kumparan
KONTEN PUBLISHER
6 Maret 2019 14:48

Eks Kalapas Sukamiskin Dituntut Hukuman 9 Tahun Bui

kalapas sukamiskin.JPG
Mantan Kepala Lapas Klas I Sukamiskin Wahid Husen. (Ananda Gabriel)
BANDUNG, bandungkiwari - Mantan Kepala Lapas Kelas I Sukamiskin, Wahid Husen, dituntut hukuman 9 tahun penjara dan denda Rp 400 juta.
ADVERTISEMENT
Wahid merupakan terdakwa perkara penerimaan suap dari sejumlah narapidana. Ia menyediakan fasilitas di dalam lapas kepada narapidana.
Jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Kresno Anto, menilai Wahid terbukti bersalah atas perbuatannya.
"Meminta majelis hakim menjatuhkan pidana selama 9 tahun dan denda Rp400 juta dengan ketentuan apabila tidak dibayar diganti dengan hukuman penjara 6 bulan," kata jaksa KPK, Kresno Anto, saat membacakan tuntutan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Bandung, Rabu (6/3).
Wahid dinyatakan terbukti bersalah sesuai dengan dakwaan pertama Pasal 12 Huruf b Undang-undang nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tipikor sebagaimana diubah dengan Undang-undang nomor 20 tahun 2011 tentang tipikor juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP juncto Pasal 65 ayat (1) KUHP.
ADVERTISEMENT
"Meyatakan terdakwa secara sah dan meyakinkan terbukti melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama sebagaimana dalam dakwaan primer," ucap jaksa.
Wahid sendiri menyatakan menghormati tuntutan jaksa KPK. "Saya hormati apa yang disampaikan jaksa KPK. Semua orang berharap mendapatkan hukuman seringan-ringannya," kata Wahid usai persidangan.
Selanjutnya Wahid akan menyampaikan nota pembelaan yang akan disampaikan pada sidang pekan depan.
Sepanjang surat tuntutan dibacakan Jaksa Penuntut Umum (JPU), Wahid yang mengenakan batik gelap tampak selalu menunduk. Ia terlihat fokus mendengarkan berkas tuntutan oleh JPU.
Wahid diduga menerima suap dari narapidana di Lapas Sukamiskin, salah satunya dari Fahmi Darmawansyah yang juga terdakwa dalam kasus ini. Atas pemberian tersebut, Fahmi yang merupakan suami dari Inneke Koesherawati itu mendapatkan sejumlah fasilitas.
ADVERTISEMENT
Fasilitas tersebut di antaranya bebas keluar-masuk lapas hingga membuat saung elit yang di dalamnya terdapat ruangan khusus yang digunakan untuk berhubungan suami istri. Selain digunakan Fahmi, ruangan itu disewakan ke napi lain. (Ananda Gabriel)
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab publisher. Laporkan tulisan