Opini & Cerita
·
14 Februari 2020 14:51

Kekhawatiran yang Muncul Ketika Waktunya Semakin Dekat

Konten ini diproduksi oleh Aulia Risyda Fauzi
Kekhawatiran yang Muncul Ketika Waktunya Semakin Dekat (2214)
Alyssa married. Dok. YouTube The End of the F***ing World: Season 2
Pekan ini aku disibukkan oleh tetek bengek per-resepsi-an. Karena baru menentukan tanggal pekan kemarin, pekan ini harus booking sana sini.
ADVERTISEMENT
Sebenarnya aku bosan membicarakan permasalahan pernikahan. Karena aku dan dia tunangan sudah cukup lama, 6 bulan lalu kiranya.
Sejak itu, siapa saja yang tau aku sudah bertunangan akan selalu ada yang bertanya kapan tanggalnya. Dan juga akan langsung bubar jalan ketika tau waktunya masih panjang.
Tak jarang mereka juga menasehati untuk tidak berlama-lama berdiam diri di status bertunangan. Paling lama 3 sampai 6 bulan saja, katanya.
Kekhawatiran yang Muncul Ketika Waktunya Semakin Dekat (2215)
Ilustrasi Bertunangan. Dok. thinkstock
Tapi, bukannya aku tak dengar dan tak ingin, dua keluarga yang berbeda pulau butuh waktu untuk sama-sama mempersiapkan diri.
Menghargai keputusan keluarga kami lebih penting dibanding memenuhi ekspektasi orang lain, bukan? Jadi meski kadang aku tak senang ditanya perihal 'kapan', pertanyaan-pertanyaan tersebut aku iyakan saja.
ADVERTISEMENT
Nah, berhubung waktu menuju hari H semakin dekat, muncul juga beragam kekhawatiran dalam benakku. Dan kekhawatiran ini yang ingin aku ceritakan di user story pertamaku, dengan tidak bermaksud untuk menularkan negative vibes yaaaa. Siapa tau ada yang memiliki kekhawatiran yang sama, mari kita berjuang bersama.

Takut Punya Anak

Kekhawatiran yang Muncul Ketika Waktunya Semakin Dekat (2216)
Ilustrasi Ibu dan Anak. Dok. Shutterstock
Sejak SMA, aku sangat dekat dengan sepupu-sepupuku yang masih bayi. Aku menyayangi mereka layaknya adikku sendiri. Aku juga sering mengikuti kegiatan mengajar sukarela. Motivasinya hanya karena sebegitu sukanya aku dengan anak-anak.
Tapi ketika mau menikah, mengandung dan melahirkan anak menjadi ketakutanku yang pertama. Katanya, kalau menunda-nunda bisa susah punya anak nantinya. Tapi setelah menikah langsung program, ku rasa aku belum siap. >,<
ADVERTISEMENT
Bayangkan, peranku baru saja berubah menjadi seorang istri. Belum juga selesai beradaptasi, harus segera bersiap memiliki peran ganda sebagai ibu. Memikirkannya aku selalu takut.
Khawatir belum bisa memberikan yang terbaik karena belum paham soal gizi, cara mengasuh dan mendidik hingga cara mempersiapkan dana masa depannya.
Walau aku tau menjadi ibu adalah hal mulia, yang mana di kakinya saja terdapat surga. Tapi, rasa khawatir ini terus menghantui.

Takut Tak Bisa Mengontrol Emosi

Kekhawatiran yang Muncul Ketika Waktunya Semakin Dekat (2217)
Ilustrasi Menangis. Dok. Shutterstock
Kadang kali aku merasa aku ini punya penyakit mental. Sering kali sedih, merasa terisolasi, meledak-ledak, padahal sedang tidak apa-apa. Calonku juga sempat menyarankan untuk pergi ke psikolog saja jika terus-terusan mengganggu. Tapi niat pergi selalu urung.
ADVERTISEMENT
Ketika perasaan-perasaan gundah menyerang tanpa sebab, ketika moodku merusak hari produktif. Aku selalu khawatir, apakah aku bisa menjadi rumah bagi suami nanti. Apakah suamiku akan tahan? Apakah ketika punya anak aku akan sabar? Atau justru jadi ibu yang pemarah? Huhu gamau :((
Untungnya, calonku tidak memiliki problem yang semisal denganku. Sejauh pengamatanku, dia jauh lebih tenang dibanding diriku. Tapi, tapiii, justru hal itu juga yang sering kali menjadi bahan khawatir, apakah aku layak menjadi istrinya?
Bagi sebagian orang yang mengenalku di lingkungan luar mungkin tak akan menyangka kekhawatiran poin kedua ini ada. Karena banyak orang yang mengenalku sebagai seseorang yang pendiam, santun dan tidak bisa marah seperti perwujudan kolam air yang tenang.
ADVERTISEMENT

Kesempatan Memberi Mahkota Surga kepada Orang Tua

Kekhawatiran yang Muncul Ketika Waktunya Semakin Dekat (2218)
Ammar, santri Pesantren Daarul Quran Cinagara yang hafal Al-Quran 30 juz. Dok. Fanny Kusumawardhani/kumparan
Tujuh tahun lalu, aku sangat bersemangat menghafal Quran. Selama empat tahun lamanya aku istiqomah di jalan tersebut. Seluruh keluargaku tentu saja merestuinya.
Maka sesulit apapun jalan yang ditempuh, aku sangat menikmatinya. Terlebih ada ganjaran tak ternilai yang disimpan untuk anak yang menghafal Quran.
Namun tak terasa tiga tahun lamanya aku melepaskan kebiasaanku. Sedang target tak bertambah. Yang dihapalpun tak teruji apakah masih baik kualitasnya.
Oleh karena itu, aku sedih dikejar waktu. Tak bisa membayangkan saat akad berlangsung, saat penyerahan tanggung jawab yang selama ini papa emban kepada calon suamiku kelak, tak ada hadiah dariku membersamai pelepasan tanggung jawab tersebut.
ADVERTISEMENT
Meski tak pernah ada kata cukup untuk membalas jasa orang tua, tapi aku ingin bisa berterima kasih dengan cara terbaik untuk kedua orang tuaku.
Oleh sebab itu, aku berharap punya waktu yang panjang dan berkah saat aku menjalani kehidupan rumah tanggaku kelak. Sehingga masih punya ruang untuk menuntaskan hafalanku, dan menghadiahinya kepada kedua orang tuaku. Aamiin.
----
Selain ketiga kekhawatiran di atas, aku masih belum menemukan kekhawatiran yang berarti. Yang aku lakukan sekarang adalah terus bergerak. Terus mengisi waktu sebaik-baiknya. Sebab soal menikah, sampai kapanpun ditanya kata siap, alasan itu tak mungkin dapat terjawab sempurna.
sosmed-whatsapp-whitesosmed-facebook-whitesosmed-twitter-whitesosmed-line-white