News
·
17 April 2021 6:13

Mudik Spiritual

Konten ini diproduksi oleh Asep Totoh
SEJAK jauh-jauh hari pemerintah telah memutuskan untuk melarang mudik pada lebaran tahun ini, dan keputusan ini diambil melalui berbagai macam pertimbangan. Pemerintah telah mengeluarkan surat keputusan soal larangan mudik yang ditetapkan pada 6-17 Mei untuk mencegah penyebaran COVID-19.
ADVERTISEMENT
Pertimbangan utama yang dilatarbelakangi terjadinya peningkatan kasus virus corona dalam empat kali libur panjang sepanjang tahun 2020. Yaitu, berdasarkan analisa pada kenaikan kasus saat idul fitri 2020, libur panjang 20-23 Agustus 2020, libur 28 Oktober sampai 1 November 2020, dan libur akhir tahun pada 24 Desember sampai 3 Januari 2021.
Larangan mudik lebaran bagi masyarakat di mulai 6 hingga 17 Mei 2021, masih ada tenggat waktu sekitar dua puluh harian lagi. Walakin, sejak diputuskan masyarakat sudah ramai dengan aturan itu.
Niscayanya, bagi kaum muslim menjadi sebuah momen puncak dan ritus paling suci yang menandai berakhirnya momen bulan ramadhan adalah dengan mudik lebaran.
Di masa pandemi COVID-19 yang hanya sedikit mengalami penurunan, tidak atau menunda mudik adalah momen untuk lebih menguatkan tradisi mudik lebaran bukan hanya sekadar tradisi tahunan khas Indonesia.
ADVERTISEMENT
Senyatanya mudik, bukan hanya pulang ke tanah kelahiran, bertemu dengan orang tua, berkumpul dengan sahabat, memakai baju baru, bagi-bagi rejeki, mencium aroma lembah, bukit, dan pepohonan. Lebih jauh lagi, ini adalah saat di mana kita mulang ke udik untuk rekalibrasi diri secara spiritual dan sosial.
Di mana makna mudik yang hakiki adalah kita kembali terlahir fitri kembali, mudik dalam makna kita benar-benar kembali fitrah, kita kembali suci seperti bayi yang baru lahir.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu berkata, Rasulullah Saw bersabda, "Barangsiapa berpuasa ramadan atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni. Dan orang-orang yang mudik sesungguhnya sedang menjalani teologi "ilaihi roji'un", setiap orang pada saatnya pasti mudik ke kampung halaman abadi".
ADVERTISEMENT
Senyatanya inilah mudik spiritual, yakni kembali ke hadapan Allah Sang Maha Pemilik segalanya. Perjalanan pulang yang tentunya penuh liku, menempuh jarak yang cukup panjang, dan melelahkan.
Semakin jelas jika kehadiran ramadhan menjadi kebutuhan kita untuk meng-upgrade iman dan takwa sehingga kita benar-benar menjadi khaira ummah.
Menjadi semakin kuat dan tebal iman, semakin meningkat takwanya yang akhirnya kita dapat mendekati bangunan yang ideal yakni menjadi insan kamil yang akan kembali menuju Sang Pemiliknya.
Mudik Spiritual (560558)
Ilustrasi kemacetan Mudik Lebaran Foto: Shutterstock
Disarikan dari beberapa literatur, para ahli dan faktanya tidak ditampikan jika setelah bulan ramadhan berlalu, orang akan terbagi menjadi beberapa bagian, namun secara garis besarnya mereka terbagi dua golongan.
Golongan yang pertama yaitu orang yang pada bulan ramadhan tampak sungguh-sungguh dalam ketaatan namun itu semua hanya berlalu begitu saja bersama habisnya bulan ramadhan dan setelah itu ia kembali lagi bermalas-malasan, kembali mendatangi maksiat seolah-olah ia baru saja dipenjara dengan berbagai macam ketaatan lalu kembali terjerumus dalam syahwat dan kelalaian juga mengulangi perbuatan-perbuatan maksiatnya di masa lalu.
ADVERTISEMENT
Golongan yang kedua yaitu orang yang bersedih ketika berpisah dengan bulan ramadhan mereka rasakan nikmatnya kasih dan penjagaan Allah, mereka lalui dengan penuh kesabaran, mereka sadari hakikat keadaan dirinya, betapa lemah, betapa hinanya mereka di hadapan Yang Maha Kuasa, mereka berpuasa dengan sebenar-benarnya, mereka salat dengan sungguh-sungguh.
Perpisahan dengan bulan ramadhan membuat mereka sedih, bahkan tak jarang di antara mereka yang menangis. Sebab itu, keberhasilan shaum akan tampak manakala lahir pribadi yang shaleh ritual dan shaleh sosial.
Allahu a'lam bissawab.
**Asep Totoh - Dosen Ma'soem University, Kepala HRD Yayasan Pendidikan Bakti Nusantara 666 Cileunyi Kab.Bandung.