News
·
18 Oktober 2020 5:40

Pendidikan Era Generasi 'Zoom'

Konten ini diproduksi oleh Asep Totoh
Pendidikan Era Generasi 'Zoom' (128271)
Siswa belajar secara daring dengan akses internet gratis dari Pemprov DKI Jakarta. Foto: Ajeng Dinar Ulfiana/Reuters
PANDEMI COVID-19 telah membawa perubahan, virus COVID-19 pun telah membunuh KEBIASAAN-KEBIASAAN kita selama ini. Dua sisi dari Pandemi ini selain dampak negatif, ada sisi peluang baik yang juga diperoleh saat ini. Dalam bidang pendidikan, dengan radikal ketahanan sistem pendidikan pun di uji pandemi.
ADVERTISEMENT
Wabah corona ini justru menjadi katalis hebat yang memacu dunia pendidikan, seperti mendorong lebih banyak pemanfaatan teknologi informasi dalam aktivitas pembelajaran jarak jauh. Saat ini, pembelajaran jarak jauh (PJJ)/ online learning menjadi satu-satunya solusi atas problem mendasar terselenggaranya proses belajar-mengajar di era pandemi. Senyatanya, pandemi ini mampu mengakselerasi pendidikan 4.0.
Pandemi COVID-19 telah melahirkan dua tren sekaligus dalam proses pembelajaran. Pertama pembelajaran secara online (online-schooling) dengan menggunakan platform digital. Kedua peran orang tua yang semakin besar dalam proses pembelajaran anak (home schooling). Yuswohady (2020) menyebutnya “online+home-schooling”, Online+home-schooling mengubah secara mendasar wajah dunia pendidikan ke depan
Jika sebelumnya generasi milenial sering disebut “Instagram Generation” dan Gen-Z adalah “Snapchat Generation”. Maka setelahnya, Saat ini tengah lahir “Zoom Generation”. Kalau generasi milenial dan Gen-Z tumbuh di tengah keajaiban teknologi digital (internet, media sosial, tech startup), Generasi Zoom tumbuh di tengah dunia yang rapuh oleh ancaman pandemi dan risiko hidup yang tinggi.
ADVERTISEMENT
Awalnya memang denial (apalagi harus menggunakan platform digital e-learning seperti Zoom, Webex, atau lainnya), namun setelah berjalan berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan, maka mereka mulai terbiasa, menikmatinya, dan ketagihan.
Pendidikan Era Generasi 'Zoom' (128272)
Ilustrasi Genrasi Zoom, foto Shutterstcok
Dipahami bersama, dalam pembelajaran jarak jauh ciri utama ialah keterpisahan antara pengajar dan siswa. Oleh karenanya, materi ajar yang diberikan haruslah dipersiapkan dan dirancang dengan baik agar sifatnya self-explanatory, selfcontained, self-directed, selfmotivated, self-evaluating dan self-learning (Ranganathan, 2007) sebagaimana yang sudah diterapkan di Universitas Terbuka sebagai Perguruan Tinggi terbuka jarak jauh pertama di Indonesia.
Menjadi utama keberadaan guru dalam Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), terpenting adalah peran guru untuk membuat siswanya bergairah belajar. Mengutip Kathy Paterson (55 Teaching Dilemmas)" Guru yang baik dapat diibaratkan orang yang sedang menyalakan api, makin lama nyala api tersebut semakin membesar. Makna sederhananya, mengajar dengan baik akan membuat para siswa merasa senang untuk belajar dan membiarkan mereka akan terus berkembang.
ADVERTISEMENT
Kemudian, COVID-19 pun mengubah pola pengasuhan anak (parenting style). Ketika work from home memungkinkan orang tua banyak berkumpul dengan anak, maka pola pengasuhan yang efektif adalah “positive parenting“ di mana orang tua secara proaktif menjelaskan perilaku yang baik dan dan mengajak anak untuk sama-sama memahami situasi sulit ini.
Seanyatanya pandemi COVID-19 telah membuka tabir pentingnya peran orang tua dalam perkembangan anak, sekaligus menjawab pernyataan Ki Hajar Dewantara jika Rumah adalah Sekolah dan Setiap Orang adalah Guru. Setelah kebijakan belajar di rumah dengan pembelajaran jarak jauh/daring, orang tua memiliki peran penting menjadi guru di dalam pola asuhnya.
Di dalam keluarga, orang tua sangat berperan sebab dalam kehidupan anak waktunya sebagian besar dihabiskan dalam lingkungan keluarga apalagi anak masih di bawah pengasuhan atau anak usia sekolah dasar yaitu antara usia(0‐12tahun),terutama peran seorang ibu.
ADVERTISEMENT
Mendidik dalam makna luas adalah tanggung jawab orang tua, tentunya dalam makna paling hakiki. Bagaimana mengajari anak-anak tentang baik dan buruk, mengajari anak mengatasi masalah hidup, mengajarkan jiwa mandiri dan bertanggung jawab, mengajarkan sikap silih asah-asih-asuh, rajin-terampil-dan-gembira, hemat-cermat-dan-bersahaja, ataupun karakter dan nilai-nilai universal lainnya.
Menjadi tugas bersama para orang tua untuk bisa membuat anaknya merasa senang dalam belajar, pendekatan belajar sambil bermain atau bertukar peran antar ibu dan ayah sebagai guru di rumah atau mungkin banyak pendekatan dan solusi lain yang masih bisa dilakukan. Bagi keluarga inti yang lengkap, jika peran ibu sudah mengalami rasa bosan ketika mengajarkan anak belajar online maka sang ayah bisa menggantikannya. Pada intinya, orang tua harus saling melengkapi saat masa pandemi seperti ini.
ADVERTISEMENT
Mari kita antarkan anak-anak didik kita ke gerbang kesuksesannya tanpa ambisi/ego model pembelajaran guru yang berlebihan atau minimnya pengetahuan orang tua, yang akhirnya menghasilkan sebuah kerugian yang besar pada masa depan anak. Jangan dilupakan jika kesuksesan itu diraih tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan akademik saja, namun ada kemampuan "soft skill", akhlak, budi pekerti, karakter dan pengetahuan agama yang harus diasah untuk menjadikan anak menjadi anak yang tangguh, berkarakter serta memiliki akhlak mulia serta berorientasi pada akhirat.
Pelaksanaan pendidikan selama masa pandemi COVID-19 sudah seharusnya menjadi momentum untuk melakukan transformasi pendidikan.
Asep Totoh - Dosen Ma'soem University, Kepala HRD Yayasan Pendidikan Bakti Nusantara 666