kumparan
25 Agu 2019 9:29 WIB

Mencoba Hargai Profesi Seni

Pegiat Seni Reak saat beraksi (Foto-foto: Agus Bebeng/bandungkiwari)
BANDUNG, bandungkiwari - Suasana magis yang kerap menyelimuti Seni Reak serta stigma yang melekat pada pegiatnya sebagai ‘pembuat keributan’ memicu sejumlah kalangan, terutama dari agamawan tidak menyetujui kehadiran seni ini. Padahal tahun ini seni Reak menjadi satu dari 13 karya budaya Jawa Barat yang dinyatakan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Nasional atau Warisan Budaya Tak Benda Indonesia, berasal dari Jawa Barat.
ADVERTISEMENT
"Masalah agama memang pelik. Namun kalau langsung berdiskusi dengan pelaku Reak, mungkin mereka akan paham seni ini. Karena sebenarnya kita berkaitan dengan agama. Contoh, orang yang mengatur acara kan disebut Malim, yang berasal dari kata Mualim. Orang yang mengerti agama, atau penunjuk jalan," katanya.
Sejumlah persoalan ini mendorong Bah Enjoem mulai merangkai langkah profesional. Dia paham, tantangan berat atas hidup matinya seni ini bisa diatasi dengan manajemen yang baik. "Selama ini pengelolaan lingkung seni Reak diatur menurut pimpinan kelompok tanpa mengikuti konsep manajemen yang benar," katanya.
Akibatnya, kata dia, banyak lingkung seni Reak yang nasibnya tidak bertahan lama. Bahkan beberapa kelompok Seni Reak yang mulai digandrungi masyarakat, selalu berakhir dengan bubarnya kelompok tersebut.
ADVERTISEMENT
Ini diperparah dengan upah pegiat seni yang sangat kecil. Setiap seniman tradisi yang memainkan seni Reak, menerima upah yang masih jauh dari harapan. Misalnya, pada acara hajatan yang dimulai dari pagi hingga sore, biasanya mereka mendapat upah tidak lebih dari puluhan ribu rupiah. "Apalagi kalau dilihat dari sisi honor atau upah para seniman tersebut, sangat miris," ucap Bah Enjoem.
Hal tersebut tentunya tidak lepas dari nilai seni Reak itu sendiri di mata masyarakat, yang dianggap murah dan bisa digelar kapanpun.
Karena itulah, Abah Enjoem selalu mengajak para pelaku seni tradisi untuk mulai mengatur manajemen kelompoknya masing-masing. Hal ini menurutnya sangat penting untuk menjaga keberlangsungan seni pada masyarakat.
ADVERTISEMENT
"Saya mencoba untuk menaikkan nilai para seniman Reak. Semisal apabila mereka buruh kasar yang sehari mendapatkan honor 150 ribu rupiah. Saya ingin membayar mereka lebih dari itu. Saya ingin mereka pulang dengan bahagia. Kalau tidak begitu siapa lagi yang akan menghargai seni ini," tegasnya.
Seni Reak yang menurutnya sudah ada sejak abad 18 ini memang masih mampu bertahan hingga kini. Namun dalam perkembangannya, seni ini menghadapi tantangan tersendiri dari massa pendukung kebudayaannya dan jaman yang terus bergolak.
Pada kondisi seperti ini, seniman Reak terus bergerak seiring tetabuhan Dog-dog. Sound system yang didorong roda, melawan terjalnya tanjakan dan polisi tidur yang menghadang.
Angin perubahan lebih keras menerpa tubuh mereka. Pertanyaannya tentu sederhana, seberapa kuat mereka menghadapi tantangan jaman dan globalisasi yang terus mengepung dengan seribu anak panahnya?
ADVERTISEMENT
Akankah seni Reak, dihujam anak panah peradaban seperti Bisma di Kurusétra? (Agus Bebeng)
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan