News
·
2 November 2020 8:39

Kisah Suprapti, Guru SD di Jambi Ajarkan Calistung Saat Pandemi

Konten ini diproduksi oleh Ahmad Syaiful Bahri
Kisah Suprapti, Guru SD di Jambi Ajarkan Calistung Saat Pandemi (91149)
Mengajar di tengah Pandemi - Tidak banyak yang tahu bahwa menjadi seorang guru di tengah pandemi harus berpikir kreatif dan luas. Suprapti melakukan itu semua, ia mengajar anak kelas satu baca tulis berhitung (calistung) di daerah yang dekat dengan perkebunan sawit. (foto: Tanoto Foundation).
Suprapti (48) SDN 92/V Gemuruh, Tanjung Jabung Barat, Jambi, merasa prihatin dengan anak-anak kelas 1 yang tidak memiliki handphone, sehingga sulit memiliki kesempatan belajar daring.
ADVERTISEMENT
Ia setiap hari harus menerima siswa yang ingin belajar, terutama memperlancar baca tulis dan berhitung.
Setelah Pemerintah mengumumkan siswa harus belajar dari rumah untuk mencegah penularan Covid-19, Suprapti mulai menyusun jadwal pembelajaran jarak jauh (PJJ) dengan memanfaatkan grup WhatsApp paguyuban kelas.
“Awalnya menggunakan WA karena murah meriah, namun ya itu kendalanya tidak setiap orangtua punya Handpone,” ujar Suprapti yang juga fasilitator daerah Program PINTAR Tanoto Foundation.
Ia menyadari pembelajaran daring ini memerlukan dukungan orangtua.
“Pertama saya prioritaskan pertama adalah berkomunikasi, termasuk saya datangi rumah mereka, saya juga meyakinkan orangtua siswa untuk mendukung kebutuhan belajar dari rumah bagi anak-anaknya,” tukas Suprapti, Sabtu, (31/10).
Namun, karena tidak semua siswanya memiliki handphone, Ia mengajak siswanya yang tidak memiliki gawai tersebut untuk belajar di teras rumahnya.
ADVERTISEMENT
Manfaatkan Teras Rumah untuk Belajar
Sebagai fasilitator kelas awal Tanoto Foundation, ia banyak memiliki strategi dan media untuk membuat anak cepat membaca, yang terpenting baginya anak tersebut mau belajar.
“Mulai dari pengenalan huruf, suku kata, dan kata, karena siswa masih kelas satu, jadi harus pelan-pelan, tidak boleh buru-buru,” katanya lagi.
Karena kebanyakan orangtua siswa adalah buruh kelapa sawit dan memerlukan dukungan dari Suprapti, mereka memasrahkan untuk belajar calistung (membaca, menulis dan berhitung kepada suprapti.
“Waktunya dibagi, dan tidak semua, jadi saya petakan dulu mana yang belum benar benar bisa membaca, tidak saya gabungkan,” ujarnya.
Suprapti juga membagi beberapa shift agar tidak berkumpul banyak-banyak.
“Yang saya utamakan siswa yang tidak memiliki handphone, karena tidak bisa belajar daring kan,” katanya.
ADVERTISEMENT
Jadi harus benar-benar selektif, karena niat mulia Suprapti ini harus diapresiasi, menyediakan waktu dan teras rumahnya menjadi tempat belajar bagi siswa yang baru masuk sekolah dasar.
Bergantian Belajar
Pagi hari biasanya ada satu sampai dua shift. Setiap shift berisi tiga orang. Mereka dengan sabar bergantian agar tidak berjubel. Selain itu, Suprapti juga tetap mematuhi protokol kesehatan sesuai anjuran pemerintah.
“Pakai masker dan jaga jarak itu wajib, saya sampaikan ke orangtuanya. Juga tidak bersalaman dulu dengan siswa,” ujarnya.
Materi yang diberikan Suprapti seperti pengenalan huruf, menggunakan kartu huruf, lalu meningkat ke suku kata, sampai kata.
“Saya bagi juga, ada membaca terbimbing, lalu membaca bersama, namun sebagai dasar saya mengenalkan materi huruf, suku kata dan kata dulu, sampai memahami makna kata per kata,” ujarnya mantap.
ADVERTISEMENT
Seperti pagi itu ia mengajar Bilqis Sidqia, Muhammad Fadli, Azka Al Riziq, Suprapti merasa senang karena mereka sudah bisa membaca.
“Tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata manakala murid kita bisa membaca dengan lancar,” katanya.
Bagi Suprapti, siswa lancar membaca adalah pondasi untuk ke kelas berikutnya, karena dengan membaca siswanya akan lebih banyak tahu ilmu pengetahuan.
“Siswa lebih percaya diri juga,” tutupnya