kumparan
KONTEN PUBLISHER
1 September 2018 15:07

Kisah Sedih dari Boneka Puno dan Tala di IFI Bandung

Boneka Puno dan Tala, "aktor" Papermoon Puppet Theatre, di Auditorium pusat kebudayaan Prancis IFI Bandung, Jalan Purnawarman. (Foto: Iman Herdiana/Bandungkiwari)
ADVERTISEMENT
BANDUNG, bandungkiwari – Boneka-boneka putih bercahaya melayang-layang di atas panggung mengikuti irama musik instrumental. Tubuh-tubuh mereka menyala. Salah satunya boneka yang lebih besar, wajahnya bulat dengan pipi tembam. Irama musik membuat boneka-boneka tersebut terkesan misterius.
Adegan tersebut membuka pentas teater dengan lakon “PUNO (Letters To The Sky)” persembahan Papermoon Puppet Theatre, kelompok teater boneka asal Yogyakarya, di Auditorium pusat kebudayaan Prancis IFI Bandung, Jalan Purnawarman.
Puno merupakan boneka laki-laki setengah baya berambut keriting, tingginya kurang dari satu meter. Dia memiliki anak bernama Tala, boneka gadis kecil yang imut dengan rambut keriting sebahu, suaranya kecil dan terdengar lucu.
Puno orang tua tunggal, membesarkan putri kesayangannya itu dengan mengajaknya mencoba berbagai permaian, mulai bermain petak umpet, membeli es krim, dan komedi putar.
ADVERTISEMENT
Di sela membesarkan putrinya, Puno bekerja di balik meja kerja yang penuh sketsa-sketsa anak kecil. Sesekali Puno terbatuk. Tala sedih, Puno memberinya perahu kertas.
Di antara adegan Puno dan Tala, boneka gemuk dengan pipi tembam itu selalu hadir melayang-layang diiringi musik dengan nada menyedihkan. Ketika Puno mengerjakan sesuatu di meja kerjanya, ia kembali diserang batuk yang kali ini makin parah. Batuk itu membawanya tak sadarkan diri.
Ketika terbangun dari ranjang rumah sakit, Puno tak mampu lagi menyentuh, memeluk, apalagi menyapa Tala. Tala pun tak mampu melihat Puno. Selanjutnya Tala hidup sendirian bersama barang-barang peninggalan ayahnya, salah satunya perahu kertas. Tala menatap lugu ketika puluhan perahu kertas menggantung di langit-langit panggung.
ADVERTISEMENT
Kesedihan menjadi ujung kisah “PUNO (Letters To The Sky)” yang membius ratusan penonton yang memadati Auditorium IFI Bandung. Bersamaan dengan turunnya perahu, tepuk tangan panjang bergemuruh, sutradara yang juga pendiri Papermoon Puppet Theatre, Maria Tri Sulistyani, berdiri di atas panggung.
“Terima kasih sudah membagi 50 menit dalam hidup teman-teman dengan kami yang ada di sini mala mini,” kata perempuan yang akrab disapa Ria, tepuk tangan kembali membahana. Durasi lakon ini sekitar 50 menit.
Perahu-perahu kertas yang memenuhi langit-langit panggung adalah surat-surat dari orang-orang yang pernah kehilangan orang terkasih. Beberapa bulan sebelum membuat karya Puno, kata Maria, Papermoon Puppet Theatre mengundang siapa pun untuk menulis surat yang ditujukan kepada orang-orang tercinta yang telah meninggal dunia.
ADVERTISEMENT
“Kami bilang kalau kalian kangen sama mereka, pengin bilang sesuatu pada mereka, kirimkan surat pada mereka lewat kami, dan kami berjanji akan mengirimkannya ke langit,” tuturnya.
Hari ini, lanjut perempuan yang akrab disapa Ria, lewat pementasan Puno dan Tala, surat-surat mereka yang kehilangan telah dikirimkan ke langit. Menurutnya, orang-orang yang telah meninggal dunia itu tetap ada jika kita masih mengingatnya.
“Dan kita ternyata ga pernah sendirian. Kalau di antara teman-teman ada yang pernah merasakan lubang ketika kehilangan, kapal-kapal ini adalah bukti bahwa kita tidak pernah sendiri,” lanjutnya.
Ria lalu mempersilakan pengunjung mengambil foto Puno dan Tala, karena sepanjang pertunjukan pengunjung diminta tidak mengambil foto, atau bercengkerama dengan personel Papermoon. Pengunjung juga dipersilakan membaca surat-surat berbentuk perahu yang menggantung. Salah satu surat berbunyi, “Papa…. Apa kabarmu di sana? Semoga selalu bahagia bersama Mama dan Saudara yang lain. Di sini aku rindu, ingin bertemu meski sebentar saja…. Salam rindu yang tak kan usai.”
ADVERTISEMENT
“PUNO (Letters To The Sky)” merupakan lakon paling anyar garapan Ria bersama Papermoon Puppet Theatre. Sebelumnya, lakon ini dipentaskan 3 negara Asia Tenggara, Spanyol, dan Argentina. Setelah itu, Ria membawanya pulang kampung ke Yogyakarta (Juli 2018), Jakarta (24-26 Agustus 2018), dan IFI Bandung.
Di IFI Bandung, pementasan Puno digelar delapan kali pementasan sejak 30 Agustus - 2 September 2018. Dalam sehari, pentas dilakukan sore dan malam. Setiap kali pementasan, auditorium IFI Bandung dijejali lebih dari seratus orang penonton. Sebanyak 1.200 tiket yang disediakan panitia ludes terjual.
“PUNO (Letters To The Sky)” sejatinya lakon untuk anak dan orang tua. Selama pementasan, “aktor” Puno dan Tala dibantu empat orang aktor Papermoon Puppet Theatre yang mengisi suara boneka Puno dan Tala, menggerakkan mereka, sampai turut mengisi adegan. Interaksi antara boneka Puno dan Tala dan aktor juga diselingi canda-canda segar.
ADVERTISEMENT
Misalnya, ketika Puno dan Tala membeli es krim, aktor Papermoon Puppet Theatre yang berperan sebagai tukang es krim menawarkan es krim kepada Tala, namun ketika Tala mau es krim tersebut, ternyata sudah habis. Tala pun harus memilih es krim yang lain. Namun lagi-lagi es krim pilihan Tala itu sudah habis.
Dalam catatan perjalanan pementasan Puno dan Tala di berbagai panggung, Ria mencatat ada seorang anak perempuan memeluk ibunya kuat-kuat setelah pementasan usai, air mata seperti sulit berhenti mengalir dari matanya. Anak kecil lain menghampiri Tala seusai pementasan, memberikan boneka kecil itu pelukan hangat, sambil bertanya pada salah satu pemain, apakah Tala akan baik-baik saja.
“Kematian adalah hal yang seringkali dianggap tabu dibicarakan antara anak dan orang tua. Sampai setua apapun umur si anak, ia tetaplah anak-anak. Kehilangan orang tua, serenta apapun usianya, tetaplah kehilangan bagi seorang anak. Karya ini, mendudukkan penonton, tua muda, besar kecil, pada posisi yang sama. Bahwa kita sama sama anak dari orang tua kita, yang tak akan pernah siap kehilangan mereka,” tulis Ria. (Iman Herdiana)
ADVERTISEMENT
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab publisher. Laporkan tulisan