News
·
25 November 2020 20:57

Dua Napi Kepergok Nyabu, Karutan Bangka Barat Ngaku Lalai

Konten ini diproduksi oleh Babel Hits
Dua Napi Kepergok Nyabu, Karutan Bangka Barat Ngaku Lalai (154911)
Kepala Rumah Tahanan (Rutan) Kelas IIB Muntok, Kabupaten Bangka Barat Abdul Rasyid Meliala saat ditemui sejumlah awak media.
Kepala Rumah Tahanan (Rutan) Kelas IIB Muntok, Kabupaten Bangka Barat Abdul Rasyid Meliala angkat bicara pasca diamankannya dua warga binaannya oleh Sat Resnarkoba Polres Bangka Barat lantaran kedapatan nyabu di dalam rutan.
ADVERTISEMENT
Pihaknya mengaku kecolongan, hal ini diakibatkan karena keterbatasan SDM dan alat pengamanan di rutan.
"Kita ini dalam rangka pemeriksaan itu kita sangat teliti namanya kita juga manusia ada kekurangan dan kita juga tidak punya kelebihan di sini. Kita memang untuk pemeriksaan itu tidak ada alat untuk memindai seperti yang ada di bandara-bandara," ungkap Abdul kepada wartawan, Rabu (25/11/2020).
Menurutnya di era pandemi COVID-19 ini ada kebijakan untuk masyarakat tidak diperbolehkan membesuk secara langsung dan dialihkan lewat video call.
Namun Abdul menjelaskan karena hampir 80% penghuni warga binaan adalah warga lokal maka ada kelonggaran dan toleransi kebijakan untuk dapat menjaga hubungan baik dengan masyarakat sekitar sebagai tujuan melayani masyarakat.
"Jangan nanti dengan adanya COVID-19 ini kami tidak melayani dengan cara melayaninya biasanya, kami di sini ada video call atau vidcon kepada keluarga dan warga binaan yang kami siapkan," tuturnya.
ADVERTISEMENT
Sebenarnya kata Abdul saat diberitahukan petugas ada masuknya narkoba tersebut dirinya langsung melakukan penggeledahan total sehingga setelah ditemukan dari napi tersebut langsung dikoordinasikan ke pihak kepolisian.
"Karena seumur hidup saya tidak pernah memakai sabu sehingga saya itu kurang paham, betul gak apakah ini garam atau ini sabu itu makanya pada saat saya temukan itu, langsung malam itu juga saya melaporkan ke Kasat Narkoba," ujarnya.
Abdul menyebutkan kelemahannya Rutan Muntok lantaran keterbatasan SDM. Satu petugas bisa mengawasi hingga 20 warga binaan sehingga kurang ketat dalam pengawasan.
"Jadi kami kalau satu regu ini ada lima orang berarti satu orang mengawasi 100 orang sedangkan isi kita 160 orang," ungkap Abdul.
ADVERTISEMENT
Abdul berharap kedepannya akan memperketat pengawasan dan serta mengimbau petugas agar jangan terlibat dalam pemakai, pengedar, atau pemakai narkoba karena apabila terlibat akan dipecat.
"Kalau saya perkirakan ini tidak ada orang dalam karena petugas kami sering melakukan tes urine," tukas Abdul.