kumparan
8 Juli 2019 16:44

BKSDA dan Karantina Sidak Lokasi Penjualan Satwa Dilindungi

WhatsApp Image 2019-07-08 at 15.50.07.jpeg
Pihak BKSDA melakukan sidak. Foto:Jeje/Balleo News
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Papua Barat bersama Balai Karantina Satwa Sorong, dan DPRD Kota Sorong melakukan sidak di sebuah karaoke, di jalan Sungai Meruni, Kota Sorong yang diduga menjadi tempat penangkaran dan perdagangan satwa dilindungi, secara ilegal. Selain satwa-satwa endemik papua, satwa-satwa dari luar negeri, juga diperjual belikan di tempat tersebut.
ADVERTISEMENT
Ditempat yang diduga lokasi penangkaran dan perdagangan satwa dilindungi secara ilegal tersebut, BKSD Papua Barat dan Balai Karantina Satwa Kota Sorong, menemukan sembilan ekor satwa yang dilindungi, masing-masing, Akatua Koki, Kakatua Raja, Nuri Kabare, Mambruk Ubiat, Kakatua Jambul Kuning, dan Anakan Rusa Timor.
Selain itu, ditemukan juga satwa-satwa yang bukan berasal luar negeri, seperti monyet mini, yang diduga berasal dari hutan Amazone, Amerika Burung Makaw Scarlet Kucing Karacal atau Kucing Afrika, Kucing Anggora, dan satwa yang tidak dilindungi, seperti Biawak, Iguana Hijau dan Kuning dan Betet Kelapa Paruh Besar.
WhatsApp Image 2019-07-08 at 15.50.08.jpeg
BKSDA menmukan satwa tang dilindungi di Kota Sorong. Foto: Jeje/Balleo News
Satwa-satwa ini dipelihara dalam kandang, sementara Monyet Mini dan Kucing Karakal dipiara dalam ruangan khusus, dilengkapi pendingin udara. Lokasi penangkaran dan penjualan satwa dilindungi ini, tepat berada di samping rumah karaoke double O.
ADVERTISEMENT
Menurut Kepala Karantina Kelas 1 Sorong, I Wayan Kertanegara, diduga hewan-hewan ini diperdangankan di tengah laut menggunakan kapal. Pihaknya masih berkoordinasi dengan Polda Papua Barat, yang membongkar prdagangan satwa dilindungi tersebut, untuk mengetahui jalur perdagangan satwa-satwa tersebut.
"Barang-barangnya luar bisa ini bahkan dari luar negeri. Kemungkinan besar ada di tengah laut. Sebelum sandar kapal itu. Disitu akan kami telusuri. Kami harus gali ini dari pemilik, akan berantai ini tidak mungkin kami selidiki tanpa ada yang menjelaskan, memberikan informasi," jelasnya.
Lewat kuasa hukumnya, Managemen Rumah Bernyanyi Double O, menegaskan bukan pemilik usaha penangkaran dan perdagangan satwa ilegal tersebut. Pihak pengelola yang masih diharasiakan identitasnya ini, hanya meminjam lahan di samping rumah karaoke tersebut untuk menjalankan usahanya.
ADVERTISEMENT
WhatsApp Image 2019-07-08 at 15.50.07 (1).jpeg
Tempat bernyanyi Doubel O Sorong. Foto: Jeje/Balleo News
"Kalau kepemilikan bukan Double O. Ada oknum Double O yang ingin memelihara hewan-hewan cuman dalam posisi keabsahan bukan Double O,"Tegas Muhamad Husni Sater, Senin siang (08/07) di Pengadilan Negeri Sorong.
Pihak BKSDA masih berkoordinasi dengan Polres Sorong Kota dan Polda Papua Barat yang membongkar praktek penjualan hewan ilegal tersebut, untuk segera mengevakuasi satwa-satwa ini, untuk dilepas liarkan. Sementara pemilik penangkaran dan perdagangan satwa ilegal ini, sedang berada di luar daerah, dan belum memenuhi panggilan polisi, untuk dimintai keterangannya.
Pemilik usaha ilegal ini, akan dijerat dengan pasal 20 ayat 1, undang-undang nomor 5, tahun 1990, tentang konservasi sumber daya alam hayati, dan ekosistimnya, dengan ancaman pidana penjara selama lima tahun, dan denda sebesar seratus juta rupiah.
ADVERTISEMENT
Pewarta: Jeje
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab publisher. Laporkan tulisan