Ketika Dingin Menyelimuti Hari

Aurellia Henyndraputri
Mahasiswa Jurnalistik Politeknik Negeri Jakarta
Konten dari Pengguna
12 Juni 2024 8:31 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Aurellia Henyndraputri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Woman Looking at Sunset. Foto: Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Woman Looking at Sunset. Foto: Pexels
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Hidup dengan template yang sama berulang setiap hari, rasa bosan itu selalu menyelimuti tubuhku. Tidak ada keistimewaan atau kejutan yang datang, entah itu akan terjadi atau malah tidak akan pernah terjadi. Aku selalu percaya akan adanya keajaiban, suatu saat aku pasti akan mendapatkannya bukan? Hidup dengan penuh keyakinan seperti itu membuatku sedikit memiliki motivasi untuk hidup, menanti-nanti keajaiban yang aku harap akan mengubah hidupku ini.
ADVERTISEMENT
Tapi mengapa ya aku selalu gagal ketika mencoba hal baru? Rasanya lelah selalu berekspektasi tinggi akan sesuatu, lalu dipatahkan oleh realita. Konon katanya setiap orang memiliki keberuntungannya masing masing. Entah itu dalam hal keluarga, percintaan, maupun kekayaan. Lalu dimanakah letak takdir keberuntunganku berada? Aku tak merasa beruntung dalam ketiganya.
Angin dingin selalu menyelimuti tubuhku dalam perjalanan menuju kampus. Pikiran yang entah kemana arahnya. Tetapi rasa semangat masih ada dalam diriku. Mengingat aku yang memiliki banyak mimpi dan tak sabar ingin kugapai satu persatu. Semua rasa lelah itu aku jalani dengan keyakinan bahwa Tuhan akan membalasnya dengan kenikmatan yang luar biasa.
Iri terhadap pencapaian, keharmonisan dalam keluarga, bahkan kisah percintaan orang lain. Setidaknya aku ingin memiliki keluarga yang lengkap. Ketika teman-temanku menceritakan tentang Ayahnya, apa yang harus kukatakan? Aku hanya terus tersenyum mendengarkan kisah yang mereka bagikan saat itu. Apakah menyenangkan jika memiliki seorang Ayah dalam kehidupanmu?.
ADVERTISEMENT
Namun, aku sadar bahwa iri hanya akan memperdalam jurang antara aku dan kebahagiaan. Aku harus mengubah perspektif. Aku harus melangkah keluar dari kegelapan menuju cahaya.
Mungkin, keberuntungan tidak selalu terlihat seperti apa yang aku bayangkan. Di balik semua kegagalan dan kekecewaan, ada pembelajaran berharga yang aku dapatkan. Aku percaya Tuhan sedang menyiapkan sesuatu yang lebih baik untukku di masa depan.
Aku memutuskan untuk tidak lagi terjebak dalam siklus kekecewaan ini. Aku akan terus berusaha, terus mencoba hal baru, dan terus berharap bahwa suatu hari, keberuntungan akan tersenyum padaku. Dan jika tidak, setidaknya aku tahu bahwa aku telah melakukan segalanya dengan sepenuh hati.
Karena pada akhirnya, hidup adalah tentang bagaimana kita merespons setiap tantangan dan kekecewaan. Dan aku memilih untuk melihatnya sebagai peluang untuk tumbuh dan berkembang. Siapa tahu, mungkin di ujung jalan, keajaiban sedang menunggu untuk mengubah hidupku menjadi sesuatu yang luar biasa.
ADVERTISEMENT