Pencarian populer

Pentas Tarian Hasil Penyadapan “Temu Enam Gaya Topeng”

Mahasiswa jurusan tari ISBI Bandung tampil pada gelar "Temu Enam Gaya Topeng" hasil penyadapan tari dari beberapa seniman tradisional. (Foto-foto: Agus Bebeng/Bandungkiwari)

BANDUNG, bandungkiwari - ‘Penyadapan’, kata ini tentu menjadi tanda tanya besar ketika yang ditampilkan merupakan pementasan tari. Cara pandang ‘menyadap’, bagi masyarakat awam tentu berpikir tentang proses pengambilan getah karet pada pohon karet.

Namun tidak demikian dalam pemaknaan Prodi Tari Fakultas Seni Pertunjukan ISBI Bandung angkatan 2015 -2016, ‘penyadapan’ merupakan proses belajar secara langsung mahasiswa jurusan tari di beberapa kelompok tari tradisi yang tersebar di Jawa Barat.

Para mahasiswa dididik untuk mendalami tarian, manejemen, bahkan membuat dokumentasi pementasan pada kelompok tari tradisi yang telah ditentukan, dengan istilah ‘nyantrik’ atau semacam magang.

Usai ‘nyantrik’ selama 3 bulan para mahasiswa tersebut diwajibkan untuk mementaskan proses penyadapan mereka di depan masyarakat luas dan para dosen.

Selain sebagai ujian akhir semester, kegiatan tersebut pun merupakan sarana para mahasiswa menimba ilmu tari secara langsung dari para seniman tradisi.

“Mahasiswa harus mengetahui, bagaimana tarian itu hadir di tengah masyarakat. Mereka harus belajar banyak tentang tradisi, meski tarian itu sederhana,” ungkap dosen tari, Mas Nanu Muda pada acara pementasan Kamis (27/12/2018) di Gedung YPK Bandung.

Lebih lanjut Nanu menjelaskan, bukan hanya aspek tarian yang dipelajari dari para pemilik sanggar atau kelompok tari. Namun mahasiswa harus pula memelajari aspek sosial yang berada di area kelompok tersebut. Sehingga pada akhirnya mahasiswa mampu membuat perbandingan tari yang lahir secara kultur masyarakat dan akademis.

“Bahkan kalau perlu mereka mempelajari juga laku spiritual yang terjadi di lingkungan itu,” tegasnya.

Hal tersebut memang diselenggarakan pihak ISBI Bandung sebagai upaya mahasiswa tari, mampu memberikan rasa hormat kepada para penari tradisi sekaligus menjadi ujung terdepan pelestarian tari yang tumbuh dan berkembang di masyarakat.

Pementasan yang diberi judul “Temu Enam Gaya Topeng” merupakan hasil ‘penyadapan’ mahasiswa tari di beberepa sanggar, seperti: Sanggar Topeng Margasari Kacrit Putra Tambun Kab. Bekasi, Sanggar Topeng Dewi Asmara Ijem Putra Kab. Karawang, Sanggar Topeng Sinar Sela Asih Kota Bekasi, Sanggar Topeng Kinang Putra Depok, Sanggar Topeng Pendul Kab. Karawang, dan Sanggar Topeng Putra Budaya (Nomir) Kota Bekasi.

Mahasiswa jurusan tari ISBI Bandung bersiap tampil pada gelar "Temu Enam Gaya Topeng" hasil penyadapan tari dari beberapa seniman tradisional. (Foto-foto: Agus Bebeng/Bandungkiwari)

Sementara untuk penyadapan kali ini para mahasiswa diajak memelajari beragam tari topeng diluar tari Topeng Cirebonan.

"Mereka harus mengenal bahwa ada tari Topeng di luar daerah Cirebon atawa Indramayu," ucap Nanu disela melihat pementasan.

Mahasiswa jurusan tari ISBI Bandung tampil pada gelar "Temu Enam Gaya Topeng" hasil penyadapan tari dari beberapa seniman tradisional. (Foto-foto: Agus Bebeng/Bandungkiwari)

Tentu untuk memelajari tari yang berkembang dalam ranah kesenian di masyarakat, hitungan bulan tidak akan menjadi tonggak pelestarian seni tari tradisi. Namun setidaknya ‘penyadapan’ dan kegiatan ‘nyantrik’ yang dilakukan para mahasiswa menjadi virus yang menyebarkan kecintaan pada seni tradisi. (Agus Bebeng)

Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.53