• 4

Manajemen Krisis di Kerusuhan Puncak Grasberg 2017

Manajemen Krisis di Kerusuhan Puncak Grasberg 2017


Tahun 2017, tahun yang sibuk untuk perusahaan tambang tertua di Indonesia. Pada 11 Januari, Presiden Joko Widodo mengeluarkan Peraturan Pemerintah, mencabut izin ekspor buntut dari gagalnya kesepakatan pembangunan smelter. Di 15 Januari, perusahaan itu kalah gugatan melawan pemerintah Provinsi Papua senilai Rp 2,1 triliun terkait sengketa pajak air permukaan yang kasusnya sudah berjalan sejak 2015.
Kupu-kupu yang mengepakkan sayap di Papua Indonesia, merontokkan saham perusahaan di bursa New York Amerika Serikat. Di 25 Januari saham perusahaan anjlok 5,8 persen hanya dalam sehari.
Serangkaian negosiasi tingkat dewa terus berlangsung di balik layar, antara Jakarta dan New York, tawar menawar kontrak karya atau Ijin Usaha Pertambangan Khusus dan berapa harga selembar saham perusahaan. Tapi di Papua situasi memburuk. Perusahaan tidak dapat memastikan kapan pemerintah akan mengembalikan izinnya sehingga memperkenalkan Program Pemisahan Sukarela untuk pekerja lepasnya. Pekerja tidak tinggal diam, serangkaian protes dan demonstrasi paska keputusan itu mengguncang gunung Grasberg.
Keterlibatan Maverick
Perusahaan ini menambang di Papua sejak 1967 tapi jajaran eksekutifnya masih dikelola oleh orang asing. Puluhan tahun berpengalaman menghadapi ancaman keamanan dan politik, kini perusahaan musti menunjuk para profesional lokal untuk mengurus situasi massa yang genting.
Perusahaan menunjuk Maverick Indonesia untuk memulihkan komunikasi dengan pekerja yang marah, yang berasal dari beragam etnis, tingkat pendidikan, dan budaya dari seluruh Indonesia.
Secara mendasar, langkah Maverick pertama kali adalah berusaha mengkomunikasikan kebijakan pesangon perusahaan kepada pekerja terdampak. Maverick berusaha membuat perusahaan menyadari bahwa secara budaya pekerja di Indonesia menghargai niat baik perusahaan di tengah situasi sulit. Tapi jika menyangkut pekerja yang kecewa, pesangon bukanlah satu-satunya masalah. Waktu terus berjalan dan situasi makin memanas.
Pada bulan April, lisensi ekspor dipulihkan dan perusahaan dapat mulai berproduksi lagi. Tapi situasi masih panas. Di sekitar waktu itu polisi mendakwa pemimpin serikat dengan tuduhan korupsi. Para pendukung pemimpin Serikat Pekerja menuduh perusahaan telah menekan polisi. Lebih dari 3.000 anggota serikat melakukan mogok kerja untuk menunjukkan solidaritas mereka, saat perusahaan tersebut akan mulai berproduksi lagi.
Public Affair Asia yang berbasis di Hongkong, mencatat bagaimana upaya Maverick mengatasi krisis manajemen di tambang di atas gunung setinggi 2000 meter itu dengan luar biasa.
Menghadapi situasi pekerja yang memanas, Maverick memasang poster-poster di seluruh kota, yang menyatakan bahwa banyak dari mereka masih layak untuk kembali bekerja yang ditunjang dengan iklan surat kabar dengan pesan dalam format yang mudah dimengerti. Berita di surat kabar lokal juga menampilkan pejabat pemerintah daerah dan tokoh masyarakat yang menggemakan pesan tersebut.
Tapi hanya sedikit pekerja yang menanggapi pesan Maverick. Karyawan perusahaan terpolarisasi dan para pemogok menjadi lebih militan dan bahkan mengancam karyawan yang kembali bekerja dengan kekerasan.
