Pencarian populer

Kabar Miris dari Ruang Kreatif "Pelat Merah" di Bandung

Mural di Bandung Creative Hub, Jalan Laswi, Bandung. (Instagram bdg.creativehub)

BANDUNG, bandungkiwari – Sebuah artikel opini pada blog yang ditulis pegiat komunitas di Bandung menarik perhatian warganet. Artikel tersebut membahas sebuah gedung yang menjadi ruang kreatif di Bandung, tempat berkegiatan sejumlah komunitas.

Namun belakangan, menurut artikel yang ditulis Ayu Oktariani di blognya itu, kegiatan kreatif di gedung tersebut semakin berkurang. Salah satu penyebabnya adalah birokrasi yang rumit dan dugaan pungli alias pungutan liar. Padahal sejak awal pendirian gedung sudah direncanakan bahwa kegiatan komunitas tanpa dipungut biaya.

Ayu menulis blog tersebut dengan judul “Catatan di Ruang Kreatif Bandung”, Rabu, 02 Januari 2019 lalu. Sejumlah warganet banyak yang menebak ruang kreatif tersebut adalah gedung warna-warni Bandung Creative Hub yang berdiri di Jalan Laswi, meski dalam tulisan Ayu sama sekali tak disebut nama gedungnya.

Berikut adalah tulisan Ayu di blog sukamakancokelat.com:

Memasuki gerbang tahun 2019 saya dihadapkan pada situasi yang cukup menguras hati. Tadinya berencana untuk dituliskan di akhir tahun, tapi kok ya gak sanggup. Menunggu tenang terlebih dulu, menunggu reda, agar nantinya (semoga) isi dari tulisan ini tidak meledak – ledak. Tidak seperti air laut yang meluap kemudian merusak. Sebagai keterangan di awal, tulisan ini akan khusus berkisah tentang perjalanan saya di dalam sebuah ruang kreatif di kota Bandung. Yang mungkin untuk sebagian orang telah memahaminya, tapi demi kebaikan lebih banyak saya tidak akan menyebutkan beberapa nama.

Semuanya dimulai dari sebuah kesempatan yang diberikan oleh pemimpin terdahulu di kota ini kepada saya dan suami untuk ‘membantu’ mengembangkan konsep dan ide agar ruang kreatif ini menjadi ramai dan dapat digunakan sebagaimana mestinya. Saya kemudian mengelola social media milik ruang kreatif ini dan suami saya sebutlah menjadi coordinator kegiatan. Rasanya, bagi saya pribadi yang jauh dari dunia kreatif (bukan saya gak kreatif ya) merupakan sebuah kehormatan besar bisa mengisi ruang kosong. Bukan hanya mengisi, tapi diberi kesempatan untuk berinovasi.

Di awal ya tentu cukup kaget senang tapi ada juga kaget kecewanya. Karena ruang kreatif ini sangat kosong dan tidak punya konsep yang matang. Harus apa, bagaimana, mau kemana. Gak ada tujuan yang jelas. SOP sebagai landasan aturan tidak ada, pegawai pun sangat sedikit. Hanya beberapa orang yang mengisi pos pos penting seperti tim keamanan dan kebersihan. Selebihnya, dengan satu dan dua usaha kami berhasil menghimpun ‘bala bantuan’ dari begitu banyak ‘senior di dunia kreatif’ untuk mengisi ruang yang sangat kosong melompong ini.

Itulah hebatnya kota Bandung. Saya sempat berdecak kagum dengan solidaritas dan kecintaan mereka akan kota ini. Satu persatu kawan – kawan berdatangan dari mulai murni bala bantuan, sampai yang memang menyadari bahwa ruang ini adalah peluang yang sangat baik untuk dikembangkan bersama. Tanpa kita sadari, ruang ini merupakan bom waktu yang kapan saja bisa meledak. Seperti masuk ke dalam perut ikan yang sakit karena limbah di sungai.

Kami resmi bekerja di dalam ruang ini mulai bulan Februari 2018. Bersama kawan – kawan kemudian mengembangkan konsep, aturan, rekrutmen pegawai, konten promosi dan memperluas jaringan untuk kemudian lebih banyak orang kreatif dan masyarakat Bandung yang dapat merasakan manfaatnya. Its not easy, yes ofcourse. Saya pribadi bersama suami perlahan lebih banyak menghabiskan waktu di sana. Hampir setiap hari dari pagi hingga malam. Sepertinya, meramaikan ruang tersebut menjadi prioritas utama kami. Meninggalkan anak dan kadang lupa makan saking asiknya mengembangkan konsep. Dan ya, seperti yang kami harapkan roda dan mesin dalam ruang ini mulai bergerak perlahan seiring makin banyaknya kebutuhan akan ruang kreatif di Kota Bandung.

Semangat yang membuncah kerap memenuhi dada setiap kali melangkah masuk ke dalamnya. Tapi suara serupa detak jam terdengar samar lalu perlahan semakin jelas. Saya kemudian bertanya – Tanya, apakah suara – suara itu adalah hal yang ku takutkan. Apakah itu adalah pertanda bom waktu yang akan meledak.

Apakah saya sudah menyebutkan bahwa ruang ini milik pemerintah (as a clue haha). Maka warna ‘kepemerintahannya’ kemudian mulai muncul. Plat merah bisa saya bilang. Birokrasi kemudian menjadi hal paling rumit dan mengesalkan yang seringkali muncul. Aturan yang mengekang dan memberi batasan, membuat saya mulai berfikir semestinya ini tidak usah dijadikan sebagai ruang kreatif. Jadikan saja Mall. Kemudian mulailah muncul sosok – sosok yang semula bertopeng kemudian menampakan wajah aslinya. Memungut uang – uang yang kemudian mereka sebut sebagai uang penebus lelah atas bantuan yang sudah diberikan. Padahal sejak awal sebuah statement resmi menyebut – nyebut bahwa ruang kreatif ini bebas dari segala macam biaya dan pungutan. Semua akan ditanggung pemerintah, orang orang tinggal berkreasi saja. Menjadi laboratorium dan tempat belajar. Tapi malang tidak dapat diubah, PUNGLI kemudian bisa kami sebut menjadi budaya yang terbiasa di kalangan pemerintah. Kami para kroco – kroco tanpa seragam pemerintah yang ‘diperbantukan’ hanya bisa menelan ludah menyaksikan transaksi transaksi di bawah tangan, di balik pintu atau dalam gelap. Berbagai upaya kami coba lakukan untuk mengumpulkan bukti – bukti, namun hanya sedikit.. tapi ada. We have some to prove that they did something bad.

Kepentingan pribadi pun mulai bermunculan, tujuan mulia dirusak dengan melangkahi aturan. Mempersalahkan orang – orang yang risih dan terganggu dengan suara detak bom waktu tersebut. Hilang sudah rasa hormat saya pada mereka orang – orang berseragam yang ternyata dengan mudahnya dijilat oleh pihak – pihak yang tidak bertanggung jawab. Rasa tidak nyaman sudah mulai muncul, saya berkali kali menyampaikan kepada suami bahwa saya ingin sudahi saja. Ruang ini sudah tidak lagi menjadi rumah, hanya energy negative yang terasa kencang setiap saya melangkah masuk. Namun suami saya hanya bilang sabar, tunggu sampai kontrak kita habis saja.

Di penghujung tahun, saya memutuskan untuk tidak lagi menunjukan batang hidung saya. Saya menolak mengikuti aturan yang sudah mereka langgar terlebih dulu. Saya berharap akan dicari dan dipertanyakan. Namun tidak sama sekali. Mereka mungkin tidak peduli, yang mereka pedulikan adalah serapan anggaran dan tercapainya tujuan. Adanya laporan yang menunjukan betapa baiknya kinerja mereka para manusia berseragam. Sampai tiba harinya saya hendak menyerahkan surat pengunduran diri.

Saya tidak pernah menduga hal ini akan terjadi. Manusia manusia berseragam, secara ‘tiba – tiba’ mengumpulkan semua staff dan memanggilnya satu per satu. Menyerahkan sejumlah uang yang kemudian kami sebut sebagai Hak, beserta informasi bahwa per tanggal 31 Desember 2018 ini semua staff tidak diperpanjang kontraknya. Tidak ada angin hujan, sedikitpun petunjuk bahkan tidak diberikan kepada mereka. Padahal jauh hari mereka tahu betul bahwa ini akan terjadi. Namun dengan kasar mereka melakukannya tepat saat di hari terakhir tahun 2018. Bagi yang bekerja di ruang tersebut sebagai individu mungkin akan lebih mudah menyembuhkan luka pasca dirumahkan.

Tapi dapatkah kalian bayangkan untuk mereka yang membuat ruang di dalam ruang kreatif ini seperti membangun perpustakaan dari nol. Dari tidak ada satupun buku, hingga kemudian menjadi rumah. Mereka yang membangun design store dan bekerja sama dengan banyak pihak dengan produk produk inovatif. Mereka yang mengembangkan radio online dan telah membuat program rutin. They fuckin don’t care with the effort from the people who made this possible.

So this is the second day of 2019, dan saya merasa jauh lebih baik. Saya sudah ikhlas setelah menuangkan semuanya dalam tulisan ini. Saya ga tahu bagaimana kelanjutan ruang tersebut pada akhirnya. Tapi saya bersyukur dan berterima kasih atas pengalaman, pelajaran, teman baik dan segala kebaikan yang pernah ada. Mengisi tahun 2018 saya dengan begitu penuh kejutan. Terima kasih juga untuk teman – teman yang telah membantu saya dalam proses mengembangkan ruang kreatif tersebut. Selamat tahun baru ya!

Catatan Ayu di atas mendapat respos dari sejumlah warganet. Umumnya mereka menyesalkan dan prihatin dengan nasib yang menimpa ruang kreatif dan para pegiatnya di kota yang sering digadang-gadang sebagai kota kreatif. (Iman Herdiana)

Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: