News
·
4 November 2019 10:26

Mengukur Kepedulian terhadap Penyandang Disabilitas Berat

Konten ini diproduksi oleh BandungKiwari
Mengukur Kepedulian terhadap Penyandang Disabilitas Berat (27808)
Peluncuran Spice Indonesia di Kota Bandung, Minggu (3/11). (Foto-foto: Agus Bebeng/bandungkiwari)
BANDUNG, bandungkiwari - Wajah-wajah penasaran mendekat lebih seksama. Mencoba menyimak percakapan pembawa acara dan dua orang penyandang disabilitas berat yang duduk di kursi roda.
Mengukur Kepedulian terhadap Penyandang Disabilitas Berat (27809)
Minggu (3/11) pagi di area bebas kendaraan bermotor (CFD) Dago, Kota Bandung, manusia bergumul dengan sinar matahari. Di tengah hiruk pikuk ibu-ibu yang senam diiringi musik menghentak, pesepeda yang beristirahat, atau warga yang sekadar melahap sarapan, sejumlah pengguna kursi roda dan penyandang disabilitas berat berkumpul dengan ceria. Di salah satu outlet, tampak bahasa tubuh mereka menjadi magnit yang menarik perhatian pengunjung CFD.
Mengukur Kepedulian terhadap Penyandang Disabilitas Berat (27810)
Keberadaan sahabat penyandang disabilitas berat di area CFD merupakan kegiatan yang digelar berkaitan dengan peluncuran Spice Indonesia. Spice kependekan dari Severe and Profound Impairment Collective Empowerment, atau Pemberdayaan Kolektif Disabilitas Berat.
ADVERTISEMENT
Disabilitas Berat bisa disematkan pada seseorang yang mengalami satu atau lebih kedisabilitasan (keterbatasan fisik, psikis, maupun keduanya). Dalam aktifitas kesehariannya, dia perlu dibantu penamping atau Personal Assistant (asisten pendamping), agar mampu berinteraksi dengan lingkungan dan bersosialisasi bersama masyarakat secara aktif.
Mengukur Kepedulian terhadap Penyandang Disabilitas Berat (27811)
Spice Indonesia, merupakan komunitas atau ruang yang menjadi wadah interaksi dan silaturahmi bersama penyandang disabilitas berat, agar bisa saling menguatkan, berbagi pengalaman dan memberikan informasi yang dibutuhkan.
Pada acara pengenalan ini antara lain diisi ajakan agar masyarakat terlibat menjadi relawan untuk membantu menjadi pendamping, sekaligus menjadi bagian kampanye penyadaran. Relawan yang dibentuk Spice Indonesia merupakan sekelompok masyarakat yang merasa prihatin atas kondisi saat ini. Hal tersebut disebabkan karena belum adanya gerakan untuk menyuarakan isu disabilitas berat.
Mengukur Kepedulian terhadap Penyandang Disabilitas Berat (27812)
"Kita itu sangat prihatin dengan keadaan disabilitas berat yang menghabiskan waktu di dalam rumah. Hal itu mengakibatkan adanya stigma di masyarakat bahwa disabilitas itu malas dan tidak berdaya," ucap Ogest Yogaswara perwakilan Spice Indonesia.
ADVERTISEMENT
Ogest berharap kegiatan yang mereka selenggarakan di CFD ini bisa menjadi sarana penyadaran, pengetahuan maupun pemahaman bagi masyarakat terkait disabilitas berat. Dia menilai, selama ini pemerintah sudah memperlihatkan itikad baik. Namun dirinya sangat menyayangkan keberadaan penyandang disabilitas berat belum dimasukkan klasifikasi disabilitas.
Mengukur Kepedulian terhadap Penyandang Disabilitas Berat (27813)
Selama ini, menurutnya isu disabilitas Iebih banyak membahas disabilitas ringan. Bahkan Undang-undang Nomor 8 tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, menurutnya belum berpihak pada disabilitas berat. "Secara akses, yang mudah dirasakan disabilitas berat tentu akan mudah pula dirasakan semua orang" ujarnya.
Selain sebagai sarana penyadaran tentang disabilitas berat, Spice Indonesia diharapkan juga bisa menjadi sarana untuk pendataan para penyandang disabilitas berat. Selain itu bisa menjadi sarana untuk memberi kemudahan dalam berbagai aspek untuk penyandang disabilitas berat.
Mengukur Kepedulian terhadap Penyandang Disabilitas Berat (27814)
"Dalam persoalan aktifitas kita tidak bisa menggunakan transportasi publik, karena tidak ada. Selain itu menjadi sangat mahal, apalagi biaya pengobatan untuk penyandang disabilitas berat sangat tinggi" katanya.
ADVERTISEMENT
Acara sederhana yang diselenggarakan Spice Indonesia, Minggu pagi itu memang begitu bersahaja. Namuk dibalik kebersahajaan acara, ada rona bahagia terpancar di balik wajah mereka. Terutama silaturahmi yang mampu menguatkan rasa persaudaraan di antara mereka.
Acara memang telah berhenti. Namun memompa kesadaran memori kolektif masyarakat tentang keberadaan disabilitas berat, harus terus berjalan. (Agus Bebeng)