Melalui berbagai saluran komunikasi perusahaan (email, media sosial, WhatsApp Grup ditambah spanduk, poster dan selebaran di lokasi yang strategis) Maverick mempromosikan saluran hotline keamanan di mana para pekerja secara anonim dapat melaporkan serangan atau ancaman. Hasilnya, call center menerima 43 laporan ancaman dan kekerasan dari pemogok ke karyawan yang hendak kembali bekerja. Berangsur, insiden penyerangan menurun drastis.
Keluarga Besar Perusahaan
Tugas Maverick yang lain adalah membuat para pekerja yang masih aktif bekerja tetap setia kepada perusahaan. Ini melibatkan kampanye melalui media sosial yang menunjukkan kekuatan mereka sebagai satu keluarga besar. Kampanye tersebut menjadi trending topic nasional di Twitter pada bulan Mei. Hasilnya, pekerja lebih bersemangat meskipun masih ada masalah di sana-sini dan perusahaan mencapai target produksinya, tertinggi dalam tujuh tahun karena mengejar target produksi setelah larangan ekspor.
Tapi, pada malam 15 Agustus, terjadi bencana tanah longsor yang dahsyat di tambang, yang menghancurkan pembangkit listrik, merusak jalanan, dan menewaskan dua pekerja. Tim Maverick terlibat dalam upaya penanganan itu dengan dukungan penuh tim yang lebih lengkap di Jakarta.
Saat tanah longsor sudah pulih 2 hari kemudian, terjadi penembakan Main Supply Road (MSR) menuju lokasi tambang, mengenai kendaraan ringan lapis baja petugas polisi yang mengawal konvoi logistik. Jalan ditutup selama dua hari, dan beberapa jam setelah dibuka kembali, ada masalah baru saat kerumunan besar mantan karyawan terus mengamuk, membakar bangunan di terminal bus, kendaraan, dan peralatan perusahaan. Maverick siap siaga sepanjang waktu untuk memberi kabar terbaru kepada karyawan dan media.
Maverick terus bekerja dan terus meyakinkan para insinyur yang menjalankan roda perusahaan bahwa komunikasi yang efektif akan memudahkan mereka melakukan pekerjaannya. Hasilnya, para insinyur bisa memahami arti penting komunikasi sebagai fungsi manajemen strategis di lokasi tambang yang penuh mesin dan alat berat.
Public Affair Asia mengganjar Maverick dengan trofi emas untuk kategori ‘manajemen dan komunikasi di saat krisis’ pada gelaran The Gold Standard Awards 2017 yang berlangsung di Hongkong akhir tahun lalu. Dengan tajuk ‘bekerja di bawah tekanan, pemogokan, kerusuhan, dan banjir bandang, 2000 meter di atas gunung yang terpencil,’ Maverick dianggap telah menyarankan tindakan yang tepat kepada kliennya. Yakni, bagaimana bertindak tepat sesuai budaya setempat dan bagaimana membuat pesan perusahaan yang komplek menjadi mudah dipahami. Hasilnya, 86 persen karyawan terdampak keputusan PHK yang semula mogok dan marah mau menerima pesangon.
Pekerjaan yang sama juga membuat Maverick Indonesia mendapat tropi emas untuk kategori Best Crisis Management pada PR Awards 2018 yang diselenggarakan oleh Majalah Marketing di Singapura pada 16 Maret 2018 ini.
Majalah Marketing adalah sumber periklanan, pemasaran, dan media terkemuka di Asia dengan edisi di Singapura, Hong Kong, dan Malaysia. Sedangkan Public Affair Asia adalah jaringan senior pemerintahan, korporasi, dan profesional komunikasi bisnis, yang beroperasi di kawasan Asia Pasifik dan berkantor di Hongkong. (Anasiyah Kiblatovski / Sarivita )

(Sumber foto : Pixabay)







BisnisEkonomiInvestasiKeuanganFreeport

presentation
500

Baca Lainnya