kumparan
1 Agu 2019 10:11 WIB

Mencari Kuliner Ikan Salmon di Bandung

Chef de Cuisine The Restaurant, Rizki Sabriyatna, memasak ikan salmon. (Mega Dwi Anggraeni)
BANDUNG, bandungkiwari – Salmon mungkin ikan yang masuk dalam “kasta” tertinggi, terlebih di Indonesia. Karena ikan ini bukan ikan lokal Indonesia. Meski begitu, ikan yang satu ini bisa diolah menjadi berbagai kuliner, termasuk dibumbui dengan rempah tradisional negeri ini.
ADVERTISEMENT
Di Bandung, mencari kuliner ikan salmon tidak mudah. Sebab biasanya kuliner ini hanya ditemukan di restoran hotel berbintang. Tidak mengherankan karena ikan salmon yang diolah biasanya didatangkan dari Norwegia atau Tasmania.
Salah satu restoran yang menyediakn ikan salmon ialah The Restaurant di The Trans Luxury Hotel, Bandung. Di restoran ini, salmon diolah menjadi menu fusion. Menggabungkannya dengan kuliner ala Mexico seperti Nopales atau karbohidrat dari kaktus dan Pico de Gallo yang terbuat dari campuran cabai hijau, bawang bombay, tomat, batang ketumbar, dan perasan jeruk lemon.
"Salmonnya hanya dipan-seared setelah dimarinate dengan garam dan black pepper," jelas Chef de Cuisine The Restaurant, Rizki Sabriyatna, di Bandung, Rabu (17/7).
Pan seared adalah salah satu metoda memasak sehat, dengan hanya menggunakan sedikit minyak. Agar kandungan vitamin tidak hilang, salmon cukup dipan-seared selama 15 menit, hingga warna dagingnya berubah menjadi lebih merah. Daging salmon yang membal artinya sudah siap dihidangkan, kata Rizki.
ADVERTISEMENT
Kuliner salmon juga disajikan di Santai All Dining, Mason Pine Hotel, Kota Baru Parahyangan. Di sini, salmon yang didatangkan dari Norwegia dipadukan dengan bumbu tradisional Indonesia.
Hidangan diolah di atas api kecil dengan menggunakan cabai merah, bawang putih dan merah. Sedikit lengkuas dan kunyit, sehingga menghasilkan hidangan berkuah merah khas Tanah Minang yang diberi nama Ikan Salmon Asam Padeh.
"Umumnya, ikan asam padeh menggunakan tongkol, tuna, atau tenggiri. Tetapi tekstur ikan tersebut lebih keras," kata Executive Chef, Henry Brahmana.
Henry kemudian menggantinya dengan salmon dari Norwegia. Selain memilki tekstur yang lembut, sehingga tidak membutuhkan tenaga ekstra untuk mengunyah, salmon juga memiliki kandungan gizi yang lebih tinggi.
Mengolah dengan cara tradisional ala Chef Henry juga dipercaya tidak menghilangkan kandungan gizinya, lantaran menyatu dalam kuah. Asal tidak diolah terlalu lama. (Mega Dwi Anggraeni)
ADVERTISEMENT
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan