Ketika Suami Baby Blues, Ini Cara Saya Menanganinya

The trusted and resourceful media for pregnancy & maternity in Indonesia. Our vision is to make The Journey beautiful and enjoyable!
Tulisan dari Babyologist tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ketika Suami Baby Blues, Ini Cara Saya Menanganinya
Di journey sebelumnya, aku pernah cerita kalau aku sempat terkena syndrome baby blues saat kelahiran anak ke dua karena tekanan dan Mom shaming yang aku dapati dari orang sekitar.
Sebenarnya ini rahasia sih kalau suamiku juga sempat terkena baby blues setelah kelahiran anak pertama. Tapi aku ingin berbagi pengalaman kepada Moms semua, tentang bagaimana awal suamiku terkena baby blues dan bagaimana aku menyikapinya.
Saat anak pertama kami lahir, dia terlihat cemas sekali. Kerjaannya cuma melongok si baby yang ada di keranjang bayi. Untuk mengendong saja dia takut sekali. Aku sampai paksa-paksa untuk mengendongnya. Dia cuma bilang "Takut Nangis ma." Nah, foto yang ada di cover artikel ini adalah momen akhirnya suamiku mau menggendong anaknya, tangan kaku, wajah kaku. Dan setelah berhasil difoto untuk dokumentasi, suamiku terlihat semakin gelisah.
Tadinya aku pikir ini hal wajar karena ini merupakan pengalaman baru untuknya, besok juga pasti tidak akan sekaku ini. Ternyata aku salah. Suamiku terlihat semakin takut dengan anaknya sendiri. Sampai-sampai pas anaknya pup dia malah langsung lari ke ruang perawat untuk segera minta tolong anaknya dibersihkan. Padahal aku sudah bisa membersihkan kotoran anakku sendiri saat itu.
Dan aku tahu kalau suamiku ternyata terkena baby blues setelah membaca sebuah artikel yang mengatakan kalau suami juga bisa terkena syndrome baby blues.
Selama terkena baby blues, suami jadi bersikap aneh seperti hilang semangat, cepat panikan, takut gendong si baby, jijik dengan kotoran si baby, pusing dan panik saat mendengar suara tangisan si baby. Dan cepat menyalahkan istri jika terjadi sesuatu pada si baby.
Ternyata baby blues ini menyerang suamiku karena mindset kalau dia belum siap menjadi seorang ayah, dia takut melukai anaknya yang kecil, dan dia takut anaknya tidak suka digendong olehnya karena tidak nyaman.
Tips dariku untuk meringankan dan menyudahi syndrome baby blues pada suami:
1. Memberi suami support dengan kata-kata penyemangat dan meyakinkan kalau dia bisa menjadi ayah yang baik. Seperti berkata " kamu adalah papanya, dia harus berlindung cuma sama papanya bukan orang lain. Kamu sekarang sudah menjadi papanya dan kamu adalah yang terbaik."
2. Sering memberi waktu untuk si papa berdua dengan si baby. Saat aku mencuci pakaian si baby atau saat pumping, aku pasti minta tolong suami untuk menemani si baby di kamar. Dan membiarkan mereka bersama tanpa diganggu.
3. Lebih sering melibatkan suami pada kegiatan merawat si baby. Saat memandikan, memakaikan baju, mengganti popok, sebisa mungkin aku selalu melibatkan suami dan sambil mengajari cara-cara tersebut kepadanya.
4. Apa pun yang suami lakukan bersama si baby, selalu berikan pujian. Misal suami sudah mau mengendong dan menemani si baby begadang, jangan lupa kita ucapkan terima kasih dan pujian seperti "papa hebat banget nemenin Dede semalam. Pasti Dedek senang banget deh."
5. Beri suami kepercayaan dan kesempatan untuk merawat si baby tanpa menghakiminya. Jika suami ingin menggantikan popok anak, maka izinkanlah dan jangan banyak koreksi, biarkan suami melakukan dengan caranya. Misalkan ada yang salah, beri tahu suami perlahan dan bantu ia memperbaikinya. Bukan menghakiminya.
Perlahan dengan hal tersebut, tumbuhlah rasa percaya diri suami dan tumbuhlah juga nalurinya untuk menjadi seorang ayah yang baik dan hebat.
