kumparan
12 Des 2018 12:50 WIB

Curhat Difabel soal Akses Ibadah: Bertemu Tuhan Saja Sulit

Penyandang disabilitas netra melakukan salat di masjid Ummi Maktum area PSBN Wyata Guna Bandung
ADVERTISEMENT
BANDUNG, bandungkiwari - Aura perayaan Hari Disabilitas Internasional (HDI) masih terasa hangat di area Panti Sosial Bina Netra (PSBN) Wyata Guna, Jalan Padjadjaran, Bandung. Tempat di mana siswa disabilitas netra belajar merengkuh beragam ilmu untuk kemandirian hidup.
Di balik keceriaan dan gelak tawa yang kadang diselingi kemarahan karena trotoar rusak dan tidak mendukung pejalan kaki difabel, benih harapan masa depan yang ramah untuk penyandang disabilitas masih hadir.
Namun, di sela perayaan HDI itu tercetus percakapan tentang rumah ibadah yang mudah diakses untuk disabilitas. Percakapan khas ala aktifis disabilitas yang tak lepas dari kopi ini mengingatkan pentingnya rumah ibadah sebagai sarana pembentukan karakter individu.
Penyandang disabilitas netra melakukan wudu di masjid Ummi Maktum area PSBN Wyata Guna Bandung. (Foto: Agus Bebeng/Bandungkiwari)
ADVERTISEMENT
Ibadah tentu merupakan hak warga negara yang dilindungi Undang-Undang tanpa terkecuali penyandang disabilitas, sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing. Melakukan peribadatan di rumah-rumah ibadah yang merupakan bagian ruang publik, terkadang memang tidak memiliki aksesibilitas untuk para penyandang disabilitas.
Hal tersebut diungkapkan Suhendar penyandang disabilitas netra di sela perayaan HDI di PSBN Wyata Guna Bandung, Selasa (11/12/2018).
Menurutnya, di beberapa wilayah terutama di kota Bandung, sarana rumah ibadah belum dilengkapi dengan fasilitas yang memudahkan untuk penyandang disabilitas melaksanakan ibadah.
Penyandang disabilitas di luar masjid Ummi Maktum area PSBN Wyata Guna Bandung. (Foto: Agus Bebeng/Bandungkiwari)
“Contohnya seperti di Masjid Agung atau Masjid Al-Ukhuwah yang berdekatan dengan pemerintahan kota Bandung belum ada akses untuk kita. Semisal sarana wudu sangat sulit dijangkau teman saya pengguna kursi roda,” ucapnya.
ADVERTISEMENT
Suhendar berharap dengan semangat perayaan HDI, pemerintah mampu melakukan perubahan pada sarana ibadah agar dapat diakses penyandang disabilitas. Sehingga para penyandang disabilitas mendapatkan hak yang sama dalam beribadah dengan masyarakat umumnya.
"Salah satunya, semisal bagaimana teman tunarungu mampu mengetahui khotbah yang disampaikan dalam salat Jumat. Mungkin dengan layar besar yang berisi running teks naskah khotbah Jumat,” tegasnya.
Penyandang disabilitas netra siap melakukan salat di masjid Ummi Maktum area PSBN Wyata Guna Bandung. (Foto: Agus Bebeng/Bandungkiwari)
Senada dengan Suhendar, Jumono atlet volly duduk yang keseharian menggunakan kursi roda, mengungkap persoalan yang hampir sama. Menurutnya rumah ibadah di kota Bandung masih sangat sedikit memberikan kemudahan untuk penyandang disabilitas beribadah.
“Keinginan kita tentunya bisa beribadah tanpa hambatan, gangguan dalam rangka kemandirian untuk bisa beribadah sesuai agama dan keyakinan masing-masing,” ucap Jumono.
ADVERTISEMENT
Dalam persoalan salat di luar rumah, Jumono mengungkapkan masih sulit bagi dirinya untuk mampu melaksanakan ibadah disebabkan sulitnya mencapai tempat wudu.
Jumono mencontohkan ketika dirinya pernah mencoba salat di Masjid Agung, tetapi kendala utama mencapai tempat wudu yang demikian curam membuatnya enggan kembali ke masjid tersebut.
Penyandang disabilitas netra melakukan salat di masjid Ummi Maktum area PSBN Wyata Guna Bandung. (Foto: Agus Bebeng/Bandungkiwari)
Demi menghindari persoalan wudu ketika salat Jumat, Jumono selalu memutuskan melaksanakan salat Jumat di masjid yang berdekatan dengan rumahnya sendiri. Selain masjid, menurutnya beberapa rumah ibadah sampai saat ini belum memberikan kemudahan untuk para penyandang disabilitas.
Keinginan Jumono senada dengan Suhendar, ia berharap agar pemerintah memerhatikan pula persoalan aksesibilitas di rumah ibadah. Bukan hanya persoalan ruang publik yang selama ini digaungkan aksesibilitas, meski pada kenyataannya masih jauh dari harapan. “Bertemu Tuhan saja sulit,” seloroh Suhendar.
ADVERTISEMENT
Ucapan Suhendar melahirkan tanda tanya besar di langit-langit Bandung yang mendung. Suara kumandang azan mulai terdengar, beberapa disabilitas netra berjalan beriringan menuju masjid. Mereka meraba secara perlahan arah pintu dan menguatkan pendengaran menuju suara gemericik air.
Tiba-tiba terlintas lagu Iwan Fals yang berjudul “Semoga Kau Tak Tuli Tuhan”. (Agus Bebeng).
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·