tegang, sulit tidur, badan terasa lesu dan lemas.
  4. Tahap 4 dan 5 : pada tahap ini seseorang akan tidak mampu menanggapi situasi dan konsentrasi menurun dan mengalami insomnia.
  5. Tahap 6 : gejala yang muncul detak jantung meningkat, gemetar sehingga dapat pula mengakibatkan pingsan.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan tahapan stres terbagi menjadi 6 tahapan yang tingkatan gejalanya berbeda-beda di setiap tahapan.
ADVERTISEMENT
Dalam kehidupan sehari-hari setiap individu perlu untuk bisa manajeman stres, yaitu suatu tindakan mengendalikan, mengelola, dan mengatur stres. Manajemen stres dimulai dari menganalisa masalah yang dihadapi, lalu menemukan inti masalah, kemudian dapat berlanjut dengan mencari jalan keluarnya, serta tidak lupa untuk selalu berpikir positif.
Tidak hanya itu, selanjutnya bisa dan membiasakan untuk melakukan hal-hal yang disukai saat waktu luang, kemudian perbanyak aktivitas fisik seperti olahraga teratur. Mengelola stres yang tepat bisa membuat seseorang lebih produktif dan bahagia.
Menurut Ardani (2013) ada dua strategi yang bisa digunakan untuk menghadapi stres, yaitu strategi menghadapi stres dalam perilaku yang terdiri dari memecahkan persoalan secara tenang, agresi, regresi, menarik diri dan mengelak. Sedangkan strategi yang kedua adalah strategi menghadapi stres secara kognitif yang terdiri dari represi, menyangkal kenyataan, fantasi, rasionalisasi, intelektualisasi, pembentukan reaksi dan proyeksi.
ADVERTISEMENT
Perlu dipahami sebenarnya stres tidak selalu berorientasi buruk pada hidup kita, dengan adanya stres mendasari semua tindakan yang kita lakukan. Tanpa adanya stres, kita tidak memiliki kekhawatiran untuk melakukan hal ini dan itu. Akan tetapi, tidak semua orang tahu cara menghadapi dan mengatasi stres dengan baik sehingga menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan.
Manajemen Stres Dengan "DUIT" (34062)
searchPerbesar
Ilsutrasi Stres, Foto: Shutterstock
Mengelola Stres dengan “DUIT”
Doa dan Dzikir.
Sebagai insan beriman, doa dan dzikir menjadi sumber kekuatan bagi kita dalam berusaha. Adanya harapan yang tinggi disandarkan kepada Allah SWT, demikianpun apabila ada kekhawatiran terhadap suatu ancaman, maka sandaran kepada Allah SWT senantiasa melalui doa dan dzikir.
Sebagaimana Firman Allah swt QS Ar Rad : 28,
”(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.”
ADVERTISEMENT
Usaha ( Ibadah dan Ikhtiar beramal shaleh)
Manusia dalam kondisi stres harus berusaha dengan Ibadah dan Ikhtiar beramal shaleh.
Memperbaiki sisi ibadah-ibadah kita, terutama kewajiban shalat, dalam QS Al Baqarah : 153. “Hai orang-orang yang beriman, Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”
Selanjutnya menjadi orang-orang yang dalam hidupnya senantiasa beramal shaleh, kehidupannya akan menjadi lebih baik di setiap sisi tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat kelak.
Di saat pandemi covid19 melakukan kegiatan empati dan kemanusian seperti bersedekah atau berbagi makanan bagi mereka yang tidak terlalu beruntung, senantiasa berbagi rasa bahagia bagi siapa pun yang melakukannya. Ketika rasa bahagia yang tumbuh itu, secara otomatis akan menghilangkan rasa stres.
ADVERTISEMENT
Allah subhanahu wa ta’alla berfirman yang artinya;
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (Q. S. An-Nahl : 97).
Ikhlas dan Istiqomah
Semua usaha kita harus didasarkan pada ikhlas demi mengharap ridha Allah swt. Senyatanya Ikhlas bisa jadi obat mujarab dalam mengatasi stres, karena dengan ikhlas maka akan membuat diri rileks sekaligus membantu mengatasi emosi atau nafsu yang datang ketika stres terjadi.
Karena kondisi stres akan membuat otak menjadi lebih emosi atau nafsu, keadaan ikhlas menyebabkan temperamen yang dimiliki pun bisa dengan mudah diatur.
ADVERTISEMENT
Ketenangan hati sebagaimana dalam QS At Taubah : 91. “tiada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah, orang-orang yang sakit dan atas orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan, apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya. tidak ada jalan sedikitpun untuk menyalahkan orang-orangyang berbuat baik. dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
Selanjutnya yang paling sulit adalah istiqomah, mampukah kita terus untuk selalu konsisten untuk selalu berdoa, berdzikir, beribadah dan beramal shaleh juga ikhlas.
Maka tetaplah kamu (pada jalan yang benar), sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah bertaubat bersama kamu. Dan janganlah kalian melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha melihat apa yang kalian kerjakan [Hûd/11: 112]
ADVERTISEMENT
Tawakkal ( Bersyukur dan Berserah Diri)
Menjadi kunci dalam menghadapi stressor adalah dengan selalu bersyukur dan menerima segala pemberian Allah SWT. Allah SWT sudah mengajarkan di dalam Al Qur’an Surat Al Fatihah ayat 2 “"Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam”, dan Al Baqoroh : 156 : (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun (Kami ini kepunyaan Allah, dan kepadanya jua kami akan kembali)"
Kedua ucapan di atas sudah sangat familiar dilidah kita, dan apabila kita pahami maknanya setiap kali mengucapkannya saat menghadapi cobaan maka niscaya akan muncul kekuatan psikologis yang besar untuk mampu menghadapi musibah itu.
Dalam Islam, menghadapi segala macam bentuk masalah selalu ada jalan keluarnya karena kita percaya bahwa semua itu adalah ujian yang diberikan oleh Allah subhanahu wa ta’alla. sebagaimana firman Allah di dalam Al-Qur’an yang artinya;
ADVERTISEMENT
“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (Q. S. Ali ‘Imron : 139).
Oleh :
Asep Totoh - Dosen Ma'soem University, Kepala HRD Yayasan Pendidikan Bakti Nusantara 666.