Konten dari Pengguna

Bahagia Itu Sesederhana Aku dan Raket Nyamuk

Aulia Rahmat

Aulia Rahmat

i'm nobody

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aulia Rahmat tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bahagia Itu Sesederhana Aku dan Raket Nyamuk
zoom-in-whitePerbesar

Beberapa hari terakhir saya kembali disibukkan dengan aktivitas kurang kerjaan yang sudah lama tidak dilakukan: berburu nyamuk menggunakan raket listrik. Saya bilang kurang kerjaan karena nyamuk akan tetap ada meski setiap hari saya melakukannya.

Kali terakhir menggebuk nyamuk saya lakukan ketika SD, kurang lebih sekitar 18 tahun yang lalu. Saat itu, hampir setiap malam, rumah simbah di Purworejo dipenuhi oleh nyamuk. Maklum saja, parit sedalam 2,5 meter menganga di sekeliling kediaman kami.

Menyisir tiap ruangan dengan raket nyamuk adalah kewajiban sebelum tidur. Hal itu saya lakukan atas dasar penugasan dan rasa tanggung jawab yang menyertainya. Niscaya, tidur malam kami sekeluarga tak akan pernah nyenyak jika sehari saja tidak berburu nyamuk.

Beda dengan dulu, menggebuk nyamuk dengan raket kini saya lakukan atas dasar kesenangan. Meski nyamuk di rumah kami tidak banyak, namun saya tetap memburunya hampir setiap waktu. Sesuka hati dan sesenang saya.

Saya bersyukur orang-orang dirumah mendukung kegiatan tak berfaedah ini. Salah satu yang paling getol adalah uti --nenek istri saya yang tinggal satu rumah bersama kami. Ia bahkan rela menggendong Awan (anak saya) berjam-jam demi menyaksikan saya 'beratraksi'.

Namanya saja kegiatan tak berfaedah, sudah tentu membawa kemudaratan. Berburu nyamuk membuat saya lupa segalanya: salat, membaca Alquran, momong anak, membersihkan taman di samping rumah, menguras bak mandi, dll.

Ya begitulah. Kecintaan berlebih memang kerap membuat manusia terlena dan lupa. Selebihnya, bagi saya berburu nyamuk adalah candu. Mengibas raket ke udara adalah mekanisme tubuh saya memperoleh endorfin. Bunyi 'pletak-pletak' hasil hubungan pendek nyamuk dengan besi yang teraliri listrik mencetus sistem saraf pusat untuk memompa rasa bahagia.

Jika Pram membakar sampah, Kanselir Jerman Angela Markel menimbun makanan, maka saya dolanan raket nyamuk. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk berbahagia. Meskipun sama saja: tak berfaedah dan membawa kemudaratan.

(Foto: Dok Aulia Rahmat)