kumparan
5 Sep 2019 17:02 WIB

BRF 2019 Diharapkan Bisa Mencegah Hoaks

Foto: Assyifa
BANDUNG, bandungkiwari - Kota Bandung memiliki berbagai komunitas ataupun kegiatan yang pro literasi. Hal ini disebutkan oleh Koordinator Program Bandung Readers Festival (BRF) 2019, Galuh Pangestri Larashati. "Dan saya pikir Bandung Readers Festival ini, di situ tempat kita untuk ketemu bareng," ujar Galuh saat ditemui di Institut Francais Indonesia (IFI) Bandung, Rabu (4/9).
ADVERTISEMENT
Galuh menambahkan, bahwa festival literasi, dalam hal ini BRF 2019, bukan satu-satunya hal yang berperan dalam peningkatan taraf literasi masyarakat. Pada dasarnya, sudah banyak kegiatan serta semangat literasi di Kota Bandung. "Saya tidak setuju kalau dibilang, bahwa tingkat literasi masyarakat Bandung itu rendah," tutur Galuh.
Selain menjadi tempat pertemuan bagi para pecinta literasi, terdapat berbagai hal lain yang menjadikan BRF 2019 penting untuk diselenggarakan. Salah satunya adalah maraknya penyebaran hoaks pada era ini. Sehingga, BRF 2019 diharapkan dapat mengasah ketajaman berpikir dari konsumen literasi dalam membaca suatu teks.
Selain itu, Galuh juga menyebutkan, ketika seseorang bisa membaca dengan baik, maka bisa dipastikan orang tersebut juga bisa menulis dengan baik. Kegiatan ini pun diharapkan tidak hanya berakhir sebagai sebuah acara (event), tetapi juga bisa menjadi sebuah gerakan (movement).
ADVERTISEMENT
"Kita berencana event ini tidak berhenti sebagai event saja, tapi membuat program-program yang melahirkan produk, apakah itu dalam bentuk buku ataupun orang, penulis-penulis kita angkat," ungkap Galuh.
Acara yang diselenggarakan di IFI Bandung, NuArt Sculpture Park, Rumah The Panasdalam, Abraham and Smith HQ, serta Museum Gedung Sate ini memiliki berbagai keluaran yang diharapkan. Secara jangka pendek, masyarakat diharapkan bisa merayakan perayaan dari BRF 2019 ini.
Selain itu, semangat literasi pun diharapkan bisa semakin meningkat melalui festival ini. Tak hanya itu, Galuh juga menyebutkan, melalui acara yang baru pertama kali dilaksanakan ini, masyarakat, utamanya pecinta literasi, diharapkan dapat tergerak untuk terus berkumpul dan bekerja sama ataupun berkolaborasi.
BRF 2019 sendiri hadir membawa sekitar 22 tema diskusi, talkshow, ataupun workshop. Berpayung tema perubahan cara membaca di era digital, berbagai topik diskusi dan workshop pun digagas. Seperti topik difabel, perempuan, buku anak, penerbit, dan masih banyak lagi.
ADVERTISEMENT
"Kenapa kita melibatkan difabel, karena mereka yang paling membutuhkan tools dalam membaca. Kenapa perempuan? Karena suara-suara perempuan harus didengar dengan banyaknya medium membaca sekarang yang sangat mudah dan instan seharusnya suara perempuan makin naik," jelas Galuh.
Acara yang akan dilaksanakan hingga Minggu (8/9) ini pada dasarnya disiapkan dalam waktu yang singkat, yaitu sekitar empat bulan. Meski hanya memiliki waktu yang singkat, tetapi penyelenggara memilih untuk tidak mundur agar tetap terlaksana dan mendapatkan perhatian publik. "Prinsip kita harus jadi dulu," ucap Galuh. (Assyifa)
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan