kumparan
19 Mei 2019 21:50

Belajar Puasa Tak Boleh Dipaksa

belajar puasa-kumparan.png
Chief of kumparanMOM Prameswari Sugiri (kanan) bersama dr Ariani Dewi Widodo dan Shireen Sungkar saat menjadi pembicara. Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan
Kapan sebaiknya anak-anak mulai belajar puasa? Untuk yang satu ini, dr Ariani Dewi Widodo bilang, "Tidak ada waktu yang pasti. Setiap anak punya fasenya masing-masing." Anak-anak boleh dikenalkan sejak dini, tapi tidak boleh dipaksa langsung berpuasa penuh. Sesuaikan dengan usia dan kebutuhan tubuhnya dalam fase tumbuh kembang.
ADVERTISEMENT
Pada anak-anak yang usianya di bawah 5 tahun, boleh dikenalkan dengan puasa melalui santap sahur bersama keluarga. Jika pada pagi hari anak-anak kelaparan, orang tua boleh melonggarkan waktu anak berpuasa dengan banyak cara. Misalnya, puasa hanya di sekolah saja, puasa dimulai setelah sarapan, puasa hanya di antara waktu makan besar, puasa hanya makanan saja, dan puasa setengah hari.
Puasa mana yang cocok dengan kebutuhan anak, bisa dicari tahu pelan-pelan. Intinya adalah, orang tua bersabar selama proses belajar, dan anak-anak bisa menjalankan puasa dengan tetap bersenang-senang.
Puasa memang meningkatkan imunitas tubuh, namun para ibu tetap perlu memperhatikan kemampuan si kecil menahan lapar dan haus. Tidak perlu berlebihan, agar si kecil mampu mengimbangi kesehatannya. Saat anak-anak mulai belajar berpuasa, orang tua hendaknya memerhatikan beberapa hal berikut ini:
ADVERTISEMENT
  1. Selalu sempatkan makan sahur. Anak-anak sedang dalam masa pertumbuhan. Makan sahur yang padat gizi tentu diperlukan. Pastikan dalam menu sahur superhero kecil ada kandungan serat dari sayuran dan buah-buahan.
  2. Pastikan anak istirahat yang cukup. Saat belajar berpuasa, waktu tidur anak akan berkurang karena makan sahur dan terlalu larut tidur karena taraweh. Untuk mengantisipasinya, ajak anak untuk tidur siang. Waktu istirahat yang normal adalah delapan jam.
  3. Perhatikan kondisi tubuh anak. Jika anak terlihat sangat lemas dan tidak lagi bisa beraktivitas seperti biasa, sebaiknya anak diberi kelonggaran untuk berbuka puasa lebih dulu dan melanjutkan puasanya kembali kemudian. Setiap ibu pasti mengenal anaknya sendiri, jangan samakan kondisi tubuh anak dengan kondisi tubuh teman-temannya ya.
  4. Beri anak minum yang cukup. 70% dari berat badan anak merupakan cairan. Saat cairan berkurang, tubuh akan mengalami dehidrasi yang efeknya yaitu gampang lelah pusing, dan sakit kepala. Sebaiknya hindari minuman seperti teh dan soda karena keduanya punya sifat diuretik. Jenis minuman ini membuat anak lebih sering buang air kecil, akibatnya kemungkinan dehidrasi semakin besar.
  5. Jangan lupa mandi teratur dan cuci tangan yang bersih. Cuci tangan, khususnya sebelum makan sangat penting agar kuman tidak menyebar dan masuk ke tubuh. Biasakan anak mencuci tangan usai bermain di luar, menggunakan kamar mandi, menyentuh hewan peliharaan, dan setelah batuk/bersin. Mandi teratur juga penting untuk membuat tubuh anak selalu segar, dan bebas dari kuman/bakteri jahat.
  6. Dengarkan pendapat anak. Ketika belajar berpuasa, anak-anak bisa membandingkan dirinya dengan teman-temannya. Antisipasi kemungkinan anak-anak merasa sedih karena ketinggalan dari teman-temannya, dan minta anak untuk menghormati teman sebayanya yang belum mampu berpuasa seperti dirinya.
ADVERTISEMENT
belajar puasa-kumparan-dettol.jpg
Selamat menemani anak berpuasa. Semoga puasa di tahun ini lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.
/Salam Puasa
Reh Atemalem Menulis cerita perjalanan di: atemalem.com
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan