Pencarian populer
USER STORY
26 Mei 2018 4:43 WIB
..
..

Cerita Utama Final Liga Champions 2018, Bagaimana Menghentikan Madrid?

Para pemain Madrid merayakan kemenangan. (Foto: REUTERS/Kai Pfaffenbach)

Real Madrid vs Juventus (Foto: Oscar del Pozo/AFP)

Dua pekan selanjutnya, orang-orang beranggapan bahwa pertandingan ini sudah selesai dalam pertemuan pertama. Namun, keajaiban di Roma sehari sebelumnya membangkitkan semangat. Jika AS Roma, tim tanpa harapan juara di Italia mampu membalikan ketinggalan pada Barcelona sang jawara Spanyol, kenapa Juve yang mendominasi Italia bermusim-musim tidak mampu melakukannya pada Madrid yang angin-anginan di La Liga. Juventus benar-benar mengejutkan. Mencetak tiga gol dalam tempo satu jam, dan menampilkan pertandingan yang layak ditonton.

Kabar menyebar, penonton di sudut terpencil kolong langit pun mulai menyalakan tv, streaming, dan sebagainya untuk menjadi saksi atas comeback brilian lainnya, dan tidak tanggung-tanggung, menjungkalkan Madrid di Barnebeu. Menit 90+6 pinalti!! Buffon mengamuk dan di kartu merah. Penonton bubar dan mencoba kembali tidur dalam kekecewaan dan pertanyaan kenapa wasit begitu jeli melihat pelanggaran dan dengan teguh menunjuk titik putih, kenapa wasit tidak memberikan Buffon kesempatan untuk memenangkan Liga Champions di musim terakhirnya, toh dia sudah tidak akan nongol di Piala Dunia.

Semifinal, giliran jagoan tangguh asal Jerman, FC Bayern. Oh, pasti inilah akhir petualangan Madrid. Bayern adalah mesin tak berperasaan, mental juara tertanam dalam di ampela mereka dan Die Roten sudah lima kali menjuarai turnamen ini, serta baru saja memastikan gelar ke 28 Bundesliga, semuanya adalah alasan kenapa Madrid akan tersingkir.

Bersama pelatih sepuh yang kembali dari ‘libur’ tiga musim dengan tujuan mengembalikan kekuasaan Bayern di Eropa. Harus diingat, orang ini yang membawa Bayern meraih treble winner pada 2013. Jupp Heynkess mengatakan bahwa dia ingin pertandingan terakhirnya melawan Liverpool yang dilatih Jurgen Klopp sebelum benar-benar pensiun. Tidak salah lagi, ini klub yang pantas mengalahkan Madrid. Optimisme menyeruak bahwa kali ini akhir nyata bagi sang juara bertahan.

Pertandingan di Allianz Arena berjalan sesuai prediksi, Bayern mendominasi dan mengancam. Namun pemenang pertandingan sepak bola ditentukan oleh jumlah gol, bukan jumlah tendangan ke arah gawang atau penguasaan bola, dan itulah yang dilakukan Madrid.

Payah memang, minim serangan dan bahkan pemain sekelas Cristiano melakukan tendangan yang disebut-sebut terburuk sepanjang karirnya, bola ditendang dari luar kotak pinalti, sudut tembak yang sudah ditutup oleh pemain belakang Munchen namun bola keburu meluncur, terus tidak mengenai apapun siapapun, melewati jangkauan kiper dan terus bergulir di rumput menuju garis sisi lapangan menghasilkan lemparan ke dalam, sama sekali bukan ancaman. Tapi Madrid tidak butuh Ronaldo, mereka hanya butuh satu atau dua kesalahan untuk memberikan kekalahan pada jagoan Jerman itu di kandang mereka sendiri.

(Foto : Sportsnet.com)

Memasuki leg kedua, The Bavarian tahu kesalahanya, bertekad memperbaikinya, karena selama Anda bisa menciptakan peluang, maka jumlah gol masih bisa dikejar. Tapi Madrid sedang butuh kemenangan, karena rival mereka, Barcelona baru saja diresmikan menjadi juara La Liga. Laga yang menjanjikan, tidak akan sia-sia begadang untuk menyaksikannya.

Hasilnya, dan prosesnya kurang lebih sama dengan pertemuan pertama minggu sebelumnya, Madrid ditekan habis-habisan, dan sekali lagi, kesalahan di lini belakang dilakukan, sebuah kesalahan dalam mengambil keputusan dan kegugupan dalam mengoper yang memberikan kesempatan untuk Benzema menunjukkan kemampuannya mencetak gol di gawang kosong. Luar biasa, ketajaman Benzema kembali. Penonton kembali kecewa, menyalahkan diri mereka sendiri kenapa harus kembali dikecewakan keputusan wasit. Pelanggaran terhadap Lewandoski dan Marcelo Handsball, kenapa wasit kali ini tidak melihatnya? Dan kenapa Keylor Navas menjadi sehebat David De Gea??

Madrid jadi punya alasan mengadakan pesta dan bisa tetap menegakkan kepalanya menatap musim depan. Biarkan liga menjadi milik Barcelona, tapi mereka menatap final ketiga beruntunnya. Prestasi yang tidak bisa diremehkan dalam era modern, walaupun mereka belum pernah merasakan treble winner, (sekelas Inter pun sudah) tapi tiga tropi Liga Champions beruntun tentu gengsi yang jauh lebih besar, sejarah pecah !. Empat puluh dua tahun sudah sejak Bayern Munchen sebagai tim terakhir yang melakukannya.

(Foto: Atlantic Broadband)

Jadwal di Kiev sudah ditentukan. Penantang Los Blancos kali ini bukan jawara liga, lama sudah sejak terakhir kali mereka mengangkat silverware liga domestik. Penampilannya di liga cukup mengesankan, seringkali menampilkan semangat tempur yang luar biasa dan terkadang mengalami kekalahan mengenaskan.

Penampilan mereka di perempat final UCL paling dikenang, menghadapi tim yang lebih diunggulkan dan sedang dalam grafik yang bagus, Manchester City yang hanya menghitung hari sebelum dinobatkan menjadi juara liga Inggris, mengalahkannya di dua pertemuan. Tapi Liverpool juga adalah klub pertama yang memberikan The Citizens kekalahan dan kelelahan di Liga Inggris.

Jika itu tidak terlalu mengesankan, maka kembali lagi pada pertandingan di fase knock out pertama, Porto di hancurkan lima gol tanpa balas di Estádio do Dragão. Masih kurang mengesankan? Roma dan keajaiban sepak bola Italia dihentikan. Statistik golnya terbaik di musim ini, trio Firmino-Mane-Salah mencetak gol lebih banyak daripada yang bisa dilakukan Benzema-Bale-Cristiano dalam satu musim kompetisi. Tetap tidak mengesankan, karena statistik tidak berpengaruh pada Madrid.

Sejarah. Satu-satunya kekuatan pendukung yang bisa menyulitkan Madrid, kali ini lawannya adalah salah satu dari kelompok klub elit yang pernah menjuarai turnamen ini sebanyak lima kali. Kali terakhir Liverpool menjuarainya pada 2005, adalah final terbaik sepanjang sejarah turnamen antar klub Eropa.

Tertinggal tiga gol di babak pertama oleh klub yang diperkuat pemain-pemain matang berpengalaman, The Kop membalasnya, menunaikan misi yang tidak mungkin dengan mencetak tiga gol dalam tempo lima belas menit. Malam itu, penonton menyaksikan Maldini dan Gattuso kalang kabut menghadapi gempuran Gerrard cs , Kaka tidak mampu melanjutkan sihirnya serta Pirlo dan Shevchenko gugup dalam mengeksekusi penalti. Terdengar menjanjikan bukan ?.

(Foto : Metro.co.uk)

Musim ini, comeback luar biasa juga terjadi, dan salah satu korbannya adalah Liverpool. Unggul tiga gol di babak pertama dan dibalas 45 menit berikutnya oleh Sevilla. Dan Madrid tentu mudah melakukannya. Kekalahan pertama Madrid di UCL musim ini datang dari tim semenjana Inggris, Hotspur, tim yang tidak lebih baik dari Liverpool dari semua aspek (kecuali pertahanan tentu saja).

Jadi, peluang kembali fifty fifty, Liverpool punya kesempatan sama besarnya dengan Real Madrid.

Miracle of Instanbul adalah senjata Liverpool, begitu kata pendukung Liverpool. Mereka selalu berbicara tentang itu seolah Madrid tidak punya kenangan manis di 12 gelarnya. Dan senjata terbaik Liverpool malam itu adalah Kaptennya, Steven Gerrard dengan segala karunia dan kutukan yang dimilikinya mempimpin keajaiban, sosok yang tidak ada di dalam squad asuhan Jurgen Klopp saat ini.

Liverpool mencapai final dengan kebobolan 13 dan memasukan 40 gol, meskipun Madrid kebobolan lebih banyak dan memasukkan gol lebih sedikit dari Liverpool. Sekali lagi statistik tidak bekerja pada Madrid. Ayolah, Real Madrid mengacaukan pertahanan Juventus dalam satu serangan, mengalahkan Bayern bahkan tanpa melakukan serangan, dan kita sekarang berharap Dejan Lovren mampu tampil lebih baik dari Andrea Barzagli dan dua wing back remaja mereka tidak demam panggung seperti Rafinha atau Alaba.

Pasar taruhan mengunggulkan Madrid, karena akal sehat juga berkata demikian. Para pemenang bahkan bisa menang saat ia bermain sangat buruk. Madrid begitu, para juara begitu, kecuali beberapa. Dunia akan lebih mudah menerima kemenangan Madrid ketimbang kekalahannya. Dunia lebih bisa memahami persaingan Cristiano Ronaldo dengan Messi daripada dengan Mo Salah. Pertandingan ini memiliki bobot menentukan dalam pertarungan menuju pemain terbaik dunia. Manusia memiliki kecenderungan untuk berhati-hati pada hal baru, sekaligus merindukannya, dan hal baru itu adalah Liverpool bersama Mo Salah.

Dan cerita Zidane yang muslim yang mengangkat tropi si ‘Kuping Besar’ untuk kali ketiga secara beruntun (terutama karena ini bulan Ramadan) akan menjadi inspirasi miliaran manusia. Bagaimana dengan Salah dan Mane?. Pokok dan tokoh, status quo dan penantang, cerita wasit dan industri : segala detil yang tak bisa dilewatkan. Baiklah, siapapun yang menang, selamat menunaikan ibadah puasa. (Anasiyah Kiblatovski / YK-1)

Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: