Pencarian populer
USER STORY
26 Mei 2018 18:38 WIB
2
0

Kisah 4 Abdi Negara yang Membelot dari Tanah Airnya

Sosok tentara, prajurit atau agen mata-mata selalu identik dengan seorang yang taat kepada negaranya. Kewajiban sebagai seorang abdi negara membuat mereka harus selalu siap ketika negara memanggil untuk mengemban tugas di kala perang atau menjalankan misi rahasia. Tak pelak, jiwa dan raga pun pasti dipertaruhkan.

Kisah para agen mata-mata atau prajurit yang setia memang selalu disajikan dengan luar biasa, dengan maksud politis negara pembuatnya untuk menimbulkan propaganda atau memperkuat legitimasi. Sebut saja Rambo, sekuel yang menceritakan seorang prajurit Angkatan Darat Amerika Serikat dalam Perang Vietnam yang perkasa dan tak terkalahkan. Atau kisah agen mata-mata jebolan lembaga intelijen Inggris, James Bond yang berkharisma dan mendunia.

Namun, sekali lagi, film hanyalah film, setiap jengkal alurnya pasti sarat dengan unsur rekaan sutradara untuk mengejar kebutuhan pasar, dan sekali lagi, unsur politis. Kenyataannya kisah-kisah para abdi negara tersebut tak hanya dihiasi dengan aksi heroik dan bela negara yang membuat orang terbuai.

Ya, abdi negara juga manusia yang tetap memiliki hati dan perasaan yang dapat menimbulkan dilema dalam dirinya. Dalam sejarah, banyak prajurit atau agen mata-mata yang mengundurkan diri dari tugas negaranya, bahkan dalam banyak kasus mereka membelot dan mencari suaka politik ke lawan negaranya. Seperti 4 kisah abdi negara ini yang membelot dari tanah air mereka dan memberikan rahasia negara kepada lawan negara mereka. Siapa saja? yuk kita simak.

1. No Kum Sok, Pilot Tempur Korea Utara

Sumber gambar: Wikimedia Commons

Letnam No Kum Sok, seorang pilot pesawat tempur Angkatan Udara Korea Utara memang bukan sosok yang istimewa bagi negaranya. Seperti seorang prajurit negara komunis yang sedang berseteru dengan Korea Selatan dalam palagan Perang Korea (1950-1953), ia memiliki kewajiban untuk selalu taat dengan perintah the Great Leader of North Korea, Kim Il Sung. Namun, jauh di dalam benaknya, Sok sangat membenci salah satu pemimpin besar komunis itu.

Dilansir dari pri.org, pembelotan Sok dimulai pada 21 September 1953 ketika ia memutuskan untuk menerbangkan pesawat MiG-15 buatan Uni Soviet yang saat itu memang sedang diburu oleh pihak sekutu untuk diteliti teknologinya. Dari pangkalan udara di dekat Pyongyang, ia terbang menuju Kimpo Air Base di dekat Seoul, Korea Selatan. Dengan pengalaman lebih dari 100 misi terbang dengan MiG-15 dan rencana yang matang, Sok terbang melewati perbatasan atau Zona Demiliterisasi dengan kecepatan 1 Mach.

Ia tiba di Kimpo Air Base 17 menit kemudian tanpa terdeteksi radar milik Amerika Serikat dan perlawanan dari angkatan udara sekutu. Dengan tekat yang bulat dan nekat, ia mendaratkan pesawatnya di antara pesawat tempur F-86 sekutu dan turun dari kokpit sambil merobek gambar Kim Il Sung.

Aksi Sok merupakan yang pertama bagi warga Koreo Utara yang membelot ke Korea Selatan setelah Perang Korea. Dampak dari aksinya, Amerika Serikat mendapatkan peluang untuk meneliti teknologi MiG-15 yang menjadi saingan penempur F-86 dan membuka jalan bagi lahirnya pesawat tempur generasi selanjutnya. Setelah itu, Sok mendapatkan perlakukan khusus, tinggal di Amerika Serikat dan bertemu dengan ibunya yang lebih dulu membelot semasa perang.

2. Fritz Schmenkel, Tentara Nazi Kebanggaan Soviet

Sumber gambar: Wikimedia Commons

Kebencian Fritz terhadap rezim Hitler telah muncul sejak usianya masih muda. Ia lahir dari seorang ayah yang berideologi komunis dan sempat pernah bergabung dengan Persatuan Komunis Muda Jerman. Pada tahun 1923, tentara Nazi membunuh ayah yang dicintainya dalam demonstrasi kaum komunis.

Sejak masih menjadi warga Jerman, Fritz sudah menunjukkan sikap pemberontaknya kepada pemerintahan Nazi, seperti yang disebutkan dalam rbth. Ia pernah dihukum dan dipenjara karena menolak wajib militer pada tahun 1938. Ketika bebas, ia dikirim ke Front Timur dalam Perang Dunia kedua sebagai pengganti wajib militer sebelumnya.

Ketika dinas militernya telah tiba di wilayah Smolensk, Uni Soviet, Fritz kabur dari unitnya, bersembunyi di desa dan bersekutu dengan penduduk setempat. Kemudian ia diselamatkan oleh kelompok pembelot Jerman yang memburu tentara Nazi, "Death of Facism. Setelah masa-masa inilah, Fritz berperang kepada negaranya sendiri dan lambat laun sosoknya mulai diburu pemimpin Nazi dan bernilai tinggi.

Di sisi lain pihak Uni Soviet mulai memanfaatkan kemampuan Fritz yang dinilai mahir mengolah strategi untuk mematahkan perlawanan tentara Nazi. Pada Desember 1943 Fritz menjalankan misi terakhir sebelum kematiannya. Ia ditempatkan di Front Barat untuk misi sabotase di belakang garis perimeter Jerman hingga pada 22 Februari 1944 ia ditangkap dan dieksekusi oleh Nazi bersama dua rekan Jerman-komunisnya.

Sosok Fritz sempat dilupakan setelah perang dunia, namun pada tahun 1961 namanya kembali mencuat di publik Soviet setelah sebuah tim penyelidik mengumpulkan bukti sejarah unit partisan komunis yang membesarkan namanya. Dua dekade setelah kematiannya, Fritz dianugerahi penghargaan tertinggi Uni Soviet bergelar Hero of the Soviet Union and the Order of Lenin pada tahun 1964. Sontak dirinya menjadi terkenal, kisahnya dibukukan hingga difilmkan dan sebuah jalan di Berlin mengabadikan namanya.

3. Viktor Belenko, Pemecah Keraguan Amerika Serikat

Sumber gambar: Wikimedia Commons

Ada sebuah ungkapan Uni Soviet, "jika kamu ingin menjadi manusia super, jadilah pilot angkatan udara" , ungkapan itu nyatanya memang terjadi di Uni Soviet. Seorang pilot unit tempur khusus Uni Soviet, Viktor Ivanovich Belenko mendapatkan taraf hidup di atas rata-rata warga Soviet secara umum. Hidupnya sudah dijamin oleh negara, termasuk jaminan hari tua.

Di sisi lain, Belenko juga orang yang gemar berpikir dan berpendapat, sehingga muncul banyak tanya dibenaknya ketika Uni Soviet membuat propaganda bahwa Amerika Serikat selalu buruk, namun bukti informasi tentang negara Paman Sam yang ia dapatkan selalu bertolak belakang. Oleh karena itu, dalam wawancara dengan jurnalis videofact, Karen Reedstrom, Belenko beranggapan bahwa negaranya telah berbohong dengan rakyatnya untuk menutupi kebobrokan sebuah pemerintahan komunis.

Pada 6 September 1976, Belenko memutuskan untuk menjawab pernyataannya tentang dunia luar dan Amerika Serikat dengan membelot dari Uni Soviet menuju Bandara Hakodate, Jepang. Secara bersamaan, dunia sedang diselimuti perang teknologi antara Amerika Serikat dan Uni Soviet yang memicu perlombaan teknologi militer. Ia menerbangkan pesawat tempur MiG-25 Foxbat yang menjadi senjata paling rahasis Soviet dan ditakuti oleh dunia barat.

Dalam sebuah misi pelatihan terbang grup, Belenko memisahkan diri dari formasi dan mengarahkan moncol pesawat tempurnya menuju Jepang. untuk menghindari radar Soviet, ia harus terbang sangat rendah, sekitar 30 meter di atas permukaan laut. Ketika ia sudah berada cukup dekat dengan wilayah udara Jepang, Belenko kembali terbang hingga 6000 meter agar dapat dideteksi oleh radar Jepang.

Dilansir dari BBC, Belenko dapat mendarat dengan selamat di ujung landasan, meskipun sebelumnya dibayang-bayangi oleh dua jet F-4 Panthom Amerika. Pembelotan Belenko sontak menjadi keuntungan terbesar bagi unit intelijen Amerika, CIA, karena setelah usaha yang selama bertahun-tahun untuk memburu informasi tentang MiG-25 Foxbat, secara kebetulan Belenko membawa keberuntungan besar bagi Amerika Serikat.

