Pencarian populer
PUBLISHER STORY
4 Maret 2019 2:33 WIB
0
0

Ribuan Anak di Babel Alami Stunting

Ilustrasi Stunting.(foto:kemenkes.go.id

PANGKALPINANG,babelhits.com -- Diperkirakan ribuan anak di Bangka Belitung mengalami stunting, mereka tersebar di 70 desa dan tujuh kelurahan.

Stunting adalah kondisi anak mengalami gangguan pertumbuhan sehingga menyebabkan ia lebih pendek dibandingkan anak seusianya. Banyak yang menganggap stunting bukanlah hal penting, lantaran penderita stunting akan terlihat sehat-sehat saja di lingkungan. Banyak pula yang tak tahu jika anak pendek adalah tanda dari adanya stunting.

Adapun rincian daerah stunting, yakni Pangkalpinang tujuh kelurahan, Bangka Tengah delapan desa, Bangka sembilan desa, Bangka Barat 25 desa, Bangka Selatan sembilan desa, Belitung Timur empat desa dan Belitung 15 desa.

Namun cukup sulit untuk mendapatkan data yang valid dan detail mengenai jumlah pasti anak yang mengalami stunting di Bangka Belitung. Kabid Kesmas Dinas Kesehatan Provinsi Bangka Belitung, Bahuri, ketika ditemui wartawan mengatakan untuk data stunting harus izin dengan gubernur. Hal yang sama juga dikatakan Kepala Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi (Kesgazi) Dinas Kesehatan Bangka Barat, Binadiawan. Untuk mendapatkan data bayi stunting di Bangka Barat juga harus izin gubernur.

Dari data yang ada, anak yang menderita stunting paling banyak terdapat di Kabupaten Bangka Barat, yakni 25 desa. Hal tersebut dibenarkan oleh Kasi Kesgazi Dinas Kesehatan Bangka Barat, Binadiawan.

Menurut Binadiawan, Kabupaten Bangka Barat sebagai satu-satunya wilayah di Bangka Belitung yang ditetapkan rawan stunting. Namun saat ditetapkan sebagai daerah stunting, pihaknya belum mengantongi data sehingga baru melakukan pendataan sejak riset kesehatan dasar (riskesdas) 2018.

Binadiawan mengungkapkan stunting di Bangka Barat sudah terjadi sejak tahun 2013 lalu namun sebelumnya belum terdeteksi.

"Kalau di riskesdas 2018 itu kita satu-satunya yang ditetapkan oleh Bappenas dengan sepuluh lokus hasil 2018 ini di 25 desa," kata Binadiawan.

Kasi Kesgazi ini menjelaskan jumlah anak stunting di Bangka Barat mencapai 548 anak yang berada di Desa Tanjung Niur, Kecamatan Tempilang dan Tanjung ular, Kecamatan Muntok.

Bina menuturkan salah satu penyebab stunting adalah malnutrisi, pola asuh dari orangtua yang salah, anemia ibu hamil, tidak ASI ekslusif, kurang gizi pada bayi bawah dua tahun dan penyakit infeksi.

"Kenapa kita fokus pada bawah dua tahun, stunting itu baru kelihatan pada umur dua tahun dan dampaknya permanen,” imbuh Bina.

Binadiawan menjelaskan beberapa bulan terakhir Dinkes Bangka Barat baru saja mengambil langkah-langkah untuk menangani stunting yaitu memberikan PMT (Pemberian Makanan Tambahan) untuk ibu hamil, menerjunkan dokter spesialis ke desa untuk diagnosis, melakukan penanganan perorangan, dan konseling.

Bina juga mengungkapkan kucuran dana yang telah dikeluarkan selama ini khusus untuk menangani masalah stunting mencapai Rp 200 juta.

"Kalau yang telah dikeluarkan tahun lalu kami itu lupa berapa, tapi sekitar hampir dua ratus juta. Karena waktu bendera stunting itu disematkan ke Bangka Barat, anggaran kita sudah selesai. Kita diberitahukan bulan Maret sedangkan anggaran ditetapkan pada tahun sebelumnya. Jadi kita menunggu APBD Perubahan dan dananya tidak banyak," tutur Bina.

Ditambahkan Bina pengajuan dana untuk mengatasi stunting tahun ini sudah diajukan dengan dana DAK.

"Kalau tahun ini lumayan sih, tujuh ratus lima puluh juta khusus penanganan untuk stunting," imbuh Bina.

Terpisah Bahuri selaku Kabid Kesmas Dinas Kesehatan Bangka Belitung menyampaikan untuk wilayang Provinsi Bangka Belitung yang menderita stunting cukup rendah, karena belum melebihi angka 20 persen.

“Kita secara nasional menggunakan standar kesehatan organisasi dunia atau WHO, jika sudah melebihi angka 20 persen secara nasional, maka sudah dikatakan tinggi dan terbilang cukup banyak,” kata Bahuri.

Bahuri mengatakan penanganan stunting yang dilakukan Pemprov Bangka Belitung dibagi menjadi dua, yakni yang sudah stunting dan pencegahan agar tidak terkena stunting.

"Kita memperkuat pola asuh bagi para ibu-ibu, tentu kita provinsi terlalu jauh rentang kendali untuk menjangkau ibu-ibu itu. Kita memperkuat juga dengan kabupaten dan puskesmas serta kader, bagaimana untuk menerapkan pola asuh dan memberi makanan yang baik,” tutur Bahuri.

Ditambahkan Bahuri, stunting itu bisa jadi mulai dari remaja, karena kebanyakan masa remaja belum habis tetapi sudah berbadan ganda, jadi kebutuhan gizi yang dimiliki kurang baik. Hal ini diperparah oleh faktor lingkungan.

“Bagaimana kebiasaan mencuci tangan menggunakan sabun, menjaga kebersihan diri di kehidupan sehari-hari. Dari usia remaja kualitasnya bisa menentukan tinggi rendahnya angka stunting di kemudian hari,” kata Bahuri.

Adapun upaya penyuluhan untuk mencegah stunting, diantaranya dengan memberikan tablet tambah darah kepada setiap remaja dan ibu hamil. Namun kendalanya masyarakat masih menganggap remeh stunting.

“Sayangnya banyak obat yang diberikan pemerintah namun tidak diminum masyarakat. Dan pemerintah menyarankan masyarakat untuk selalu menjaga kesedian air bersih dan memanfaatkan pekarangan rumah dengan menanam sayuran,” tukas Bahuri.(*)

Penulis: tim babelhits

Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.36