Setelah aksi pembelotannya, Belenko diberikan tempat yang istimewa di Amerika Serikat, diberikan hak kewarganegaraan, bekerja sebagai konsultan penerbangan militer. Sementara itu, Amerika Serikat telah menemukan jawaban yang mengecewakan tentang MiG-25 yang selama ini mereka anggap memiliki superioritas udara yang tinggi. Dalam buku John Barron berjudul Kisah MiG-25 dan Pembelotan Viktor Belenko, para peneliti yang membongkar MiG-25 yang dibawa Belenko menemukan fakta bahwa MiG-25 tidak lebih dari sekadar baja dengan kumpulan kabel dan bertenaga roket yang ketinggalan zaman.

4. Rahmat Shigeru Ono, Perumus Taktik Perang Gerilya

Sumber gambar: youtube.com

Ketika Perang Kemerdekaan Indonesia telah usai, banyak serdadu Jepang yang masih terisolir di Indonesia dan tidak dapat kembali ke negerinya. Dalam keadaan tersebut praktik Harakiri atau bunuh diri untuk memulihkan kehormatan di kalangan serdadu Jepang itu kerap terjadi. Kondisi ini sempat dialami oleh salah satu serdadu Jepang yang akhirnya membelot kepada Indonesia, Shigeru Ono.

Watak kejam dan tak kenal ampun memang melekat erat pada para serdadu Jepang selama Perang Asia Timur Raya (1943-1945). Namun, anggapan tersebut tidak nampak di dalam diri Shigeru yang memutuskan untuk mengabdikan dirinya kepada Indonesia setelah perang kemerdekaan berakhir. Dalam buku Mereka yang Terlupakan: Memoar Rahmat Shigeru Ono, Bekas Tentara Jepang yang Memihak Republik karya Eiichi Hayashi, Shigeru mengatakan “Indonesia sudah banyak membantu Jepang. Kami ingin memberikan yang tidak bisa dilakukan oleh negara kami."

Dalam masa pengabdiannya tersebut, Shigeru menambahkan kata "Rahmat" di depan namanya, untuk menyamarkan identitas dan dapat membaur dengan masyarakat. Ia pernah ditugaskan melatih pejuang muda Indonesia di Yogyakarta. Dalam masa-masa survival, ia berjuang bersama bekas serdadu Jepang lainnya untuk membantu pejuang Indonesia menyerang markas KNIL di Mojokerto pada Juni 1947.

Pada tahun 1948 Shigeru bersama 28 orang eks serdadu Jepang membentuk Pasukan Gerilya Istimewa (PGI) untuk membela diri pasca Perjanjian Renville. Dalam perjanjian itu, ada poin yang menyebutkan untuk menangkap bekas serdadu Jepang yang masih bertahan di Indonesia. Keberadaan pasukan ini sempat dinilai merugikan pemerintah Indonesia di muka Internasional, namun PGI berdalih bahwa Belanda lebih sering melanggar perjanjian.

Shigeru memiliki peran penting dalam kemiliteran Indonesia. Ia pernah ditugaskan menyusun buku taktik perang gerilya atas perintah Kolonel Zulkifli Lubis. Buku inilah yang menjadi salah satu acuan para pejuang dalam bergerilya melawan tentara Belanda saat Agresi Militer pertama dan kedua.

Setelah masa perjuangan, Shigeru menetap di Malang dan memiliki keluarga. Ia sempat bekerja sebagai pegawai di Jakarta dan Kalimantan hingga pensiun pada tahun 1995. Ia menghabiskan masa hidupnya dengan bertani hingga wafat pada 25 Agustus 2014.

***

Itulah 4 kisah singkat para abdi negara yang berasal dari latar belakang bidang militer yang berbeda. Kisah mereka dapat sedikit membuka pandangan masyarakat bahwa menjadi seorang yang mengabdi kepada negara tidaklah mudah. Melalui sejarah kita dapat memahami bahwa setiap pengabdian kepada negara tidak selalu diikuti dengan aksi heroik atau kepahlawan. Karena sejatinya, abdi negara tetaplah manusia biasa yang dapat menuntut hak keadilan ketika negaranya sendiri tidak dapat memenuhinya.

Sumber:

Barron, John.1989. Kisah MIG-25 dan Pembelotan Viktor Belenko. Jakarta: Mitra Utama.

Hayashi, Eiichi. 2011. Mereka yang Terlupakan: Memoar Rahmat Shigeru Ono, Bekas Tentara Jepang yang Memihak Republik. Jakarta: Ombak.

Rowe, Kenneth H. (No Kum-sok); Osterholm, J. Roger. 1996. A MiG-15 to Freedom. McFarland & Company Inc.

Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.23